Showing posts with label Info Menulis. Show all posts
Showing posts with label Info Menulis. Show all posts

Thursday, 29 August 2013

Bikin Novel Romance yang Dicintai Penerbit

0 comments
Sejak hari minggu kemarin, rasanya tangan ini gatel banget pengen berbagi tips bikin novel romance yang dicintai penerbit ala editorku, Mas GRS di TL-nya. Tapi berhubung minggu tadi itu jadwal padat (harus kondangan ke nikahan 2 temen disambung lamaran camerku juga ^^) terus beberapa hari kemaren modem lemot banget, jadinya baru sekarang bisa kubagiin. Sekalian buat arsipku juga sih :D
 
Nah, katanya Mas GRS, tips ini berlaku untuk penerbit kebanyakan. Jadi bisa banget buat kita jadiin pegangan kalo mau lempar tulisan ke penerbit-penerbit yang nerima novel romance itu. Soalnya yang Mas GRS share ini juga berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri ketika nerbitin novel sejak tahun 2005, dan pengalaman kerjanya sebagai editor buku selama 3,5 tahun. Simak apa kata sang editor, yuk! ;)

1) Saya bakal bahas dg bedah 2 film (semuanya Hollywood), soalnya plot film biasanya strukturnya lebih enak buat belajar.

2) Filmnya: Music & Lyrics, dan Notting Hill. Kenapa? Soalnya film itu mewakili 2 plot besar yg biasanya dijadiin pondasi buat nulis romance.

3) Plot pertama, plot klasik: "Boy meets girl, boy loses girl, boy gets girl." Ini dipakai di film Notting Hill.

4) Namanya gitu bukan berarti karakter utama harus cowok. Bisa aja karakter utamanya cewek. Yg jadi fokus adalah tujuan.

5) Setiap mulai nulis, pertama kita bikin karakter utama. Lalu kasih dia masalah. Habis itu, tujuan muncul: nyelesein masalah.

6) Tujuan dlm plot model ini simpel: mendapatkan hati lawan jenis. Di Notting Hill, Will berjuang ngedapetin cinta Anna Scott.

7) Kebanyakan pemula masih belum ngerti bahwa karakter utama harus punya tujuan yg jelas. Tujuan sering disebut Story Goal.

8) Banyak yg sulit bikin ending. Biasanya krn tujuan karakter utama gak jelas atau terlalu absurd spt "menciptakan kedamaian."

9) Kedamaian seperti apa? Harus spesifik. Pembaca harus bisa mengira-ngira, spt apa kemungkinan endingnya.

10) Kalau tujuan utama sudah spesifik, kemungkinan endingnya cuma 2: karakter utama BERHASIL atau GAGAL mencapai tujuannya.

11) Ada jg ending yg kombinasi keberhasilan & kegagalan. Di Saving Private Ryan, Capt. Miller tewas setelah nyelametin Ryan.

12) Tujuan gak selalu harus menyelesaikan masalah. Bisa juga tujuan seperti: Adi ingin mendapat rangking pertama di kelas.

13) Ending novel romance seperti apa yg disukai penerbit? Jelas, happy ending. Bukan cuma penerbit, kebanyakan pembaca juga.

14) Ibaratnya, nonton tim bola kesayangan. Lo pasti pengen tim kesayangan lo menang kan? Gimana perasaan lo kalo tim lo kalah?

15) Sekali lagi, ini umumnya. Ada jg sih cerita yg sad ending dan laku. Tapi persentasenya masih lebih banyak yg happy ending.

16) Buat yg mau tau plot "Boy meets girl, boy loses girl, boy gets girl" sila tonton film pendek ini -> http://t.co/bey5rywVE5
 
 
17) Skrg kita bahas plot kedua, plot yg saya suka. Plot ini saya kasih judul "plot-romance-yg-gak-terlalu-cinta-cintaan." :D

18) Kenapa gak terlalu cinta-cintaan? Karena karakter utama punya masalah yg harus ia selesaikan, dan masalah itu bukan cinta.

19) Di Music and Lyrics, Alex Fletcher harus bikin lagu buat seorang artis ternama, atau kariernya sbg musisi terancam tamat.

20) Alex memang pinter bikin musik, tapi dia ga bisa bikin lirik. Nah, di sinilah sang heroine muncul. Namanya Sophie Fisher.

21) Ujung-ujungnya memang tetep cinta-cintaan, tapi cinta lbh seperti "efek samping" dari pencapaian tujuan si karakter utama.

22) Yg wajib dikuasai penulis romance adalah: bikin Meet Cute yg bagus. Meet Cute adalah saat pertama hero & heroine bertemu.

23) Di Notting Hill, meet cute terjadi ketika Will nabrak Anna, dan orange juice yg ia bawa tumpah di baju Anna.

24) Usahain bikin Meet Cute yg menarik dan gak klise. Caranya? Tonton sebanyak mungkin film, baca sebanyak-banyaknya novel.

25) Plot kedua bakal menarik kalo hero & heroine berlawanan. Contoh: heroine aktivis hewan, hero pemilik sirkus lumba-lumba.

26) Atau bisa juga hero & heroine saling membantu menyelesaikan masalah masing-masing seperti di film Music and Lyrics.

27) Oke.. Hero & Heroine sudah dibuat, Tujuan spesifik sudah ditetapkan, langkah selanjutnya adalah membuat daftar Rintangan.

28) Ketika nulis novel, lo gak bisa biarin karakter utama meraih tujuan dg mudah. Harus ada rintangan2 yg menghalangi dia.

29) Rintangan ini harus semakin besar dari waktu ke waktu. Semakin besar rintangannya, semakin besar konflik yg muncul.

30) Kalau karakter utama jauh dari masalah, lo sebagai penulis yg bakal kena masalah. Masalahnya: ditinggal tidur pembaca.

31) Kalo hidup karakter utama baik2 saja, pembaca akan merasa tidak baik2 saja (bosan, jengkel). Dan lo gagal sbg penulis.

32) Jadi gimana supaya pembaca baik2 saja (antusias, bahagia)? Bikin karakter utama tidak baik2 saja. Hantam dia dg rintangan.

33) Ending kebanyakan cerita romance gampang ditebak. So what? Kalo mau yg endingnya sulit ditebak, baca cerita detektif.

34) Akhirnya hero & heroine pasti bersatu. Nah, perkara bagaimana mereka bersatu, itulah yg menunjukkan kualitas si penulis.

35) Terakhir, penulis hebat adalah pembaca yg hebat. Terus gimana cara jadi penulis hebat? Jadilah pembaca yg hebat lbh dulu. 
 
Nah, gimana? Cukup membantu, kan? Langsung praktek, ya! :D
 

Sunday, 23 June 2013

Gramedia Writing Project

0 comments
Dicari!
Calon penulis berbakat yang siap dibimbing oleh Clara Ng dan dimentori oleh para editor Gramedia Pustaka Utama.

Saturday, 8 June 2013

Kirim Naskah ke Tiga Serangkai

0 comments
Bagaimana cara mengirimkan naskah ke Tiga Serangkai?

Menjawab pertanyaan itu, baca baik-baik tulisan di bawah ini, ya...

1. Tiga Serangkai adalah penerbitan yang menerbitkan buku sekolah dan buku umum. Jika Anda ingin mengirimkan naskah ke Tiga Serangkai, pastikan dulu, naskah untuk buku sekolah (PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK) atau buku umum (anak, remaja, dewasa popular, reliji).

2. Untuk buku umum, Tiga Serangkai memiliki 4 creative imprint. Creative imprint inilah yang logonya tercantum dalam buku-buku terbitan Tiga Serangkai. Creative imprint Tiga Serangkai yaitu:

a. Tiga Ananda
Menerbitkan buku-buku untuk anak maupun remaja (maksimal usia 15 tahun), baik popular maupun reliji.
b. Tinta Medina
Menerbitkan buku-buku reliji dewasa
c. MetaGraf
Menerbitkan buku-buku popular dewasa (khusus nonfiksi)
d. MetaMind
Menerbitkan buku-buku fiksi popular remaja maupun dewasa
e. Tiga Serangkai
Menerbitkan Al - Qur'an

3. Jika Anda bermaksud untuk mengirimkan naskah kepada redaksi Tiga Serangkai, Anda dapat mengajukannya melalui e-mail atau mengirimkannya via pos. Alamat pengiriman via pos:

Tiga Serangkai General Book
Jl. Dr. Supomo No. 23 Solo 57141
Telp. 0271-714344
Faks. 0271-713607

Atau via e-mail ke:
tspm@tigaserangkai.co.id

4. Naskah yang dikirimkan hendaknya dilengkapi dengan surat pengantar, abstraksi/sinopsis naskah yang berisi gambaran singkat isi naskah, outline naskah, yaitu semacam daftar isi lengkap yang mengandung penjelasan tentang materi yang diuraikan setiap bagian, keunggulan atau keunikan naskah, pembaca sasaran yang ingin dicapai, serta portofolio penulis.

5. Naskah via pos dapat berupa hard copy maupun soft copy. Apabila hard copy diharapkan dijilid rapi, sedangkan soft copy bisa berformat Microsoft Word maupun PDF.

6. Jika Anda ingin mengetahui jenis naskah apa saja yang diterbitkan oleh creative imprint Tiga Serangkai, Anda dapat hunting ke toko buku atau mencari di internet buku-buku yang diterbitkan oleh creative imprint Tiga Serangkai.

7. Proses review naskah yang masuk ke redaksi Tiga Serangkai adalah 3 bulan. Akan tetapi, secara bertahap kami akan mengusahakan memberikan jawaban lebih cepat.

8. Naskah yang sudah dikirimkan kepada redaksi Tiga Serangkai tidak akan dikembalikan, kecuali dilengkapi oleh perangko balasan yang cukup (khusus via pos).

9. Info mengenai buku-buku terbaru Tiga Serangkai dapat dilihat melalui website www.tigaserangkai.com, FB Penerbit Tiga Serangkai, maupun Twitter @Tiga_Serangkai


Kirim Naskah ke Pustaka Al-Kautsar

0 comments
PUSTAKA AL-KAUTSAR GROUP, penerbit buku-buku keislaman bermutu, mengundang rekan sekalian untuk ikut mencerdaskan dan menginspirasi masyarakat melalui buku.
    • Buku Anak
    • Buku remaja;
    • Referensi Islam
    • Pengembangan diri (motivasi); Pernikahan; keluarga; pengasuhan anak (parenting); Kisah nyata/ memoar Panduan praktis, tips, dan motivasi
    • Hikmah dan kandungan ibadah
    • Gaya hidup islami Novel
    • Komik/ Novel komik remaja islami
    • Dll (Tema bebas asal sesuai dengan nilai-nilai Islam)
      Syarat Teknis Pengiriman 
      • Panjang halaman minimal sekitar 100-200 halaman untuk dewasa, dan 24-80 halaman untuk anak.
      • Diketik dalam format A4, spasi 1.5, margin 3 cm, font Times 12 point
      • Lengkapi dengan daftar isi dan data diri penulis
      • Untuk buku anak, lengkapi dengan konsep buku (bila berseri)
      • Untuk fiksi (termasuk komik), dilengkapi dengan sinopsis (ringkasan cerita)
      • Untuk komik/ novel komik disertai breakdown cerita per bab dan 5 contoh ilustrasi komik.
      • Dikirimkan dalam bentuk hard copy/ print out. Kecuali bila penulis berada di luar negeri, boleh dikirimkan melalui e-mail.
      • Cantumkan jenis naskah Anda di sudut kiri atas (fiksi/ non fiksi/ remaja/ anak/ parenting, dll)

      Kirimkan naskah Anda ke:

      Pustaka Alkautsar Group
      Jl. Cipinang Muara Raya No. 63, Jakarta Timur 13420

      Penilaian naskah akan memakan waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung naskah diterima redaksi. Jika sampai tiga bulan tidak ada konfirmasi apa pun dari Pustaka Al-Kautsar, penulis berhak langsung menarik naskahnya. Print out naskah yang dikirimkan tidak dapat dikembalikan. Print out naskah yang tidak kami terbitkan akan kami musnahkan untuk menjaga hak cipta penulis.

      Keterangan lebih lanjut hubungi (021) 850 7590 ext. 23, e-mail: naskah_alkautsar@gmail.com


      Kirim Naskah ke Puspa Swara

      0 comments
      penerbit puspa swara  
      PUNYA NASKAH ANAK DAN REMAJA
      DAN INGIN JADI PENULIS TERKENAL?



      Kami menantang kamu menghasilkan naskah anak dan remaja yang orisinal, keren, dan unik serta wujudkan mimpimu menjadi penulis top dengan tema-tema berikut.

      KATEGORI ANAK
      Kategori Fiksi:
      • Akidah Islam
      • Akhlak Islam
      • Petualangan
      • Persahabatan
      • Keluarga
      • Hobi/kesenangan
      Kategori Non-Fiksi:
      • Akidah Islam
      • Akhlak Islam
      • Persahabatan
      • Keluarga
      • Hobi/kesenangan
      • Keterampilan hidup (life skill)
      • Kreativitas anak
      • Pengetahuan/sains
      • Referensi (kamus, ensiklopedia, buku pintar)
      KATEGORI REMAJA
      Fiksi
      • Novel bergenre romance (romance murni, romance inspirasi, dan romance komedi)
      • Novel fiksi sejarah, horor, inpiratif
      • Panjang naskah 90-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
      Komik
      • Komik bergenre komedi/inspirasi
      • Tebal minimal 160 hlm
      Buku Komedi
      • Naskah bergenre komedi, umumnya based on profesi, pengalaman, atau sisi lain
      • Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
      Kriteria naskah:
      1. Naskah merupakan karya orisinal, bukan terjemahan, saduran, atau jiplakan.
      2. Memiliki cerita yang unik dan nggak pasaran.
      3. Naskah ditulis dengan logis dan sistematis.
      4. Memiliki peluang pasar (marketabilitas) yang bagus.
      Prosedur Pengajuan Naskah:
      1. Surat pengantar.
      2. Sinopsis.
      3. CV (Daftar Riwayat Hidup) dengan alamat lengkap nomor telepon yang dapat dihubungi.
      4. Keseluruhan isi naskah.
      5. Naskah boleh dikirim secara softcopy (via e-mail) ataupun hardcopy (pos) ke:
      E-mail: nur.ihsan@puspa-swara.com
      Pos : Redaksi Puspa Swara
      a.n. Nur Ihsan
      Perumahan Jati Jajar Blok D12 No.1 Cimanggis Jawa Barat 16452

      Sumber: http://octacintabuku.wordpress.com/2013/06/02/syarat-dan-cara-kirim-ke-penerbit-puspa-swara/

      Wednesday, 17 April 2013

      Bhuana Ilmu Populer (BIP)

      2 comments
      Redaksi BIP masih membuka kesempatan bagi teman2 Bipers yang memiliki naskah bernuansa Islam untuk diterbitkan di Bulan Ramadhan tahun ini. Ayo kirim naskah Islami Anda yang penuh hikmah: naskah anak-anak maupun dewasa. Ditunggu naskahnya sampai Akhir April 2013.

      Sumber: http://www.facebook.com/bhuana.i.populer

      Tuesday, 9 April 2013

      Biar Lolos Event Diva Press

      2 comments
      Alhamdulillah... siang tadi dapet sms dari Aya kalo cerpen Japan in Love-ku lolos. Bener-bener gak nyangka, soalnya aku sempet pesimis mengingat ini kali pertama ikutan event mayor sekaligus juga kali pertama bikin cerita setting Jepang. Walaupun belum berhasil jadi yang terbaik, tapi masuk 76 besar dari 700-an naskah itu rasanya sesuatuuu :D

      Nah, beberapa jam kemudian ada postingan sang Juri analisis tentang cerpen Teru Teru Bozu yang berhasil memboyong notebook Asus itu. Buat pelajaran, kubaca sampe tuntas. Menurutku inilah kunci buat lolos event mayor kayak gini. Kalo dipelajari, bisa jadi bekal buat ikut event-event Diva berikutnya.

      Cekidot!

      ANALISIS CERPEN “TORU-TORU BOZU” KARYA RAFANDHA (CERPEN TERBAIK LOMBA #JAPANINLOVE)


      #JapanInLove adalah sebuah lomba mengarang cerpen berlatar Jepang yang digelar hanya 10 hari (tanggal 20-30 Maret 2013) oleh DIVA Press. Saya sendiri menjadi jurinya. Berdua dengan penyair Mas Toan Achmad Muchlis Amrin, si ahli puasa Daud, suami Nyai Zizi, ayah gus Fawa. Tahu berapa naskah cerpen yang harus saya seleksi? Lebih dari 700 cerpen!
      Saya menilai dan memutuskan cerpen yang “layak terbit” hanya dalam 9 hari! Gimana cara menjurinya? Jangan-jangan....aiihhh...trektekdungcess... (sorry, saya menulis analisis cerpen ini sambil dengerin lagu dangdut koplo Tak Tunggu Balimu di-repeat permanen!)
      Oke, tentu subyektivitas ada. Iya dong, saya kan masih hidup, berpikir, berempati, niscaya saya nggak bakal pernah bisa memisahkan diri dari subyektivitas. Tetapi, saya sengaja menulis anlsisis cerpen ini supaya jadi pengetahuan buat semua peserta lomba-lomba DIVA Press yang telah dan atau akan diadakan bagaimana cara saya melakukan penilaian.
      Maafkanlah wahai sayangku...terpaksa meninggalkanmu...hookk hookk
      Aku tak membenci dirimu dan melepaskan cintamu...
      Kau tahu diriku kutahu dirimu... #jare sopo...traktakdesss...
      #Enakbangetsumpahkoplonya!
      Oke, lanjut!
      Bayangkan, membaca 700-an cerpen dalam 9 hari? Saya melakukannya dengan cara saya sendiri!
      Pertama, setiap cerpen yang pada paragraf pertamanya saja sudah amburadul teknik, kalimat pembuka, bertele-tele, typo seabrek, tanpa ampun saya buang! Nggak perlu lagi deh baca ke halaman kedua, apalagi sampai habis, hanya buang-buang waktu. Penulis yang ginian pastilah kemampuan tekniknya masih rendah atau tipe penulis yang abai terhadap detail dan tidak membaca ulang karyanya! Yang ginian nggak bakal jadi penulis keren!
      Kedua, cerpen-cerpen yang berhasil lolos halaman pertama, saya lanjutkan baca. Jika saya menemukan keganjilan teknik atau logika cerita, saya toleransi sehalaman lagi. Jika tidak berhasil dijawab keganjilan itu, saya buat pesawat-pesawatan kertas dong! Mengapa cuma sehalaman? Bisa saja kan jawabannya ada di halaman sekian? Oke, ini cerpen, cerpen, cerpennnnn atuuhh, yang terbatas halamannya, bukan novel!
      Ketiga, yang berhasil lolos seleksi awal ini, saya cermati kekuatan logika ceritanya. Betapa seabrek yang nggak penting benar menjadikan alur tabrakan-tabrakan sebagai logika cerita ketemuan cowok dan cewek. Hadeehh, kalau benar di alam nyata ini gara-gara tabrakan orang lalu mudah dapat pacar, pastilah para jomblo akurat yang anyep seanyep-anyepnya sejak lahir itu sudah menabrakkan diri dari lama kali. Jika pengen dapat pacar bermobil, tentu cukup menabrakkan diri pada mobil dong! Jika pengen dapat suami sopir truk molen kayak cita-cita @AvifahVe, ya cukup menabrakkan diri ke trukj molen to.
      Keempat, saya cermati “kekuatan latarnya”. Bagaimana pun, tema lomba ini adalah #JapanInLove, tentu bau Jepangnya harus kerasa tengik banget kan. Bukan cuma sok beraroma Jepang. Ini sekaligus membedakan antara penulis yang doyan menggali data dan tidak. Yang mikir tentang Sakura dan Hanami seabrek, otomatis kompetisinya sangat keras. Kenapa nggak mikir yang lain, yang juga Jepang, kayak Teru-Teru Bozu Rafandha ini? Unik, segar! Atau, kenapa juga nggak mikir untuk menuliskan ide Miwon, Ajinomoto, Rinso, Kroto gitu sih?
      Begitulah saya menilai dengan cepat. Pasti, metode saya debatable secara ilmiah, tapi saya sih asyik-asyik aja atuh, bodoh teuing atuh mah, toh saya yang jadi jurinya kan. At least, saya punya metode tertentu, dan inilah hasilnya!
      Mengapa Teru-Teru Bozu Kupilih sebagai yang Terbaik?
      Opo wes tego sliramu
      Misahke roso tresno…
      #Asyiiikkk…trak-trak…
      Beberapa “kecerdasan penulis” dalam cerpen Teru-Teru Bozu Rafandha yang saya catatkan di sini:
      Pertama, pilihan idenya genius! Saat orang berpikir bahwa Jepang adalah tentang Sakura, Hanami, Tokyo, Kyoto, salju, Kagawa, Miyabi (hoo...oohhh), Rafandha sangat genius memilih Teru-Teru Bozu (boneka penangkal hujan menurut kepercayaan masyarakat Jepang, yang bila dipasang terbalik,  dipercaya dapat menurunkan hujan). Nggak pasaran! Nggak expired! Unik, segar, nyeleneh, no mainstream, dan itulah memang ciri penulis cerdas!
      Kedua, kalimat pembukanya sangat tidak bertele-tele, sok puisiwanisme J, tetapi langsung menohok, menusuk, menghunjam, menjleb, menerjang, menghantam, menerkam, mengiris, menginternalisasi, mengintercourse rasa penasaran pembacanya.
      Simak ini:
      “Itu… teru-teru bozu, kan?”
      “Ya.”
      “Kenapa dipasang terbalik?”
      “Biar hujan.”
      Sangat menggoda rasa ingin tahu! Bandingkan dengan kalimat pembuka kajol sejenis gini:
      Vivi, my honey, ahhhhh…
      Betapa matahari adalah pusat cahaya yang begitu agung bernama matahari. Begitu pun cintaku padamu yang menyimpan matahari agung di dalamnya, sedalam kusimpan rahasia hidupku bahwa aku adalah tukang tukar sandal di masjid setiap shalat Jum’at….
      Opo iki, opo iki, ikiii opoooooo!!! Cerpen kok ngene iki, opo iki opo ikiiii…. #gemes!
      Ketiga, kekuatan setting Jepang yang sangat lebur. Fusion of horizons (istilah tokoh Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer) antara Rafandha selaku penulis yang orang Palembang (kutahu kok Bim, kamu tinggal di desa pula! J), yang Jakarta aja kagak pernah tahu, apalagi Jepang, dengan penggalian data kultur Jepang yang serius menghasilkan “kawinan” yang benar-benar beranak taste Jepang!
      Keempat, alur cerita begitu mengalir sedemikian enaknya untuk dicicip oleh siapa pun pembacanya, dengan latar pengetahuan macam apa pun. Anak SD pasti juga paham baca cerpen ini. Apalagi anak tua yang kelakuannya masih bocah SD, kayak @DenmasTono @DebbyNiken @rezanufa @srangga2 @RiriAlie @endikooeswoyo, pasti pahaammmm!
      Jangan membayangkan bahwa alur ceritanya lantas begitu landai sehingga enak banget dibaca. Tidak! Kekuatan utama cerpen ini justru bukan ada di situ, tapi bagaimana Rafandha menyelipkan suspensi-suspensi yang mengejutkan, layaknya keperkasaan VR46 melipat Pedrosa dan Marquez di Losail Qatar kemarin (coba kalau Lorenzo nggak penakut lari duluan gitu, pasti dilibas juga dia atuh). Liat Lorenzo ngacir sejak pertama, apa coba gregetnya? Garing! Tapi coba lihat Rossi yang penuh suspense, subhanallah atuh kan gregetnya, passion-nya, gaharnya di dada! Ya, itulah beda Rossi ma yang lain atuh
      Kejutan, sentakan, begitu tubi hadir di antara aliran cerita yang lancar. Dan tentu, untuk bisa melakukan ini, diperlukan kekuatan teknik, kematangan ide, dan pembacaan berulang-ulang untuk memperdalam ide dan mengoreksi kelemahan-kelamahan. So, nggak bosen-bosen kan saya selalu ngomong (jika ngeyel tentu perlu pake terapi diacuhin deh) bahwa SANGAT PENTING untuk mendinginkan dulu karyamu, mendiamkan dulu beberapa jenak, lalu membaca ulang dan ulang lagi karyamu. Jangan gragas begitu jadi main send and send, wah itu pasti banyak boroknya!
      Simak ini:
      Gadis itu sepertinya sudah selesai melakukan tugasnya. Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.
      Aku menatap boneka teru-teru bozu yang dipasangnya di pohon itu.
      Boneka itu…
      Memasang ekspresi sedih.
      Lalu:
      “Karena...karena hanya setelah hujan aku bisa bahagia,” ujarnya pelan.
      Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air yang jatuh dari sudut matanya.
      “Maksudmu?”
      “Aku harus pergi.” Ia bangkit dari tempatnya duduk, lalu langsung pergi.
      Lagi-lagi, aku berujar dalam hati, apa yang membuatnya demikian?
      Kelima, pesan moral. Tentu, subyektivitas penulis menghasratkan penyampaian pesan moral dalam karya, termasuk dalam Teru-Teru Bozu ini. Pesan moral apa pun silakan, itu subyektif. Tapi yang penting, penulis tidak perlu menjadi ustadz dalam karyanya, jadi juru khutbah. Dan Teru-Teru Bozu berhasil melakukannya dengan sangat piawai. Tanpa sadar, begitu smooth, pembaca terasuki oleh pesan moral Rafandha, dan di sinilah bedanya karya fiksi dengan non-fiksi. Sebuah karya fiksi yang tidak hanya mengusung kisah, tapi juga inspirasi yang smooth dan bermanfaat bagi pembacanya.
      Keenam, pemecahan konflik. Yang menarik lagi dari Teru-Teru Bozu ini ialah alur adegan saat si “aku” memecahkan masalah utama (konflik tokoh) si gadis itu dengan cara yang sangat alamiah, logis, kreatif. Di akhir analisis ini, saya sertakan cerpen utuhnya untuk Anda baca sebagai pembuktinya.
      Ketujuh, kecerdasan ending. Teru-Teru Bozu begitu hebat dalam mengakhiri ceritanya. Benar, dikisahkan juga si tokoh ini saling jatuh cinta. Tapi tidak disajikan dengan klise dan pasaran.
      Itulah hasil analisis saya, boleh setuju boleh tidak: kuharap dirimu mengerti diriku tak mungkin kita terus begini…traktakdesss…
      Kekurangan cerpen Teru-Teru Bozu Rafandha sudah saya emailkan langsung ke penulisnya. Itu pun hanya menurut saya ya.
      Berikut kutipan lengkap cerpen Teru-Teru Bozu Rafandha:
      Teru-Teru Bozu
      Rafandha
      “Itu… teru-teru bozu, kan?”
      “Ya.”
      “Kenapa dipasang terbalik?”
      “Biar hujan.”
      ***
      Komaba-Todaime, Meguro, Tokyo
      Fuyu, 35oC
                  Aku mengayuh sepedaku secepat angin ke Komabano Park. Udara musim panas di Tokyo sangat menyengat hari ini. Di saat orang Jepang yang lainnya berbondong-bondong menuju pantai, aku lebih memilih ke sungai Meguro di Komabano Park.
      Komabano Park sendiri jadi tempat magis bagiku. Pertama kali aku ke Tokyo, hal yang menggelitikku adalah gerbang taman ini. Gerbang Komabano Park terdiri atas dua bagian. Sebelah kanan dan kiri. Di gerbang sebelah kanan, dibuat bentuk padi-padi yang sedang berkembang dan burung-burung yang beterbangan. Sedangkan sisi sebelah kirinya, padi-padi tersebut masih ada, namun terdapat kakashi yang berdiri tegak. Jadi bila digabungkan, gerbang itu seperti replika sawah.
      Komabano Park tampak lengang dan aku pun mempercepat langkah. Suasana Komabano Park tak ubahnya sebuah taman tanpa rimbun pepohonan. Pohon-pohon sakura sudah gugur sejak akhir musim semi lalu.
                  Lama aku mengayuh sepeda. Aku tertarik pada satu sosok yang tampak sedang berusaha meraih cabang pohon Sakura di pinggir Sungai Meguro. Penasaran, aku menghampirinya.
      “Itu… teru-teru bozu, kan?” aku bertanya ketika melihat satu boneka putih di kepalan tangannya yang mungil.
      Dia menoleh menghadapku sekilas, lalu kembali ke posisinya semula.
      Aku mendadak diam melihat apa yang dilakukannya. Tali yang menggantung di teru-teru bozu itu berada pada posisi tidak biasa.
       “Kenapa dipasang terbalik?” tanyaku heran setelah memastikan apa yang aku lihat itu benar.
      “Biar hujan,” jawabnya pendek.
      Aku mengerenyitkan dahi, menatap gadis di hadapanku yang sedang menggantungkan boneka berkepala gundul itu di sebuah pohon sakura di Komabano Park. Setahuku, orang-orang Jepang sangat membenci hujan. Sama sepertiku. Kebanyakan orang-orang Jepang mengutuk butir-butir air itu.
      “Kau suka hujan?” aku bertanya heran.
      Gadis itu menggeleng. “Iie,” ujarnya sambil berusaha mengikatkan simpul pada pohon itu.
      Aku hanya mengamati parasnya. Yang paling membuatku terkesan adalah potongan rambutnya yang dibuat pendek model bob dengan poni yang lurus menutupi keningnya dan pipinya yang membuatku gemas setengah mati: seperti mochi.
      “Jadi?”
      Gadis itu sepertinya sudah selesai melakukan tugasnya. Ia langsung saja berlari kecil menjauhiku.
      Aku menatap boneka teru-teru bozu yang dipasangnya di pohon itu.
      Boneka itu…
      Memasang ekspresi sedih.
      ***
      “Masih memasang itu?”
      Aku melihat gadis itu pada hari berikutnya. Ia memakai kimono musim panas atau yukata berwarna merah muda, berdiri di depan pohon sakura yang sudah meranggas. Kemarin, hari sangat cerah, bahkan cenderung panas. Jadi dapat disimpulkan, teru-teru bozu-nya tidak berhasil kemarin.
      “Seperti yang kau lihat,” ujarnya sambil mengangkat bahu.
      Aku lantas mendekat padanya, membantunya mengaitkan boneka itu ke pohon. “Tsuyu baru saja berakhir dua minggu lalu di Tokyo. Dan, kau pikir hujan akan turun?”
      Ia melirikku sekilas. “Apa salahnya berharap?” ia berkata santai.
      “Memang sih. Tapi, harapan kadang membuatmu buta. Tidak berpikir realistis,” sanggahku menjawab pertanyaan darinya.
      Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya. Aku pun tidak berusaha untuk membuka percakapan.
      Arigatō gozaimasu,” ucapnya sambil membungkuk.
      Aku tersenyum kecil. “Dō itashimashite.”
      Dia kemudian duduk di rerumputan. Aku pun mengikutinya.
      “Buat apa melakukan ini?” aku bertanya sambil mengerenyitkan dahi.
      Dia menoleh menatapku. Rambutnya melayang dengan sempurna diterpa embusan angin.
      “Melakukan apa?” tanyanya balik sambil mengerlingkan matanya.
      “Kau bilang tidak suka hujan, mengapa kau malah ingin hujan turun?”
      Sungguh aneh konsep yang ada di kepalaku. Bagaimana bisa orang yang tidak menyukai sesuatu, tapi mengharuskan sesuatu itu hadir.
      Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Seperti memikirkan sesuatu.
      “Karena...karena hanya setelah hujan aku bisa bahagia,” ujarnya pelan.
      Aku melihat matanya berkaca-kaca. Seperti akan ada air yang jatuh dari sudut matanya.
      “Maksudmu?”
      “Aku harus pergi.” Ia bangkit dari tempatnya duduk, lalu langsung pergi.
      Lagi-lagi, aku berujar dalam hati, apa yang membuatnya demikian?
      ***
      Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
      Aku mengamati butir-butir air itu dari balik jendela kamarku. Aku tidak suka hujan. Hujan melambatkan semua hal, termasuk waktu. Aku akhirnya lebih memilih mengambil game portabel dari lemari sambil menyetel lagu AKB 48– Gomen-ne Summer.
      Hari ini, hujan turun rintik-rintik.
      Mendadak aroma hujan mengingatkanku pada gadis itu. Pastilah saat ini ia sedang tersenyum bahagia melihat teru-teru bozu­-nya berhasil. Atau, mungkin saat ini ia sedang menari-nari di bawah hujan? Ataukah ia lebih memilih meringkuk di kasur, mengenakan selimut tebal, lalu memainkan game portabel sepertiku?
      Pikiran-pikiranku tentangnya membayang seiring turunnya hujan. Yang jelas, pastilah ia sedang bahagia sekarang.
      Tunggu, mengapa aku memikirkan gadis itu?
      ***
      Rasa penasaran membawaku kembali ke Komabano Park keesokan harinya. Entah mengapa aku mengharapkan sosok gadis itu datang.
      Dan sesuai perkiraanku, gadis itu memang ada. Di tempat yang sama dua hari lalu.
      “Mengapa datang lagi?” tanyaku heran. Kemarin hujan, seharusnya ia tidak datang ke sini lagi untuk memasangkan boneka itu.
      “Kemarin, tidak ada dia,” ujarnya tanpa ekspresi. Ia hanya memandang lurus ke depan.
      “Dia?”
      Hai.”
      Aku semakin tidak mengerti. Dia? Siapa dia? Mendadak, ada yang meledak-ledak di ulu hatiku. Namun entah. Aku tidak bisa mendeskripsikannya.
      “Maksudmu?” aku bertanya lagi. Penasaran.
      Pernah merasakan ketika kau bertanya sesuatu dan kau mengharapkan jawaban darinya, sementara di sisi lainnya kau malah tidak ingin mendengarnya?
      Aku sukar mengatakannya. Tapi yang jelas, begitu keadaanku saat ini.
      Niji ga arimasen.”
      “Eh?”
      “Kemarin, tidak ada pelangi.”
      Aku merasakan ledakan-ledakan tadi langsung diguyur air es dingin.
      “Kau..., selama ini...hanya pelangi?” Aku berusaha menenangkan perasaanku sendiri.
      “Ya, pelangi.”
      “Hanya pelangi? Kau mengharapkan sesuatu yang sama sekali tidak kau suka hanya untuk melihat pelangi?”
      Dia menatapku tajam.
      Jangan kau pikir segalanya semudah yang kau bayangkan,” bentaknya keras.
      Ia mulai bangkit dari tempat kami duduk, lalu beranjak pergi. Aku pun langsung menahannya.
      “Kenapa?” tanyaku pelan, merasa bersalah.
      Aku membalikkan badannya.
      Ia...menangis?
      Gomen nasai,” ucapku.
      Ia menyapu air mata dari pipinya. “Daijōbu desu.”
      “Kau tahu, perempuan itu adalah orang yang paling susah dalam menyembunyikan perasaannya. Dan jika kau berkata kau baik-baik saja, aku tidak melihatnya demikian.” Aku menarik napas panjang. “Kau...kenapa?” tanyaku hati-hati.
      Aku mengajaknya kembali duduk. Namun saat ini, kepalanya menyandar di pundakku.
      Okaa-san bilang, pelangi adalah jalan menuju surga,” ia membuka ceritanya, “saat kau tidak ada lagi di dunia ini, kau akan menjelma jadi satu dari warna pelangi itu.”
      Aku mengangguk paham. Aku pernah dengar tentang mitos itu dari ibuku ketika aku kecil.
      Okaa-san bilang, kita bisa menemui orang-orang yang tidak ada itu saat datang pelangi. Dan itu yang sedang aku lakukan sekarang. Aku...sedang berusaha bertemu Okaa-san.
      “Dia?”
      “Meninggal, dua minggu lalu. Saat tsuyu. Hujan-hujan. Ia...tertabrak truk.”
      Aku bisa melihat air mata yang jatuh dari sudut matanya. Refleks, aku menyekanya dengan tangan kananku.
      “Maka dari itu..., aku selalu ingin bertemu dengannya lagi. Aku...hanya ingin melihatnya lagi,” ujarnya sesengukkan.
      Aku mendekapnya erat, tidak bisa berkata apa-apa. Dalam diam, aku berbicara.
      “Menangislah. Buat apa berpura-pura kuat? Menangislah karena memang kau ingin menangis. Itu akan membuatmu lebih baik,” aku berujar sambil mengusap-usap kepalanya.
      Dan, ia menangis.
      Dan, itu adalah nyanyian paling pilu dalam hidupku.
      ***
      Pompa angin dan kaca.
      Aku memasukkan barang-barang itu ke dalam tas selempang yang kukenakan, lalu mengayuh sepeda ke Komabano Park.
      Dia pasti masih di sana.
      Pasti.
      ***
      “Sudah kuduga, kau akan datang kembali ke sini,” aku berujar ketika melihat gadis itu.
      Tidak ada yang berubah darinya. Masih tanpa ekspresi. Masih tanpa senyum. Masih...sedih.
      “Ayo ikut aku sebentar.” Aku menarik tangannya ke sisi Sungai Meguro.
      Sensasi dingin langsung menyambar ke kaki kami berdua ketika aliran sungai memecah di kaki.
      “Duduk di sini,” perintahku sambil menunjuk satu tempat di pinggir sungai itu.
      Kukeluarkan alat-alat yang sedari tadi ada di tas selempangku. Pompa air dan kaca.
      Aku menaruh kaca di sisi lain sungai. Sinar matahari langsung terpantul mengikuti aliran sungai. Yang kedua, aku ambil pompa angin dari tasku lalu mulai mengisinya dengan air Sungai Meguro.
      Semoga berhasil, aku berdoa dalam hati sambil mengarahkan pompa itu ke sinar matahari yang dipantulkan oleh kaca.
      Gadis itu menatapku heran, namun aku tidak peduli.
      “Kau tahu, aku pernah merasakan kehilangan. Ayahku, beberapa tahun lalu. Aku memang sedih, sungguh. Seolah-olah semua jadi hancur berantakan. Sama sepertimu.”
      Aku kemudian menyemburkan air dari pompa yang ada. Butir-butir air itu langsung saja menimpa sinar matahari, membentuk spektrum-spektrum warna-warni: pelangi.
      Ia tampak terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku bisa melihat ia sesenggukan dengan mata yang berkaca-kaca.
      “Aku hanya ingin kau tahu, kebahagiaan itu diciptakan. Bukan menunggu dengan sendirinya. Kebahagiaan itu ada dalam diri setiap orang. Bukan bergantung pada hal lainnya,” jelasku panjang lebar.
      “Kini, kau tidak perlu menunggu hujan terlebih dahulu, baru kau bisa melihatnya. Kau tidak perlu lagi berpura-pura menunggu hal yang sama sekali tidak kau sukai untuk melihat hal yang kau suka. Kau hanya perlu terbuka, untuk melihat sekelilingmu. Melihat kebahagiaan di sekitarmu.”
      “Dan, jika kau sudah bisa melakukan itu, kau akan bahagia,” tutupku.
      Aku melihat ia menunduk. Dan perlahan, air mata turun dari pipinya.
      Kami berdua membisu. Aku pun menghampirinya.
      Arigatō gozaimasu. Terima kasih sudah membuatku sadar,” ujarnya sambil mengusap air mata di pipinya. Ia kemudian menegakkan kepalanya, lalu tersenyum.
      Melihat itu, aku ikut tersenyum. Dadaku mendadak bergetar hebat. Ada perasaan seolah-olah ketika melihat senyumannya, semua hal indah di dunia ini kalah akan kehadirannya. Keindahan yang melebihi seribu pohon sakura yang bermekaran serentak.
      “Siapa namamu?” tanyaku gugup. Entah apa yang aku gugupkan. Aku hanya merasa...
      ...gugup.
      “Mit...Mitsuko Ka..Katone,” ia menjawab terbatas-bata. Seketika mukanya bersemu merah seperti buah plum.
      Aku tertawa geli melihatnya seperti itu. “Aku tahu mengapa kau tidak suka hujan,” ucapku padanya.
      “Katamu pertama kali, semua orang Jepang membenci hujan,” ujarnya yang mulai berani menatapku.
      “Berbeda kasus denganmu. Mitsuko berarti cerah. Kau pasti benci hujan,aku berkata sambil tersenyum lebar.
      “Dan...memang benar…. Suaramu sangat indah seperti kotone. Alunan harpa,” lanjutku.
      Ia tampak salah tingkah aku puji seperti itu. Aku bahkan heran sendiri, dari mana kata-kata itu keluar. Mengapa aku mendadak romantis? Tunggu, romantis?
      “Namamu?” tanyanya balik kepadaku.
      “Hisashi Masaki.”
      “Cocok.”
      “Eh?”
      “Kau memang seperti kayu besar. Tempat semua orang bersandar.” Ia mengerlingkan matanya yang bulat dan teduh itu.
      Kali ini, giliranku yang salah tingkah. Untuk mengisi kekosongan, aku mengambil teru-teru bozu itu dari tangannya. Ia tampak heran dengan apa yang aku lakukan, namun ia biarkan.
      Aku mengambil spidol dari tas selempang yang kubawa, lalu kucoretkan sebuah lengkung ke atas di bawah gambar hidung yang dibuatnya.
      Ia mengerenyitkan dahi. Heran. Namun, aku tetap tidak peduli.
      Setelah selesai, aku pun lantas menggantungkannya pada pohon sakura di belakang kami.
      “Aku harap besok cerah,” kataku pelan.
      Ia tampaknya mendengar apa yang aku ucapkan, lalu tersenyum kecil.
      Semoga tidak ada lagi hujan di matanya, aku merapalkan harapan-harapanku.
      Setelah memasangkannya ke atas pohon, aku berbalik menatap Mitsuko-san, lalu menggenggam tangannya.
      “Mitsuko-san, besok, maukah kau berkencan denganku?”
      *) Cerpen ini sebenarnya memiliki beberapa footnote, tapi tidak saya sertakan.


      Gambar pinjem di sini

      Friday, 22 March 2013

      Beasiswa Mizan, Kembali Diluncurkan!

      0 comments
      Dalam rangkaian ulang tahun Mizan ke-30 ini, Mizan kembali meluncurkan program Beasiswa Mizan. Program ini telah menjadi tradisi lama Mizan. Namun dalam beberapa tahun terakhir sempat vakum. Pada era 90-an, beasiswa Mizan menjadi daya tarik tersendiri para mahasiswa tingkat akhir. Mereka berlomba untuk mendapatkan beasiswa ini karena sedikitnya tiga alasan. Pertama, tugas akhir mereka berkesempatan dinilai oleh penerbit dan dewan juri. Kedua, mereka akan mendapat dana bantuan penelitian, dan yang terakhir, karya tulis mereka berkesempatan untuk diterbitkan. Ada kesan umum bahwa yang mendapat beasiswa mizan, pastilah skripsinya berbobot.

      Seperti sejarah Mizan yang dilatarbelangi oleh semangat berpikir dan berkarya di kalangan mahasiwa, Mizan telah menaruh perhatian besar untuk mendorong gairah menghasilkan karya tulis berkualitas di kalangan kampus, salah satu carnya adalah dengan memberikan beasiswa.

      Mizan percaya program beasiswa ini bisa menjadi pemantik munculnya, atau ditemukannya karya-karya genuine di kalangan mahasiswa. Mudah-mudahan dari beasiswa ini akan muncul Cak Nur, Amien Rais, Jalaludin Rakhmat, dan Amien Abdullah baru. Nama-nama yang saya sebutkan tadi sempat menjadi monumen kebangkitan intelektual islam indonesia yang dalam seri buku Mizan Khazanah Intelektual Muslim Indonesia pada tahun 80 dan 90-an.
      Detail informasi dan Ketentuan:
      -     Beasiswa ini akan diberikan kepada tiga kategori: S1 sebesar 18 juta, S2 sebesar 24 juta, S3 sebesar 30 juta
      -    Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas akhir, skripsi, tesis dan disertasi.
      -    Peserta akan diminta untuk mengirimkan proposal skripsi, tesis, dan disertasinya.
      -    Dewan redaksi Mizan akan melakukan seleksi awal, dari proposal terpilih kemudian akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari para pakar dan tokoh.
      -    Para pemenang, memiliki kesempatan hasil karya tulisnya akan diterbitkan oleh Mizan.
      -    Batas waktu hingga 30 Juni 2013

      Beasiswa Mizan hadir kembali untuk Anda (Gambar: randolph.k12.nc.us)


      Formulir dapat diisi di http://mizan.com/news_det/beasiswa-mizan-kembali-diluncurkan.html

      Friday, 1 March 2013

      Kirim Naskah ke Penerbit Noura Books

      0 comments
      Penerbit Noura Books menerima naskah berupa:
      • Fiksi, dalam bentuk novel; baik untuk remaja dan dewasa
      • Nonfiksi, dalam bentuk kisah inspirasi, catatan perjalanan, bisnis praktis, memoar, humor, psikologi populer, keislaman populer, kesehatan, parenting; baik untuk remaja dan dewasa
      • PCPK (Penulis Cilik Punya Karya): novel pendek, yang ditulis oleh anak-anak usia 7-14 tahun

      Kriteria naskah:

      1. Merupakan karya asli

      2. Belum pernah dipublikasikan oleh penerbit lain atau pernah terbit tetapi telah habis masa kontraknya dengan penerbit sebelumnya.

      3. Tema unik dan tidak pasaran.

      4. Tidak mengandung unsur-unsur pornografi dan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)

      5. Ditulis dengan rapi (logis dan sistematis).

      6. Memiliki peluang pasar (marketabilitas) yang bagus.

      7. Disertai sinopsis
      Prosedur Pengiriman:
       
      Jika naskah telah memenuhi kriteria tersebut di atas, kirimkan beserta:

      1. Surat pengantar.

      2. CV (Daftar Riwayat Hidup) dengan alamat lengkap, surel, dan nomor telepon yang dapat dihubungi.
      Naskah yang dikirimkan jika berupa hard-copy sebaiknya adalah hasil print-out atau fotokopi (bukan asli/master) dan jika atau soft copy, adalah hasil ketik computer baik dalam bentuk MSword atau pdf.

      · untuk fiksi dewasa, minimal 200 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.

      · untuk fiksi remaja, minimal 150 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.

      · untuk nonfiksi, minimal 150 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.

      · untuk PCPK, 60-80 halaman, spasi ganda, font times new roman 12.

      4. Kirim ke:

      Redaksi Penerbit Noura Books:
      Jl. Jagakarsa Raya No.40 RT 07/04
      Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620
      Telp : 021 78880556
      Fax  : 021 78880563
      Email: redaksi@noura.mizan.com
      Keterangan:

      · Jangka waktu evaluasi naskah maks. 3 bulan.

      · Kabar tentang kelayakan terbitnya akan kami akan beritahu via telepon atau surel.

      · Naskah tidak akan dikirimkan kembali kepada pengirim kecuali disertai perangko yang mencukupi.

      · Apabila naskah layak terbit, akan dilanjutkan dengan pembuatan Surat Perjanjian Penerbitan (SPP).

      Thursday, 28 February 2013

      Kirim Naskah ke de TEENS

      9 comments
      de TEENS adalah lini baru DIVA Press untuk naskah-naskah teenlit. Teen berarti remaja. Semuanya tentang dunia remaja, mulai dari percintaan, konflik, emosi, pengalaman hidup, dan banyak lagi lainnya. Hal-hal inilah yang kami cari dari naskah-naskah teenlit yang terkirim ke alamat email kami: deteensmail@gmail.com. Kami yakin, para penulis teenlit (entah itu remaja atau memang yang selama ini berkutat di genre remaja) bisa merepresentasikan harapan kami akan adanya bacaan berkualitas. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti jalan buntu kan? :)

      Oke, kami membuka peluang pada siapa pun untuk mengirimkan naskah teenlitnya via email yang tadi telah disebutkan dengan minimal 100, maksimal 150 halaman, spasi 2, margin 4-4-3-3 cm (atas-kiri-kanan-bawah), Times New Roman, ukuran kertas A4. Lengkapi juga dengan biodata dan sinopsis novel (dari awal sampai akhir cerita)

      Naskah yang masuk akan kami evaluasi untuk kemudian diputuskan akan kami terima atau tolak. Lama evaluasi adalah 1 bulan dan keputusan akan kami kirimkan secara resmi via email.

      So, silakan mulai berkarya bersama de TEENS!!

      Sumber: http://www.facebook.com/deteenspage

      Kirim Naskah ke Penerbit Haru

      0 comments
      Ayo gabung bersama Penerbit Haru!
      Punya naskah novel yang berlatar Korea, Jepang, Indonesia, Perancis atau dari belahan dunia manapun? Jangan khawatir, kami menerima semua naskah Anda melalui syarat-syarat berikut:
      Cara mengirimkan naskah ke Haru:
      Untuk saat ini kami hanya menerima naskah melalui email. Semua naskah dikirimkan ke naskah.haru@gmail.com (attachment, bukan di copy paste di body email). Kami akan memberikan email konfirmasi bahwa naskah Anda sudah kami terima.
       Syarat pengiriman naskah ke Haru
      Jenis naskah yang dibutuhkan adalah naskah fiksi dengan genre drama, romance, romantic comedy, romance fantasy, suspense.
      1. Untuk pembaca remaja
      • Contoh: Oppa & I karya Orizuka dan Lia Indra Andriana
      2. Untuk pembaca dewasa muda
      • Contoh: Then I Hate You So karya Andry Setiawan
      3. Untuk pembaca dewasa
      • Contoh: Khokkiri karya Lia Indra Andriana
      Kelengkapan pengiriman naskah
      1. Naskah novel
        1. ukuran kertas A4
        2. margin standard
        3. Calibri 11, spasi 1,5
        4. 100-150 halaman
        5. Format data (word-> .doc ataupun .docx). Tidak menerima .rar
      2. Sinopsis
      • Sinopsis adalah keseluruhan cerita dari awal sampai akhir. Melalui sinopsis redaksi harus tahu keseluruhan alur cerita sampai pada halaman terakhir. Jangan menyembunyikan akhir cerita karena sinopsis di sini bukanlah sinopsis komersial untuk di belakang buku.
      • Tulislah sinopsis maksimal 4 halaman A4 1,5 spasi dengan Calibri 11.
      3. Biodata penulis
      • Umur minimal 15 tahun
      • Sertakan nama lengkap, TTL, alamat, no handphone, dan prestasi dibidang penulisan termasuk novel yang sudah pernah diterbitkan secara nasional (oleh penerbit major) (JIKA ADA)
      Konfirmasi terbit naskah
      Kami akan memberitahu apakah naskah Anda bisa terbit atau tidak terhitung 3-4 bulan sejak naskah Anda kami terima. Apabila Anda belum mendapatkan email konfirmasi, silahkan mengirimkan kembali atau bertanya melalui email yang sama.
      Apabila naskah Anda diterima untuk diterbitkan, kami akan menghubungi Anda lebih lanjut. Naskah yang tidak kami terima akan secara otomatis dihapus dari komputer data kami.
      Masih punya banyak pertanyaan tentang pengiriman naskah? Silahkan bertanya melalui twitter @penerbitharu. Ditunggu karya-karyanya ya!
       

      Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal