Showing posts with label Buah Karya. Show all posts
Showing posts with label Buah Karya. Show all posts

Saturday, 9 November 2013

Koran Dinding PRIMA Edisi Perdana

0 comments
KORDING PRIMA (Potensi, Refleksi, Inspirasi Mahasiswa) STISIPOL Candradimuka Palembang. 

PRIMA sebelum punya nama :D
PRIMA. Ya, akhirnya nama itulah yang dipakai untuk koran dinding kampus pesanan Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi, Budi Santoso, M.Comn. Tantangan ini saya terima tanggal 10 September lalu ketika mampir ke kampus demi mengurusi KRS. Sebenarnya ingin menolak, mengingat sedang genting-gentingnya mengurusi skripsi dan pernikahan. Tapi, rasanya susah. Apalagi Pak Budi bilang, ini sebagai kenang-kenangan sebelum lulus.

Akhirnya, keluar dari ruangan, saya langsung mencari Siska dan Any untuk digaet sebagai tim. Dewi yang saat itu belum ke kampus pun saya titipi pesan HARUS bergabung. Jadi, saya sudah punya tim kecil ketika meninggalkan kampus. 

Di tengah kesibukan kerja-revisi novel-skripsi-nikah saya berusaha mengkoordinir tim kecil saya itu sekaligus juga mewanti-wanti mereka mencari tambahan pasukan dari semester bawah agar ada regenerasi. Sayang, belum ada seorang pun yang nyangkut.

Karena memang sebenarnya saya terbiasa bekerja dengan kelompok kecil (yang jelas mau sama-sama kerja), jadi meski beranggotakan empat orang saja, bagi saya tidak masalah. Siska, Any, dan Dewi saya pinta mencari berita seadanya, yang tidak menyulitkan dan tidak mengganggu skripsi mereka. Saya juga menghubungi beberapa teman kampus yang saya tahu suka menulis. Alhamdulillah, Gilang bersedia mengisi kolom Opini. Untuk menutupi kekurangan halaman, saya pun akhirnya menulis beberapa berita.

Tanggal 20 Oktober, saya mengirim pesan facebook untuk Pak Budi. Isinya hasil layout-an kording yang sehari sebelumnya saya kerjakan bersama Bang Dian. 21 Oktober, Pak Budi acc terbit. Lalu 22 Oktober selepas magrib, saya dan Bang Dian ke kampus untuk menempel KORDING PRIMA edisi 1.

Alhamdulillah.... lega. Waktu liat PRIMA tertempel di kaca JIK, rasanya beban saya terangkat. Akhirnya, yang saya dan teman-teman usahakan bisa dinikmati penghuni kampus. Malam itu, Pak Adi langsung memberi selamat, beberapa staf yang lewat pun sempat memuji. Walaupun pujian tentu bukanlah tujuan utama. ^^

Saya sendiri sebenarnya sempat minder, mengingat ada banyak wartawan senior di kampus saya. Sedangkan saya (yang terlanjur menerima permintaan Pak Budi) ini hanyalah penulis novel fiksi yang masih unyu-unyu. ;)

Lalu saya teringat, begini jugalah dulu ketika saya mengajak teman-teman membuat Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka. Action! Action! Action! Saya bilang pada tim kecil saya (termasuk ke diri sendiri), tulis saja apa yang ingin kalian tulis! Masalah hasil atau pun editing, itu urusan belakang. Sebab, kalau terlalu lama berpikir atau terlalu banyak rapat, kapan lagi menulisnya?

Penampakan PRIMA

Halaman 1,2,3,4

Halaman 5,6,7,8

Tapi, ada sentilan sedikit waktu saya ke kampus menghadiri pembukaan ujian skripsi 5 November lalu. Siska bilang ada yang kurang setuju dengan kemunculan PRIMA yang tiba-tiba dan tanpa konfirmasi ke salah satu UKM kampus. Katanya UKM itu juga punya proker menerbitkan MADING (yang sebenarnya jelas berbeda dengan KORDING). 

Kalau menurut saya sih, berkarya ya berkarya saja. Kalau ada karya mahasiswa lain, jangan langsung nyinyir. Seharusnya justru di-support. Lagipula, saya dan tim memberi kesempatan sebesar-besarnya jika teman-teman lain mau bergabung. Saya berharap, PRIMA bisa memancing bakat-bakat menulis mahasiswa lain yang mungkin saja butuh penyaluran. Bukankah akan lebih bagus kalau setiap mahasiswa punya karya? Sama seperti begini, masa iya saya harus dongkol ketika mahasiswa lain menerbitkan novel karena saya sudah lebih dulu punya novel? :P

Tuesday, 22 October 2013

Iseng-Iseng Alhamdulillah

0 comments
Ini ceritanya kemaren aku iseng-iseng ngetik nama sendiri di google. Ya, emang bukan kali pertama sih... aku termasuk doyan iseng yang beginian. Suka aja, kadang bisa nemuin sesuatu yang 'mengejutkan' entah itu postingan jaman batu, komenan di blog orang, atau postingan orang lain yang ada nama kita di dalamnya. Nah, gak sengaja keluarlah namaku di website-nya KOMPAS. 

Penasaran, soalnya setelah tahun lalu nyobain Kompas Kampus, aku gak ngerasa kirim-kirim lagi, apalagi tertulisnya Cerita Pendek Oleh: Annisa Ramadona. Yang kutahu, cuma ada dua orang di Indonesia yang pake nama ini. Satunya aku, satu lagi anak SMANSA manalah itu. Berhubung gak langganan e-paper-nya, jadi gak bisa liat cerpen apa itu. Untungnya, ada sepotong kalimat pertama yang masih bisa kubaca. Jadi langsung kucek di folder kompi. Ternyata ada, aku ngirim cerpen itu ke Kompas Anak, tepat setahun yang lalu. Oalah... itu jaman aku baru-baru menang lomba cerita anaknya WR. :D



Makin penasaran, pulang dari PMSB, aku ajak Bang Dian nyari koran Kompas edisi 20 Oktober 2013. Ada lima tempat yang kami mampiri sepanjang perjalanan pulang, tapi semuanya geleng kepala. Sudah dibalikin katanya. 

Gak mau nyerah, tadi pagi aku sama Bang Dian mampir di agen koran Pasar Satelit Perum. Awalnya dia bilang gak ada, tapi mungkin di rumahnya ada. Si Mamang yang baik hati itu minta kami datang lagi jam 8-an. Sebelum pergi ke kampus, aku sama Bang Dian mampir lagi ke sana. Dan alhamdulillah, ADA! :D

Langsung dicek, dan alhamdulillah ADA lagi! :D Cerpenku beneran dimuat di Kompas Anak. Aih.... senangnya....


Ternyata iseng-iseng narsisin google itu ada gunanya juga, ya. Jadi, kalo belum pernah nyoba, kudu-musti-harus-wajib! Siapa tau iseng-iseng alhamdulillah juga ;)

Saturday, 6 July 2013

Novel Cinta Harus Memiliki ~ Coming Soon

6 comments
Ya, Allah... Alhamdulillah banget... Rasanya surprise waktu tadi liat ini. Dag-dig-dug-serr... Akhirnya setelah satu... dua... tiga... hmm... empat bulan menunggu, Cinta Harus Memiliki sekarang tinggal antri di percetakannya, terus... beredar deh di seluruh toko buku Nasional. Yeyy... Makasih Medpress.Fiksi.... Makasih Mas GRS.... Di tanganmu kok kayaknya novel ini jadi kereeen kece badai, ya. Sampe serr serr gimana gitu waktu baca blurb-nya. :D

Penulis: Annisa Ramadona
Penyunting: Gari Rakai Sambu
Penerbit: Media Pressindo
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 164 halaman
ISBN: 978-979-911-329-0

“Kalo kamu gak bisa memilikinya, kurangilah cintamu, Ray. Berjuanglah untuk mencintai apa yang kamu miliki…”

                                                        ***

Tadinya kau bagiku adalah udara, ada namun tak terlihat. Tak sedikit pun ulahmu yang aneh itu menarik perhatianku. Termasuk ketika dengan bodohnya diam-diam kau gores nama kita di Pohon Cinta. Sejak saat itu takdir seperti mencatat kau dan aku dalam sebuah kutukan indah bernama cinta.

Lama-kelamaan, kau kian menjelma serupa udara yang sebenar-benarnya. Tanpa menghirup kesejukanmu, aku tak akan bertahan hidup walau sedetik saja. Tanpa kamu, aku hanyalah kulit dan tulang tak bernyawa.

Sebagian orang ditakdirkan untuk memiliki apa yang dia cintai. Tapi sebagian lainnya ditakdirkan untuk mencintai apa yang ia miliki. Harus kuakui, memiliki cintamu adalah kutukan terindah yang teramat berarti di hidupku.

Friday, 5 July 2013

Bayang Bayang Haram

0 comments
Bukit Siguntang, gambar dari sini
Kulangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang dipenuhi daun-daun kering. Siguntang tak begitu ramai hari ini. Hanya ada beberapa muda-mudi yang tengah bercengkrama di beberapa titik rindang. Ada yang bersama kekasih, ada pula yang menggerombol bersama teman-temannya.

Kujinjing gitar dengan langkah hati-hati, memilih target yang akan kuhibur dengan petikan gitar diiringi suara sumbang Roni. Ya, aku tak pernah sendirian sejak bertemu anak itu lima bulan yang lalu. Di mana alunan gitarku, di situ juga pasti terdengar suaranya, mengalun pilu.

Roni memang tak seharusnya berada di sini. Ia tak punya bakat untuk menggembel sepertiku. Tubuhnya tinggi semampai. Rambut, wajah, dan gigi-giginya bersih. Waktu pertama kali kami bertemu, pakaian yang ia kenakan juga masih terlihat rapi. Saat kupetik gitar menghiburnya, Roni malah menangis menjadi-jadi. Butuh waktu lama hingga akhirnya ia bercerita.

“Aku tak tahu apakah ini keputusan yang benar. Aku hanya berharap bisa hidup dengan benar. Dengan orang yang benar,” ucapnya mengakhiri kata.

Entah malaikat apa yang merasukiku. Aku begitu tersentuh pada penuturan anak tiga belas tahun itu. Ketika ia memohon ikut mengadu nasib bersamaku, aku pun tak kuasa untuk tidak setuju.

“Aku mungkin tak sepenuhnya benar, Roni. Tapi kau bisa pegang janjiku. Aku takkan mengajarimu mencuri, juga takkan pernah memaksamu menjual diri,” janjiku padanya, membuat senyum merekah untuk pertama dan terakhir kalinya.

Ternyata berbuat baik tak semudah mengucapkannya. Malaikat dan setan buru-buru bertukar tempat ketika aku dan Roni mulai saling menggantungkan diri. Kedekatan emosional mungkin diawali oleh kesamaan nasib kami berdua.

Aku dan Roni sama-sama kabur dari rumah, melarikan diri dari orang-orang yang telah membesarkan kami dengan pamrih. Tak ada yang gratis. Dirawat oleh orang yang tak sedarah membuat kami harus membayar budi dengan pergolakan hebat di dalam hati. Jika Roni dipaksa mencuri dan menjual diri, aku dipaksa menggadaikan keyakinan dengan menggantungkan nasib pada ilmu hitam, pada praktek perdukunan.

***

“Ini bulu perindu untuk orang-orang yang ingin terus disayang,” kudengar Mak Nin tengah bercengkrama dengan pelanggannya. Aroma kemenyan, dupa, dan bunga tujuh rupa membuat dadaku sesak, entah mengapa.

“Ambilkan air dan garam!” Mak Nin memaksaku bergerak walaupun ogah-ogahan.

“Air ini dicampur tiap kali suamimu minum, sedangkan di sekeliling rumah, tabur garam ini sebelum fajar menyingsing,” jelasnya seraya menyerahkan sebotol air dan sebungkus garam yang ia serobot dari tanganku.

“Jangan lupa Jumat depan kembali lagi ke sini. Bawa mahar yang sudah Mak sebutkan tadi.” Kalimat pamungkas ini tak henti-hentinya membuat hatiku makin menggerutu.

“Mak tahu kau tak suka. Tapi inilah cara Mak membesarkanmu! Cuma ini cara agar kau bisa makan, bisa punya tempat tinggal dan pakaian!” Mak mencak-mencak saat tamunya telah pamit pulang. Sebagai ganjaran atas hatiku yang sejak tadi menggerutu, ia tak henti mengomel sambil tetap mengayunkan rotan, mendaratkan benda itu di telapak tanganku. Berkali-kali. Makin kencang meskipun aku telah sesenggukan.

“Malam ini jangan keluar kamar. Mak ada tamu!” Akhirnya Mak melemparkan rotannya ke lantai. Tanganku perih bukan main tapi hatiku lebih perih lagi. Aku tak punya pilihan, memang.

Mak Nin dukun beranak yang kini beralih menjadi paranormal gadungan. Ia sering berbohong tentang mahar, mandi kembang, rantai babi, bulu perindu, dan beragam jenis barang mistik lainnya. Ia juga menipu pelanggannya yang haus kekayaan dengan pura-pura melipat gandakan uang. Seperti malam ini.

Aku mengintip praktek Mak Nin dari celah pintu kamarku. Lampu dimatikan sejak tamu itu datang membawa puluhan juta uang. Yang lalu disusun rapi dalam kardus. Menurut Mak Nin, uang itulah yang nanti akan berlipat ganda. Ia mempersilakan tamunya mandi kembang tujuh rupa, kemudian disiapkannya segelas susu yang sudah terlebih dahulu ia seduh dengan obat pencahar.

“Minumlah, ini akan membuatmu lebih kuat. Selama ritual berlangsung, jangan pernah tidur, jangan berteriak, dan jangan buang hajat.” Aku hafal betul kalimat ini.

Malam makin larut ketika Mak Nin mulai komat-kamit. Ia beserta orang kepercayaannya mulai membakar kemenyan dan dupa. Aku mulai merasa sesak. Asap yang kian pekat memenuhi seisi rumah dengan aroma pemakaman. Bulu kudukku berdiri, membuatku tergerak untuk segera menutup pintu kamar. Aku tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.

Kututup telingaku dengan bantal, berharap erangan makhluk jadi-jadian itu tak terdengar. Piring-piring yang mulai pecah bergantian dengan teriakan tertahan dari tamu Mak Nin yang ketakutan. Namun, bisa kutebak puncak ketakutan itu akan berakhir sebentar lagi.

“Stop, Mak!” Suaranya terdengar tak tahan. Lelaki itu cepat-cepat melesat ke WC. Saat itulah Mak Nin dan pesuruhnya beraksi, menukar kardus uang dengan kardus berisi tumpukan koran menyerupai uang. Lampu telah menyala ketika lelaki tadi kudengar kembali melangkah ke ruang ritual. Mak Nin memasang tampang prihatin sekaligus menyesal.

“Kita tadi hampir berhasil kalau saja Adik tidak kebelet buang air dan membatalkan prosesi ritual yang seharusnya suci,” Mak begitu pintar berakting. Lelaki itu percaya begitu saja, ia berjanji akan datang kembali dengan mahar yang lebih banyak. Mak Nin kemudian mengantar sampai pintu keluar. Ia masih memasang wajah pilu sesaat sebelum lelaki itu benar-benar hilang ditelan malam.

Wajah Mak Nin malam itu benar-benar menyulut emosiku. Diam-diam kuambil kardus berisi uang asli milik tamu tadi. Kubawa keluar. Dengan berlagak sebagai Robin Hood, kubagikan saja uang itu pada gelandangan. Aku memutuskan untuk tak pulang. Menggembel bagiku jauh lebih baik daripada mengabdikan diri pada Mak Nin, sekalipun aku berhutang budi. Malam itu adalah malam terindah, malam terbebasnya aku dari pergolakan hati.

Tapi ketika pagi menjelang, aku tersadar bahwa tak ada lagi tempat pulang. Aku harus berebut dengan gembel-gembel lain sekedar untuk mendapatkan makan. Aku bimbang, mendadak bayangan Mak Nin menyusup, membuatku ketakutan. Dan setan begitu cepat menghampiri. Mengajakku berlindung pada Narkoba yang kudapatkan dari preman di kolong jembatan.

***

Roni kerap ikut tersiksa menyaksikan aku terus berhalusinasi di bawah pengaruh obat-obat terlarang. Aku tak bisa lepas dari jerat setan yang selalu membawa Mak Nin dan ritualnya, merasuki hidupku yang kian tak karuan. Tanpa bius Narkoba, aku seakan dikejar-kejar aroma kemenyan.

Pernah dengan sengaja Roni menyembunyikan hasil mengamen kami agar aku tak bisa membeli Putau. Aku mengamuk lantas memukulinya dengan rotan, persis seperti yang dulu Mak Nin lakukan. Pernah pula aku membuat Roni begitu kalut ketika seluruh tubuhku penuh keringat dingin sebesar biji jangung. Mata dan hidungku berair, aku menggeletar, menggigil. Roni berhamburan mencari preman, mengemis barang itu meski sebagai gantinya ia harus ikut mengedarkan.

Ah, Roni. Kau masih terlalu dini untuk mencecap hidup yang begitu keras ini. Jangan pedulikan hidupku lagi. Kehidupanmu jauh lebih berarti. Pergilah, jauhi aku agar setan-setan tak ikut menggerogotimu. Kau masih muda, teman. Masih punya masa depan.

Diam-diam kuambil seutas tali, kugantungkan diri di pohon Mahoni. Aku memutuskan untuk mengakhiri kontrak kehidupan ini. Langit gelap mendung, angin kencang seakan mendukung. Aku menggelepar hebat, terayun-ayun. Sketsa jiwaku terlihat, hingga kemudian lamat-lamat memudar, kelam. Bayang-bayang haram itu menghitam.

***

Sunday, 30 June 2013

Gerobak Alhamdulillah~Aku Melawan Korupsi

0 comments
Setiap pagi Ica memasang tampang cemberut sambil sesekali menendangi kerikil-kerikil kecil yang ia lalui sepanjang jalan. Ia terus menggerutu di belakang Ayah yang mendorong gerobak tekwan dengan penuh perjuangan. Ica sengaja melangkah pelan-pelan agar ia dan Ayah tak berjalan berdampingan.

Sejujurnya Ica tak ingin pergi ke sekolah bersama Ayah. Ia sudah SMP sekarang, sudah bisa menyeberang jalan sendiri, sudah bisa membedakan mana orang baik, mana penculik. Ica sudah besar. Malu rasanya jika pergi sekolah masih diantar Ayah. Terlebih lagi, Ayah bukan seperti ayah teman-teman yang mengantar anaknya dengan motor dan mobil pribadi. Ayah dan Ica hanya jalan kaki, beriring-iringan dengan gerobak bertuliskan “Alhamdulillah”.

“Perhatikan guru, jangan banyak main,” ucap Ayah ketika mereka akhirnya tiba di depan sekolah. Ica mengangguk, cepat-cepat menyalami Ayah. Ia tak ingin ada yang tahu bahwa ayahnya hanya seorang tukang tekwan keliling. 

Cover Antologi Aku Melawan Korupsi

Tiga paragraf pertama di atas adalah potongan cerita anak yang kuikutsertakan dalam lomba cerita hari anak nasional 2012 oleh Writing Revolution. Alhamdulillah, dari 300-an naskah peserta, Gerobak Alhamdulillah bisa jadi juara 2. Nanti buku antologi ini akan didistribusikan di seluruh toko buku nasional. :)

Saturday, 29 June 2013

Ibuku dan Facebook

2 comments
Hatiku tak henti-henti menggerutu. Dinginnya pagi ternyata tak mampu membekukan emosiku. Aku benar-benar marah pada keadaan. Pada kehidupan yang tak pernah memberikanku keadilan.

Aku kesal pada Ibuku. Setelah sembilan tahun lalu ia membuatku putus sekolah karena tidak mampu, hari ini demi sekolah adikku, ibu tega mengorbankan uang tabungan hasil tetes keringatku sendiri. Padahal uang itu telah kurencanakan untuk membeli HP sore nanti. Ah, Ibu begitu tega merampas kebahagiaan yang baru saja ingin kunikmati.

“Kemarin Ibunya Sisi nge-add, setelah ku-konfirm kulihat-lihat timeline-nya. Kayak anak muda, ih amit-amit,” suara sumbang Tante Tati riuh rendah bersama ibu-ibu lain. Pembicaraan seputar facebook memang lebih mendominasi. Meskipun jejaring sosial baru sudah bermunculan, facebook sepertinya tetap di posisi tertinggi. Ibu-ibu ini amat bersemangat ketika bercerita status si Ini dan si Itu, atau tentang comment si A, si B, juga si C.

Aku membereskan piring kotor, mengelap meja yang terkena tumpahan kecap dan kuah tekwan. Tak habis pikir, bisa-bisanya mereka jorok begitu. Tiap kali mereka bubar, pekerjaanku menjadi lebih banyak. Karena saking asyiknya bercerita, ada saja ibu-ibu yang menumpahkan sesuatu di atas meja.

Tiga bulan terakhir, aku menjadi kenek di warung tekwan Mang Cek. Dengan upah sepuluh ribu perhari, kukumpulkan uang untuk membeli HP yang bisa facebook-an. Walau hanya mampu membeli keluaran Cina, aku sudah begitu bahagia. Toh, selama ini aku memang tak pernah ingin punya apa-apa. Kemiskinan yang diturunkan Ibu membuatku tak berani untuk sekedar bermimpi.

Keinginan ber-facebook juga terlintas karena aku terlalu sering mendengar perbincangan ibu-ibu di warung tekwan ini. Pelanggan Mang Cek rata-rata ibu muda yang tengah menunggu anak-anaknya bersekolah di SD yang berada tepat di seberang warung Mamang. Biasanya mereka datang bergerombol, sesuai geng masing-masing.

Seperti rombongan Tante Tati yang usil mengomentari Ibunya Sisi, ibu-ibu lain pun dengan penuh semangat menggunjing tentang suami sampai urusan remeh-temeh ibu-ibu yang tidak termasuk dalam grupnya. Perang status, comment-comment pedas, dan pamer foto profil semakin membuatku penasaran. Bagaimana rupa facebook sebenarnya? Bagaimana bisa ibu-ibu ini tak seperti Ibuku?

Ibuku tak tahu apa itu facebook. Ia juga tak pernah mau tahu. Ibu hanya tertarik pada Kemplang Bakar dagangannya. Ia menargetkan paling tidak tiap harinya lima bungkus Kemplang isi 22 keping laku terjual. Dengan harga jual sepuluh ribu, ibu bisa memperoleh keuntungan empat ribu rupiah perbungkusnya. Jika lima bungkus Kemplang terjual, maka dua puluh ribu keuntungannya itulah yang kemudian ibu belanjakan untuk keperluan kami.

Ibu selalu bangun lebih pagi dari siapa pun, bahkan sebelum ayam jantan berkokok, ia telah sibuk dengan setumpuk cuciannya. Bukan pakaianku, bukan pakaian kami. Ibu menerima upah mencuci pakaian tetangga guna menambah pendapatan. Untuk tenaga yang ia keluarkan itu, ibu dibayar seratus lima puluh ribu perbulan. Uang itu dipergunakan ibu untuk membayar keperluan sekolah adikku.

Bapak telah pergi ketika aku berumur tujuh tahun. Untuk membesarkan aku dan adikku yang baru lima tahun, ibu pontang-panting bekerja serabutan. Tak ada sanak keluarga. Ibu memang yatim piatu sejak ia memutuskan merantau ke Palembang dan menikah dengan Bapakku yang hanya kuli bangunan.

Meskipun penghasilan Bapak pas-pasan, hari-hari kami tetap penuh kebahagiaan. Ya, walaupun akhirnya masa-masa indah itu harus berakhir tragis. Bapak meninggal karena kecelakaan dalam proyek yang tengah ia kerjakan. Sejak itulah kerasnya hidup mulai kurasakan.

Aku terpaksa putus sekolah demi membantu ibu menjaga adikku sementara ia bekerja sebagai pembantu. Mahalnya kebutuhan pokok, membuat ibu terpaksa harus menyambi berjualan bawang di pasar pagi. Ibu juga pernah mencoba-coba berwirausaha dengan membuka warung pecel di depan gubuk kami, tapi usaha itu tak bertahan lama. Sayur-mayur rebusan yang tak laku hari itu akan basi, padahal modal belum balik sama sekali. Ibu sering nombok. Karena itulah ia akhirnya memilih menjadi tukang cuci.

Foto kemplang pinjam dari sini
Berjualan Kemplang Bakar baru ibu lakoni dua tahun terakhir. Kala itu ia diajak majikannya -tetanggaku yang mengupahkan cuciannya pada ibu- mudik ke OKI. Di sanalah ibu berkenalan dengan Kemplang Bakar. Ibu menggunakan uang pegangannya yang hanya sepuluh ribu untuk membeli Kemplang mentah. Ibu belajar cara memanggang, juga cara membuat tempat arang. Sepulangnya ke Palembang, Ibu langsung mencoba peruntungan.

Kemplang mentah yang Ibu beli dengan harga dua ratus, dijual Ibu dengan harga lima ratus setelah dipanggang. Tetanggaku menyukainya. Sebagai salah satu kuliner khas Palembang, Kemplang seakan menjanjikan secercah peluang.

Tiap harinya, Ibu mulai memanggang setelah cucian ia jemur di halaman. Sebelum itu, ibu akan terlebih dahulu menyiapkan sarapan. Aku dan adikku yang terbiasa bangun selepas azan subuh berkumandang, akan mendapati ibu tengah memanaskan arang.

Karena rumah kami tidak terletak di perkampungan Kemplang Bakar yang terkenal itu, ibu terpaksa harus menjajakan dagangannya ke luar rumah jika ingin lebih laku. Mengharapkan penjualan di kalangan tetangga saja tentu tak akan mencukupi kebutuhan kami. Ibu harus berkelana membawa dagangannya dari perumahan satu ke perumahan lainnya. Sejauh yang kutahu, ibu pernah menempuh perjalanan dari Pasar Satelit Sako sampai ke sekitaran Palembang Square dengan berjalan kaki.

“Tahu nggak kabar terbaru? Si Santi anaknya Bu Roni yang nomor dua itu dibawa kabur oleh kenalan barunya di facebook.” Suara Tante Meri membuyarkan ingatanku akan Ibu. Sambil mengiris model pesanan grup Tante Meri, aku terus mengikuti alur cerita mereka.

“Heran, padahal sudah tahu facebook itu dunia maya, masih ditanggapi juga. Di dunia maya itu kita nggak pernah tahu siapa lawan siapa kawan. Jangan terlalu dipercaya. Kan orangnya nggak kelihatan juga.” Kali ini Tante Linda menggebu-gebu menimpali. Meskipun hanya empat orang, warung Mang Cek terdengar gaduh sekali lantaran ibu-ibu itu kian panas bersahut-sahutan.

Merenungi pembicaraan mereka, membuatku teringat kembali pada Ibu. Kekesalanku yang tadi pagi begitu memuncak, perlahan surut. Begitu egoisnya aku jika demi sesuatu yang semu, rela kukorbankan masa depan adikku. Putus sekolah adalah garis hidupku, tapi tidak untuk Si Bungsu. Ia harus mengenyam pendidikan agar hidupnya kelak lebih baik dari aku dan ibu.

***

Hujan di pangkal malam menambah kecemasanku menantikan ibu yang tak kunjung pulang. Tak biasanya ibu pulang malam begini. Biasanya tak lama setibanya aku dari tempat kerjaku, ibu akan menyusul muncul di ambang pintu. Kami akan membersihkan diri untuk persiapan salat magrib berjamaah. Kebiasaan yang diterapkan Bapak ketika ia masih ada itu tetap kami jaga. Tapi meski azan isya telah terdengar di kejauhan, ibu masih belum juga tiba. Hatiku tak karuan, apalagi mengingat tadi pagi aku sempat ngambek lantaran urung facebook-an.

“Assalamualaikum.” Suara Ibu akhirnya terdengar di balik pintu ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Buru-buru kusambut salam Ibu sambil membukakan pintu. Langsung kuserbu ibu dengan pelukan. Tangisku pecah. Sungguh, saat ini kusadari bagiku memiliki Ibu adalah kebahagiaan yang tak mungkin bisa dikalahkan oleh sekedar facebook-an.


***

Monday, 10 June 2013

Snow in the Heart

2 comments
SNOW IN THE HEART: Kita semua memang harus berpisah, kan?

Inilah salah satu kisah terbaik dalam lomba #JAPANINLOVE Diva Press 2013 yang diikuti ratusan anak muda dari seluruh pelosok nusantara. Kisah-kisah yang menggugah hati kita bahwa cinta itu begitu dahsyat meronai hidup setiap kita. Plus, latar unik budaya Jepang yang begitu kental membingkai semua cerita ini.

Inspiring!
Lagi fokus-fokusnya nulis novel, info lomba #JAPANINLOVE menggelitikku. Lalu, mulai mikir-mikir mau nulis apa. Soalnya ini setting-nya harus Jepang banget. Berhubung sudah lama gak baca komik, jadi rada ngeraba-raba.

Karena ngebet pengen ikutan, aku semedi di boncengan Bang Dian. Emang gitu, aku kalo lagi nyari ide suka tenggelam dalam imajinasi sendiri dan gak peduli sepanjang perjalanan dia cerita apa.

Dapetlah itu ide. Selanjutnya aku browsing kota di Jepang yang pengen kujadiin latar cerpenku. Lanjut nonton film dan anime juga biar dapet feel-nya. Gak cukup di situ, aku beli dua komik serial cantik juga.

Setelah semua siap, aku mulai nulis. Setengah hari kelar, terus kuendapin sampe besoknya editing dan kirim. Alhamdulillah, setelah tuntas hajat yang satu itu, aku bisa fokus lagi nulis novelnya :D

Pas pengumuman, gak nyangka banget ternyata bisa lolos jadi salah satu kontributornya. Belum jadi juara sih. tapi kan lumayan, soalnya ini yang nyelenggarain penerbit mayor yang kalo bikin event pesertanya pasti bejibun. Lomba yang ini aja persertanya sampe 700-an.

Cerpenku judulnya Ikiru Chikara. Tokoh utamanya Rin. Sejak ibunya meninggal empat tahun lalu, hubungan Rin dengan sang ayah menjadi kaku. Ayah Rin yang gila kerja memang mencukupi segala keperluan gadis itu. Tapi Rin justru kesepian. 

Hingga akhirnya ia berteman dengan Miu. Dari Miu-lah Rin mengenal manga. Miu membantu Rin membeli majalah manga, alat-alat gambar, juga berkomunikasi dengan editornya. Hanya saja, Rin selalu kepentok soal cinta. Gadis penyendiri itu belum tau gimana seharusnya menggambarkan cinta. Dan Miu lagi-lagi membantu Rin. Mereka bertukar tempat selama tiga hari. Miu menitipkan Rin pada pacarnya, Makoto. Lalu apa yang terjadi selama tiga hari itu? Baca sendiri lanjutannya di buku Snow in the Heart, ya :D

Cerpenku dalam Snow in the Heart
Aku putus asa. Kupandangi tumpukan manuscript paper yang tergeletak di atas meja. Ada puluhan name yang menjadi sia-sia karena editor manga-ku terus-terusan menolaknya. G-Pen, aneka macam pena, beragam jenis pensil, penghapus, kuas, tinta, dan Screentone Burnisher yang tetap pada tempatnya sejak seminggu lalu itu membuatku makin tak berdaya. Belum ada keinginan sedikit pun untuk menyentuh itu semua.

“Kekuatan manga terletak pada karakteristik yang jelas, pengembangan cerita yang meningkat, dan juga jiwa.”

Suara Kenichi-san kembali terngiang ditelingaku. Pertemuan singkat dengannya terakhir kali itulah yang mematahkan mimpiku untuk menjadi mangaka.

“Romansu manga ini kosong. Terlalu gelap dan sulit dimengerti, kaku, juga kurang penjiwaan. Rin, kamu harus menggambar manga yang bisa dinikmati remaja perempuan.”

Aku hanya bisa mematung mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkannya.

“Untuk membuat cerita cinta yang realis, setidaknya kamu harus benar-benar tahu bagaimana rasanya cinta.”

Dan kalimat terakhir itulah yang membuatku diam di tempat. Bagaimana rasanya cinta?

Eh, tapi ada sedikit kesalahan yang kayaknya lolos dari mata editor. Aku nulis JKT48 sebagai idola remaja Jepang. Seharusnya yang kutulis itu AKB48. Hehe... 

Tapi secara keseluruhan aku suka. Apalagi proses terbitnya cepet banget. Buku ini malah jadi antologiku yang pertama masuk Gramedia. Padahal ada beberapa event yang lebih dulu kuikuti dan lolos, yang insyaallah juga bakal edar di Toko Buku Nasional. Ada antologi CENAT-CENUT MATEMATIKA (Calon Penerbit: Gramedia Pustaka Utama), STORYCAKE FOR THANKFUL HEARTS (Calon Penerbit: Gramedia), AKU MELAWAN KORUPSI (Calon Penerbit: WR Publishing). 

Terus, masih menanti dua novel yang sedang dierami Penerbit MP dan DP juga. Ah, alhamdulillah.... Mimpi 12 tahun lalu itu mulai terwujud :)

Snow in the Heart di Gramedia Palembang Square

Saturday, 8 June 2013

Dua Ballerina

0 comments
Gambar dari sini
Aku merasa ada yang tidak beres. Sejak kuutarakan keinginanku bergabung dengan kelas ballet, Mama mendadak jadi over-protectif. Jam sekolahku selalu dikontrol. Kalau pulang telat sedikit, langsung diinterogasi. Mama juga kerap menelepon wali kelas untuk memastikan keberadaanku. Padahal biasanya mama tak begini. Waktu SMP, aku bebas ikut ekskul apapun. Sastra, PMR, bahkan OSIS. Mama tak pernah mempermasalahkannya. Entah kenapa kali ini larangan mama keras sekali.

“Mungkin karena ballet itu gak populer di sini, Rin.” Alta melontarkan kemungkinan-kemungkinan atas perlakuan mama.

“Bisa jadi. Tapi bukannya itu justru bagus? Seingatku mama paling suka kalo aku mencoba hal-hal baru.” Aku berpikir sejenak. Alta mengernyitkan dahi. Teman sebangkuku ini ikut memutar otak.

“Kalo gitu, mungkin ballet bukan hal baru bagi mamamu. Mungkin ada sesuatu yang pernah terjadi tanpa kamu ketahui.” Aku merenungi ucapan Alta. Bisa jadi memang ada sesuatu yang tidak kuketahui. Selama ini mama cukup terbuka padaku. Kalau ada penolakan pada ide dan keinginanku, mama pasti mengutarakan alasannya dengan jelas. Tapi tidak jika kutanyakan perihal kelas ballet ini. Mama hanya berkata “tidak” tanpa kutahu apa alasannya.

“Terus gimana? Kamu jadi ikutan gak?”

“Tentu. Dari dulu aku pengen banget bisa nari ballet. Aku masuk SMA ini juga karena ada ekskul balletnya. Jadi gak mungkin dong aku nyerah gitu aja?” Alta tersenyum mendengar penuturanku yang begitu menggebu-gebu.

“Jam pulangnya gimana? Mama kamu kan suka nelponin sekolah kalo kamu telat.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebetulnya sama sekali tidak gatal, lalu mendesah keras nyaris putus asa.

“Nanti kita pikirin lagi,” kataku akhirnya.

***

Alunan musik dari kelas ballet menuntun langkahku menuju ruangan latihan itu. Aku mengintip di balik pintu. Barre dipenuhi siswi yang berlatih posisi berdiri dan melekukkan punggung. Dengan leotard biru menyala, pemandangan itu menggodaku untuk melangkah masuk. Entah mengapa, aku merasa begitu akrab dengan suasana seperti ini.

“Lerina?” Suara Miss Letta menyentakku. Ia tersenyum melihatku terkesima memandangi mereka.

“Ayo masuk!” katanya lagi. Aku mengangguk, lalu melangkah ragu-ragu mendekatinya.

“Kamu gak mau coba?”

“Hari ini belum, Miss. Ada jadwal privat. Sebentar lagi mama pasti jemput,” jawabku. Miss Letta tersenyum, lalu sibuk memasang pointe shoes-nya.

“Kamu harus cepat. Penerimaan anggota baru ditutup akhir minggu ini.” Miss Letta menepuk pundakku, lalu melangkah dengan anggun ke kerumunan anggota ekskul ballet yang telah menunggunya. Aku memandangi mereka lagi. Kali ini dengan perasaan gelisah yang tiba-tiba muncul begitu saja.

“Aku harus ikut, dengan atau pun tanpa izin mama,” tekadku.

Ma, Lerin kerja kelompok di rumah Alta. Nanti pulangnya dianterin.

Kukirim pesan singkat itu pada mama. Setelahnya, dengan mantap kakiku menuju Miss Letta. Aku yakin tak pernah merasa seyakin ini sebelumnya. Aku ingin menjadi ballerina!

***

Aku berjingkat-jingkat, masuk tanpa suara. Aku tahu ini sudah terlalu sore. Suasana di kelas ballet yang begitu menyenangkan, membuat waktu terasa bergulir terlalu cepat. Aku amat menikmati latihan-latihan dari Miss Letta. Dengan chiffon skirt yang ia pinjamkan, aku merasa tubuhku begitu ringan. Seperti telah terbiasa, aku bahkan mampu mengenakan pointe shoes milik salah seorang senior. Padahal, menurut Miss Letta, sebagai pemula seharusnya aku mengenakan ballet shoes yang soft itu.

Aku memutar kenop pintu kamar dengan sangat pelan. Pintu kamar terbuka. Mama duduk di atas tempat tidur, melipat tangan di depan dada sambil menatapku tajam.

“Dari mana saja?” Suara mama menyemburkan amarah. Aku tak mampu menjawab. Tak pernah kulihat mama begitu menyeramkan seperti sekarang ini.

“Mama ke rumah Alta, kamu gak ada.” Tatapan dingin dari mata mata membuat tubuhku bergetar hebat.

“Berapa kali mama bilang, jangan ikut kelas ballet? Kenapa masih ngeyel?” Bentakan mama menggema di dalam kamarku. Sepertinya kali ini ia benar-benar marah.

“Kamu harus merenungkan kesalahanmu!” Mama mencengkram pergelangan tanganku. Ia menyeretku ke arah kamar gelap.

“Renungkan baik-baik!” Mama mendorongku masuk ke kamar hukuman ini. Sesaat kemudian, ia mengunci pintu. Dibiarkannya aku terpekur sendirian. Aku terisak. Kupandangi sekeliling. Gelap dan pengap. Butuh waktu yang cukup lama hingga kemudian mataku bisa melihat isi kamar hukuman yang tak pernah kuidamkan ini. Sejak kecil, jika melakukan kesalahan fatal, mama selalu menghukumku di sini. Tapi itu sudah tak pernah dilakukannya lagi sampai hari ini.

Sebenarnya apa salahku? Apakah menggemari ballet adalah hal yang benar-benar terlarang? Aku tak mengerti jalan pikiran mama.

***

Secercah cahaya mentari masuk dari celah-celah ventilasi. Aku membuka mataku. Sepertinya sudah pagi. Dan mama belum juga membukakan pintu, kejam sekali. Aku tak menyangka, mama benar-benar tega menghukumku seperti ini.

Aku memandang ke arah cahaya. Inilah petunjuknya, pikirku. Cahaya itu membuatku mampu melihat daun jendela. Aku berjalan mendekati jendela itu. Meski beberapa kali kakiku tersandung barang-barang bekas, aku tak peduli. Ya, hanya satu tujuanku kini. Aku akan melarikan diri!

Sedikit bersusah payah, akhirnya aku berhasil mencapai jendela itu. Kucari cara untuk membuka gerendel jendela yang telah berkarat karena lama tak dibuka. Aku berpikir sejenak, lalu melayangkan pandangan ke segala penjuru, berharap ada yang bisa dimanfaatkan untuk mendobrak jendela. Tapi mataku kemudian menangkap kotak besar di bawah meja. Entah mengapa, kakiku tiba-tiba saja sudah melangkah ke sana.

Aku menggapai kotak itu, lalu membersihkan debu-debu di atasnya. Begitu familiar. Itulah alasan yang membuatku tak ragu untuk membuka tutupnya. Ballet shoes berwarna pink, pointe shoes krem, leotard dan chiffon skirt beragam warna pastel, juga ballet stocking berwarna krem, putih, dan pink. Kepalaku mendadak sakit melihat benda-benda itu. Rasa mual dan keringat dingin makin memperburuk keadaanku. Lalu tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.

***

Kepalaku rasanya mau pecah. Sesuatu terasa ingin keluar, enatah apa dan bagaimana caranya. Aku pun tak tahu sekarang ada di mana karena sekali pun ingin, mataku seakan tak dapat terbuka. Ada gambaran dan suara-suara berisik dalam pikiranku. Aku melihat diriku yang lebih muda berbalut leotard biru dan ballet shoes pink berdiri di barre. Dengan rambut di-bun, keceriaan tercetak jelas di wajahku. Mama berdiri di hadapanku, tersenyum lebar.

“Lerina, jadilah ballerina mungil kebanggaan mama,” bisiknya.

Lalu gambaran itu menghitam, berganti gambaran lain. Kali ini aku yang sedikit lebih dewasa, mengenakan pointe shoes berwarna krem tampak kelelahan sehabis sesi pointe work. Mama ada di sampingku, setelah menyerahkan botol minum, ia memijit punggung kakiku yang memang terasa pegal.

Belum sempat kucerna semua gambaran itu, pemandangan dalam benakku berubah lagi. Aku berdiri di tengah panggung megah. Memegang ujung chiffon skirt, kuberi salam pada tiga juri di hadapanku, lalu bersiap memulai tarian. Namun tiba-tiba teriakan histeris menggema. Sebelum sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, kurasakan sesuatu dari atas sana menghantam tubuhku. Seketika semuanya menjadi gelap.

“Harusnya mereka memastikan lampu panggug itu telah terpasang dengan baik. Aku akan menuntut penyelenggara kejuaraan ini. Bagaimana mungkin mereka bisa begitu ceroboh?” Suara mama terdengar di sela-sela raungan sirene ambulans dan isak tangis orang di sekelilingku. Lalu semua kembali menghitam.

Rasa mual makin menjadi-jadi. Gambar bergerak itu muncul silih berganti, membuat kepalaku serasa ingin meledak. Lalu seberkas sinar memunculkan gambaran baru. Mama membungkuk di hadapanku. Perlahan-lahan gambar itu makin jelas.

“Kamu sudah sadar, Rin?” tanya mama. Aku mengerjapkan mata, benda-benda di sekitarku sudah tampak jelas. Aku yakin betul, kini aku berada di kamarku sendiri. Sesuatu yang tadi terasa ingin keluar dari kepalaku pun, kini sudah tak ada lagi.

“Kamu gak apa-apa kan, nak?” Mama memelukku. Isak tangisnya tumpah.

***

Pagi mendung, dingin, dan hening. Biasanya pagi-pagi begini mama telah siap dengan seragam kerjanya. Sembari menungguku membenahi peralatan sekolah, mama akan menyiapkan sarapan di meja makan. Tapi pagi ini tak kudapati mama di dapur. Ketika kucari ia di ruang tamu dan ruang keluarga, mama pun tak ada di sana.

“Ma?” Aku membuka pintu kamar mama, lalu berjalan menuju tempat tidur. Mataku terbelalak saat melihat sepatu ballet tergeletak di atas lantai. Sepatu itu milik mama ketika ia masih menjadi ballerina. Aku tahu pasti, sepatu kesayangannya itu adalah pemberian terakhir dari papa.

Aku tertegun memandangi sepatu itu. Seketika, kesejukan menjalari hatiku. Dari kaca jendela kamar mama, kulihat di luar sana hujan tumpah. Tetesan air yang jatuh di kolam membuat bunga teratai bergoyang-goyang, menari dalam hujan yang kian deras.

“Kamu mau menari, Rin?” Tiba-tiba mama muncul di belakangku. Ia mengenakan leotard pink dan stocking dengan warna senada. Di tangan mama, kulihat ada leotard biru milikku. Airmata tiba-tiba turun dari pelupuk mataku. Aku bahagia ketika mama menggenggam tanganku dengan erat.

“Kamu masih mau jadi ballerina seperti mama, kan sayang?” Aku mengangguk, tersenyum. Kuraih leotard dan pointe shoes-ku. Mama juga mengenakan miliknya. Di luar, teratai masih menari-nari dalam iringan hujan. Di sini, ada aku dan mama, menari sebagai dua ballerina. 
***

Friday, 7 June 2013

Janji Sang Bayu

0 comments
Aku menunggumu, seperti biasa. Seperti saat-saat dulu, semasa kita bersama. Ketika angin berhembus menggoyangkan dedaunan di pohon-pohon Jarak. Ketika air pasang di bawah jembatan tempat kita berdiri, tegak. Ketika tanganmu dengan lincah menggerakkan nilon ke kiri dan kanan. Ketika itulah aku akan tersenyum memandangimu dan memandangi layang-layang, bergantian. Langit biru menjadi saksi bisu, betapa aku diam-diam mencintaimu.

“Aku ingin menerbangkan layang-layang sepertimu. Kapan kau akan mengajariku, Bay?”

Kau hanya mengulum senyum tiap kali kulontarkan pertanyaan itu. Sepertinya kau memang tak pernah berniat mengajariku. Entah mengapa.

“Anak perempuan itu main boneka, Nila. Di dalam rumah, bukan di sini. Matahari akan membakar kulitmu. Kalau kulitmu gosong, mana ada lelaki yang mau,” jawabmu jika aku benar-benar memaksa ingin tahu. Kau akan terkekeh melihatku yang bersungut-sungut lantaran mendengar jawaban yang menurutku sangat tidak masuk akal itu.

“Lalu mengapa kau tak pernah mengusirku pulang?”

Aku memang tak pernah ingin menyerah demi menyelami perasaanmu, meskipun aku tahu kau hanya akan menghadiahiku sebongkah senyum lagi sebagai jawaban atas pertanyaan yang selalu sama, nyaris kulontarkan setiap hari.

Tapi tetap saja, tak pernah kudapati jawaban dari bibirmu. Sampai sore. Pun ketika langit mulai jingga, ketika burung-burung mencari jalan pulang, ketika kau mengemasi nilon dan layang-layang sebelum toa masjid mengumandangkan panggilan Maghrib. Ketika itulah aku pun mengemasi cintaku. Kusimpan rapat-rapat dalam hati yang telah penuh sesak olehmu.

***

“Nila….”

Lalu sore itu kau memanggilku dengan nada yang tak biasa. Tak ada layang-layang. Tak ada nilon yang biasa kau pegang. Entah mengapa tiba-tiba kurasakan udara di sekitar kita mengering, menimbulkan perasaan aneh yang membuatku mendadak takut. Takut kehilanganmu.

“Ayuk Ya menguliahkanku di Palembang. Minggu depan aku berangkat.”

Kudengar suaramu menggeletar saat kau ucapkan kalimat itu. Sepotong kalimat yang seketika menghancurkan hatiku.

Tak ada yang mampu kukatakan, kulihat kau pun begitu. Sampai mentari tenggelam sebelum azan Maghrib berkumandang, kita masih saja terdiam. Kau dan aku membisu, memandangi layang-layang lain yang mendarat satu per satu.

“Tunggu aku, Nila. Setamatnya kuliah, aku akan mencarimu,” ucapmu lirih. Kau mengangkat kelingking kananmu tinggi-tinggi di hadapanku.

Aku tak mampu berkata sepatah kata pun karena perasaan yang bergejolak di dadaku rasanya begitu menyesakkan. Hingga bila kulontarkan kata, aku takut akan ada air mata yang turun mengaliri kedua belah pipiku. Dan aku tak mau kau melihat itu.

Aku hanya bisa memaksakan senyum, mengangguk dengan kuat seraya mengaitkan kelingkingku pada kelingkingmu.

“Sampai kapan pun, aku akan menunggumu,” batinku.

Kita menikmati jari kelingking yang masih saja bertautan, cukup lama. Hingga kemudian Maghrib memanggil kita untuk pulang.

***

Setelah kepergianmu ke kota, tiap sore masih kulewati seperti biasa. Menikmati angin sepoi yang memain-mainkan rambut ikalku. Dari atas jembatan, kulihat air pun beriak karena angin yang tadinya sepoi, kadang mendadak berubah kencang. Dedaunan bergesekan, seolah menyenandungkan rinduku padamu yang kian hari kurasa kian berloncatan, keluar dari hatiku yang makin penuh sesak olehmu. Kuharap, angin yang kurasakan ini bisa membawanya sampai kepadamu.

“Nila, ayo pulang!”

Angin tiba-tiba saja mengering ketika Ayuk Ya lagi-lagi memergokiku di sini. Kakak perempuanmu itu entah mengapa selalu saja memandangku iba. Ia akan memasang tampang memelas, memintaku meninggalkan jembatan ini, melarangku menunggumu lagi.

Dan aku selalu menjadi tak tega jika ia sudah begitu. Aku akan pulang bersamanya sambil berjanji dalam hati bahwa besok aku akan kembali lagi, menunggumu di sini.

***

Lantunan Tahlil terdengar begitu nyaring dari sini. Rumah kita yang hanya dipisahkan oleh pohon rambutan, membuat ayat-ayat dari rumahmu itu menyusup masuk ke rumahku. Anehnya, aku merasa dadaku begitu sesak karena itu. Pipiku menjadi hangat, kemudian disusul mataku yang mulai berair. Cepat-cepat kuseka sebelum ada yang melihat.

Aku tak tahu perasaan apa yang tengah melandaku. Kurasakan emosiku mendadak meledak saat kudengar tetangga yang melintasi rumahku menuju rumahmu berbisik-bisik menyebut nama kita. Lalu ketika mata kami bertumbukan, mereka langsung menundukkan kepala sambil mempercepat langkah kakinya menuju rumahmu.

***

Dan sore berikutnya aku kembali lagi. Menunggumu di jembatan tempat kita biasa menerbangkan layang-layang, berdua. Kuingat-ingat saat terakhir kalinya kita bersama. Hari itu adalah hari kepergianmu dari kampung halaman kita.

“Aku ingin jujur,” katamu tiba-tiba. Jantungku berdegub kencang karenanya.

“Aku tak ingin kau menerbangkan layang-layang karena aku senang melirikmu dari sudut mataku. Aku senang melihatmu memperhatikanku, Nila. Karena itu pula aku tak pernah mengusirmu.”

Kau menarik nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan, “Kupikir, kalau kulitmu gosong karena menungguiku main layang-layang, itu akan bagus untukku. Bukankah dengan begitu aku akan jadi satu-satunya lelaki yang menyukaimu?” Kau terkekeh. Semudah itu kau utarakan panjang lebar tentang perasaanmu. Sementara aku mematung, menata hatiku yang makin tak karuan karenamu.

“Nila, tunggu aku. Aku akan kembali untukmu.”

Lirih suaramu terdengar lagi. Mataku nanar, cairan bening perlahan turun tak terbendung.

Kau tahu, Bayu? Aku tak peduli meski semua orang bilang bahwa kepergianmu ke Palembang telah memisahkan kita untuk selamanya. Aku tak peduli meski mereka tak suka melihatku setia menungguimu setiap hari. Aku tak peduli, Bayu. Yang kutahu, di sini kau berjanji bahwa kau akan kembali, mencariku.

“Nila, berhentilah menyiksa dirimu sendiri! Sudah empat puluh hari, kau harus bisa mengikhlaskan kepergiannya!”

Ayuk Ya muncul lagi, mengubah suasana hatiku yang tadinya teduh, menjadi kering kembali.

“Kau harus bisa terima kenyataan, Nila. Kecelakaan kereta waktu itu telah mengambil Bayu, pergi selamanya dari kita!”

Kudengar isak tangis Ayuk Ya di sela suara sumbangnya tentangmu. Aku tak peduli. Aku tak mau percaya pada apa yang diutarakannya.

Yang kupercaya hanya satu, Bayu.

Janjimu.

Dan janji itulah yang setiap hari membuatku berdiri di sini, menunggumu seperti biasa. Seperti saat-saat dulu, semasa kita bersama. Ketika angin berhembus menggoyangkan dedaunan di pohon-pohon Jarak. Ketika air pasang di bawah jembatan tempat kita berdiri, tegak. Ketika tanganmu dengan lincah menggerakkan nilon ke kiri dan kanan. Ketika itulah sesungguhnya aku ingin mengatakan, “Aku mencintaimu, Bayu!”

*** 
Diterbitkan sebagai penulis tamu dalam buku
Sensei Cenat-Cenit, 27 Aksara 2013

Buku solo Chika Chan

Sunday, 7 April 2013

Semua Tentang Rindu

0 comments


Sang Bayu menyapaku
dibisikkannya lagu syahdu
tentang berjuta rindu
yang menusuk sampai ke kalbu


Tak ada yang mampu kunyanyikan
selain lagu-lagu syahdu
Tak ada yang mampu kutuliskan
selain sajak-sajak pilu
Tak ada lagi yang mampu kuungkapkan
semua hanya tentang “rindu” !


Tentang rinduku
padamu
yang menukik tajam ke permukaan hatiku
buatku kehabisan sabar
dan kurasa tak mampu lagi bendung hasratku
untuk bertemu


Aku ingin bertemu,
memandang dirimu yang kusayang
Aku ingin bertemu,
agar aku bisa tenang


“Tenang…!”
kubisikkan kata itu pada hati
yang didalamnya terdapat rindu yang berkecamuk
“Tenang…!”
kuulangi lagi kata itu
karena aku takut,
rindu itu remukkan bayangmu di hatiku!
 

Bayangmu menari-nari
sesekali hinggapi benak ini
lalu berlari
namun kemudian kembali lagi
sambil menyanyi-nyanyi
 
Sesekali ingin kau kutangkap
mendekapmu erat-erat
namun kemudian kusadari
itu bayangmu, bukan kau yang asli!

2005
---puisi galau jaman SMA :D

Thursday, 7 March 2013

(Dulu) Mau jadi Komikus

3 comments

Minat baca yang ditularkan oleh kedua orangtuaku awalnya dimulai dari cerita-cerita bergambar. Masih TK aku sudah disodori majalah Bobo dan majalah Aku Anak Saleh. Berhubung masih unyu, aku paling suka ngeliatin gambarnya seperti Kisah Bona dan Rong-Rong, Paman Kikuk dan Nirmala.

Beranjak SD aku mulai mengenal buku cerita bergambar dari Jepang. Yup, komik aka manga. Ceritanya yang seru dan gambar yang bagus membuatku sempat begitu menggilai komik. Komik yang paling kusuka (sampai sekarang) adalah Topeng Kaca. Dulu juga sempat suka (banget) sama Detektif Conan. Terus ada juga Throbbing Tonight, Mari Chan, dan seabrek komik berseri maupun serial cantik lainnya.

Saking sukanya baca komik, aku jadi suka gambar juga. Buku pelajaran berubah jadi buku gambar. Bahkan aku juga bikin buku sendiri dari kertas HVS. Niat banget pokoknya. Sempet kepikir juga mau jadi komikus karena selain suka gambar, aku juga suka nulis. Jadi klop!

Gambarku waktu SMP

Gambarku waktu SMA

Gambarku waktu nganggur


Sayangnya, niat itu gak keterusan. Waktu komik-komik keluaran terbaru mulai gaje ceritanya, aku jadi kurang minat beli atau pun pinjem komik. Apalagi setelah tamat SMA aku dihadapkan dengan berbagai realita kehidupan (ciyeh). Ya, akhirnya keinginan jadi komikus lenyap gitu aja.

Satu tahun terakhir, ketika mulai menggeluti dunia literasi lagi, kulihat adik laki-lakiku juga asyik sendiri dengan dunianya di depan komputer. Dia bisa seharian full duduk menghadap monitor demi berkutat dengan keyboard dan mouse. Awalnya aku heran, kupikir dia kayak anak laki-laki kebanyakan yang kecanduan game online. Waktu sesekali kuintip, ternyata dia sedang menggambar!

Aplikasi yang dia pake namanya Paint Tool Sai. Ini software buatan Jepang yang fungsinya sebagai tempat painting/pewarnaan gambar kayak gambar-gambar untuk komik Jepang itu. Kalo kuperhatikan, tampilannya masih sejenis Photoshop. Bahkan ada layer-nya juga. Tapi dilihat sepintas, kayaknya lebih rumit. Gak tau deh kalo dicoba.

Kadang ngeliat dia asyik banget sama gambarannya itu bikin aku ngiler pengen coba. Ya, walau gak sebagus gambaran dia, kan dulunya aku juga (pernah) suka gambar. Tapi berhubung aku mau fokus nulis dulu, jadi kuputuskan untuk gak 'serakah'.

Aku inget, dulu suka setengah-setengah. Nulis suka, gambar suka, Autocad bisa dikit, CorelDRAW dikit, Photoshop dikit. Semuanya nanggung. Gak ada yang sampe tuntas kutekuni. Makanya sekarang mau fokus satu dulu. Kalo udah 'dapet' baru deh icip-icp yang lain.

Sekarang, kalo butuh gambar untuk cover buku-buku 27 Aksara, aku request sama adikku itu. Jadi aman, gak perlu unduh gambar orang. Bisa minta sesuai cerita pula. Walau kadang emang masih suka gatel pengen gambar sendiri. Hehe.


Sepanjang Masa: gambar dia yang paling kusuka ^^

Dilarang Stop: waktu gambar ini dia kebingungan :D

Pejuang Hati: ini request-ku yang pertama kali


Nah, kemarin-kemarin aku jadi kepikiran gini, gimana kalo kami kolaborasi aja? Aku bikin ceritanya, dia yang gambar. Jadi kami bisa bikin komik, kan? ;)

Kalo mau intip karya adikku itu bisa di http://akbarbisul.deviantart.com/

Sunday, 3 March 2013

Harta Karun 12 Tahun Lalu

6 comments

Entah kenapa tiba-tiba hari ini aku kepikiran buat buka "harta karun" yang sudah lama tak kutengok sejak mereka kuselamatkan tahun kemarin. Dulu, ketika pertama terjun ke dunia literasi maya tahun 2011, kupikir harta ini sudah di negeri antah barantah karena setelah pindah rumah tahun 2008 lalu, aku membakar banyak kertas, termasuk buku harian. Sejak terjun ke dunia nyata selepas SMA, aku memang mencoba realistis. Aku tutup buku, tak mau menghayal jadi penulis, novelis, komikus, atau apa pun itu. Semua sebatas mimpi indah yang akan berakhir jika aku membuka mata dan mendapati kecarut-marutan dalam keluargaku.

Kursus komputer, bekerja, dan menjalani hidup sebagaimana manusia biasa, kupikir cukup begitu saja menjalani hidup yang sederhana ini. Aku mencoba menikmati, tak menggambar dan tak menulis lagi. Tapi rupanya susah, meski kubilang aku telah vakum, tapi sejujurnya aku tak pernah benar-benar meninggalkan mimpiku. Di sela-sela kejenuhan menunggui pelanggan, aku sering mencorat-coret nota dan membuat catatan di hp. Begitu pun ketika terlalu lelah merecap daily report, aku malah mengambil buku untuk menulis cerita sekedar me-refresh otakku. Ketimbang melihat angka-angka, mataku lebih senang melihat rangkaian kata.

Aku benar-benar meninggalkan mimpiku, justru ketika duduk di bangku kuliah. Empat semester kulalui tanpa menulis sama sekali. Tak ada cerita, tak ada puisi. Sampai akhirnya tahun 2011 aku menemukan Warung Antologi, Writing Revolution, dan grup menulis dengan seabrek lomba menulis online lainnya. Sejak itulah semangat menulisku muncul kembali. Mimpi-mimpi mulai memenuhi kepalaku lagi. Aku melompat-lompat kegirangan ketika masuk ke kehidupan tokoh-tokoh yang kuciptakan. Rasanya aku hidup lagi!

Pada satu episode Mario Teguh Golden Ways, motivator itu berkata, "Kesuksesan anda sekarang ini tergantung pada usaha anda 10 tahun yang lalu. Jika anda sukses sekarang, itu artinya bahwa apa yang anda lakukan 10 tahun yang lalu adalah benar."

Mengingat kalimat itulah akhirnya kuingat-ingat lagi apa yang kulakukan sepuluh tahun yang lalu. Ya, meskipun belum bisa dikatakan sukses, tapi sejak kembali menulis aku merasa "tidak galau". Aku tahu apa yang bisa kulakukan dan kukembangkan. Aku kini bertujuan. Bagiku, makna sukses (untuk sekarang) ialah menemukan apa yang benar-benar kuinginkan dan merasa nyaman serta bermanfaat ketika menjalaninya.

Dan ternyata, sepuluh-bahkan dua belas tahun lalu, yang kulakukan adalah menulisi buku-buku pelajaran serta kertas-kertas kosong dengan cerita yang menari-nari dalam benakku.


Tulisanku sejak 2001

Aku masih ingat, cerita pertama yang kutulis waktu itu bertema petualangan. Tentang lima sekawan memecahkan teka-teki secarik kertas berisi gambar dan simbol-simbol. Cerita itu awalnya kutunjukkan pada teman sebangku, lalu merambat ke teman di depan, kemudian berpindah-pindah dan dinikmati seisi kelas bahkan beberapa pembaca dari kelas lain. Karena tulisan pertamaku itulah, akhirnya ada trend baru di kelasku; mengarang.


Tulisan pertamaku: Masa Lalu Riris

Ending Masa Lalu Riris, 8 Mei 2001

Setelah cerita pertama tuntas, aku langsung bikin seri berikutnya. Tokohnya masih lima orang itu. Kali ini judulnya Roh Kucing Hitam. Ceritanya tentang penyihir yang balas dendam gitu :D


Tulisan ke dua: Roh Kucing Hitam

Akhirnya cerita berseri ini lanjut sampai seri keempat. Kuberi judul SMART DETECTIVE. Sayang, cerita ke tiga dan empat belum tuntas. Entah kenapa (lupa, hihi).


Aku nulisnya di buku yang sampulnya Conan, biar berasa detektif :D

Judulnya Lucu, padahal serial petualangan ^^

Sejak kecil, kedua orangtuaku memang telah membudayakan gemar membaca. Mungkin karena mereka juga dulunya pecandu buku. Hal itu ditunjukkan dengan lemari buku yang papa buat sendiri. Semua buku lengkap. Sampai-sampai sebagian buku harus kami tinggalkan waktu pindah rumah.

Awalnya aku disodori majalah Bobo, majalah Aku Anak Saleh, Cerita Nabi dan Rasul, Kisah-Kisah Teladan, dan bacaan anak menarik lainnya. Setelah SD kelas lima, aku mulai kenal komik. Doraemon, Candy-Candy, Dragon Ball, Topeng Kaca, dan Detektif Conan. Untuk novel, aku mulai kenalan dengan karangannya Enid Blyton, Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, Alfred Hithcock, dan RL Stine. Sedangkan novel dalam negeri yang pertama kukenal itu karyanya Mira W (masuk di teks buku bahasa Indonesia sih, hihi).


Mungkin karena menggemari serial detektif dan petualangan, jadi cerita yang kubuat juga tentang petualangan semua. Tapi karena wabah menulis yang kutularkan ke penghuni kelas 1.2 SMP Negeri 9 Palembang itu menyebar ke berbagai karakter, maka cerita mereka juga beragam. Dari sanalah, aku mencoba genre lain.


ALCA: Tentang Kekuatan Persahabatan.

Kertasnya dimakan Rayap :P

Genre Misteri: Loteng Merah


Nah, buku yang satu ini tadi sempet bikin aku dan Bang Dian ngakak waktu buka lembar akhirnya. Di buku yang kayaknya kubuat untuk novel berjudul "Senyum" ini ada tulisan tanganku pake pensil. Coretan dari hati kayaknya. Hehe. Sayang, tak ada tanggal nulisnya. Padahal di semua tulisanku biasanya dicantumkan tanggal pembuatan. Tapi kalo ngeliat isi buku ini, kayaknya tulisan itu ditulis dalam rentang pembuatan cerita "Senyum". Yang pasti tahun 2002.


Cover Buku Cerita "Senyum"

Masih jamannya Digimon :D

Bagian 1-nya selesai Maret 2002

Jaman dulu alay juga rupanya :P

Yang lucu itu tulisan ini:

Kayaknya ditulis tahun 2002 juga

Bunyinya:

Rasanya aku ingin keluar dari duniaku ini
Aku ingin mencari dunia lain yang lebih dari ini
Aku ingin keluar dari kehidupanku ini
Aku ingin mencari kehidupan lain yang lebih baik

Tau nggak kenapa aku suka mengarang?
Karena dg mengarang aku bisa hinggap dari dunia
yg satu ke dunia yg lain.
Dg mengarang aku bisa hidup dg berbagai kehidupan
Asyik, menarik. Itu yg aku suka.

Semangat mengarangku akan muncul setelah dipancing.
Harus ada sesuatu yg memicunya. Sherina!! itulah
pemicunya. Semakin kulihat dia, aku semakin
ingin mengalahkannya. Aku akan buktikan bahwa
aku juga hebat. Dengar & tunggu saja, Sher!

Hihihi... Kok bisa ya waktu kecil aku mikirnya gitu? Heran aja, sampe bawa-bawa Sherina segala :D Tapi memang sejak kecil aku nge-fans sama Sherina sih. Habisnya banyak yang bilang mirip :P Ya, kalo muka mirip, bisa jadi nasibnya juga kan? Paling tidak, ikut sukses lah. Haha.

Beli Tini Wini Biti dapet kartu Sherina

Dengan menemukan harta karun ini, rasanya rugiiiii banget kalo aku berhenti sampai di sini. Setelah beberapa buku antologi hasil lomba akhirnya tersemat namaku, kini waktunya go Novel Solo! Doain aku bisa nembus mayor, ya! Aamiin. :)
 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal