Adalah Ray, seorang perempuan yang menginjak dewasa dan baru kehilangan Fay, kakak laki-laki satu=satunya. Tak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan harus menerima keputusan otoriter sang ayah, yang mengharuskan anak-anaknya menjadi penerus bisnis keluarga. Mau tak mau, setelah sang kakak tiada, Ray menjadi tumbal dari obsesi sang ayah.
Selalu ternginang perkataan sang kakak, "Bagaimanapun kerasnya aku mencoba, ternyata menjalani sesuatu yang tidak sesuai dengan hati itu rasanya amat menyiksa." (hal. 18)
Saat-saat pertama kuliah di STISIPOL Chandradimuka Palembang sangat berat Ray lalui, kurang nyaman dengan suasana kampus yang jauh berbeda dengan sekolah-sekolah elit Ray selama ini. Tapi lama-lama, dunia Broadcast yang menjadi passion membuat Ray mulai menikmati, terlebih ada ketiga sahabat yang selalu mendampinginya, Sisilia, Rei dan Sam.
Sisilia dan Rei adalah sepasang kekasih dan mati-matian menjodohkan Ray dan Sam. Ray benci itu...
Sebagian orang ditakdirkan untuk memiliki apa yang dia cintai. Tapi sebagian lainnya ditakdirkan untuk mencintai apa yang ia miliki. (hal. 95)
Disaat Ray mulai merasakan getaran aneh pada Sam, tiba-tiba sosok lain datang dalam kehidupannya, Irgie. Seseorang yang pernah ia cintai di masa lalu, juga sahabat karib sang kakak.
Jika aku mencintai dengan sepenuh hati, maka seharusnya aku berjuang agar bisa meraihnya, bukan menyerah begitu saja. (hal. 155)
"Kamu tahu kenapa kita merasa memiliki cinta?"
"Karena kita memperjuangkannya."
(hal. 160)
Manakah yang akan Ray pilih?
Bagaimana pula Ray bisa merasa amat merasa bersalah atas kepergian sang kakak?
Benarkah ayah sekejam itu, tak memberi kesempatan pada anak-anaknya memilih demi masa depan mereka?
Menariknya, Novel ini bersetting di Palembang dan banyak mengambil tempat-tempat potensial di ibukota provinsi Sumatera Selatan itu. Penulisnya yang putra daerah asli Palembang benar-benar meng-eksplore kelebihan kota ini. Hanya saja banyak istilah-istilah baru dalam dunia broadcast yang tidak disertai artinya. Sedikit menyulitkan bagi yang baru pertama kali mendengar istilah itu.
Buku ini adalah debut Annisa Ramadona, sangat cocok dibaca orang-orang yang ingin mengenal kota Palembang dan sedang mencari referensi tempat-tempat yang ingin dikunjungi disana. Yang menyukai bacaan yang ringan, buku ini juga bisa jadi pilihan..
Friday, 28 February 2014
Tuesday, 21 January 2014
Review: Cinta Harus Memiliki (Leli Erwinda)
Novel perdana, dan terlahir dengan mulus. Tidak kaku, alurnya berjalan dengan baik, settingnya kuat. Belum pernah ke Palembang, dan penulis sukses mengajakku jalan-jalan ke sana lewat karyanya.
Kutipan favorit:
Bagaimanapun kerasnya aku mencoba, ternyata menjalani sesuatu yang tidak dengan hati itu rasanya amat menyiksa. (Fay)
Benar. Dan, rasanya itu seperti menjadi penjahat bagi diri sendiri. Karena itu, lakukanlah apa pun dari dalam hati.
Tidak melulu soal cinta, tapi tentang hubungan kakak-beradik, orangtua-anak, dunia kampus, broadcast, persahabatan, dan kehilangan.
Kutipan favorit:
Bagaimanapun kerasnya aku mencoba, ternyata menjalani sesuatu yang tidak dengan hati itu rasanya amat menyiksa. (Fay)
Benar. Dan, rasanya itu seperti menjadi penjahat bagi diri sendiri. Karena itu, lakukanlah apa pun dari dalam hati.
Tidak melulu soal cinta, tapi tentang hubungan kakak-beradik, orangtua-anak, dunia kampus, broadcast, persahabatan, dan kehilangan.
Singkat, padat, dan berkesan. Tunggu apa lagi? Segera miliki novel #CintaHarusMemiliki. ^^
by: Leli Erwinda
Tuesday, 31 December 2013
Karena Dia Kado Istimewa dari-Nya
Cepat lelah, kram perut, kembung, sakit kepala, sesak nafas, sakit punggung, nyeri di payudara dan paha, serta yang paling umum yakni mual-muntah. Semua gangguan itu saya rasakan sejak awal bulan lalu.
Saya melangsungkan pernikahan 1 November 2013 dan gak pernah berencana menunda kehamilan. Karena biasa haid teratur, saya mulai deg-degan tiap kali tanggalnya datang. Saya ingat, ketika mengikuti ujian skripsi tanggal 12 November yang super menegangkan itu, esoknya saya haid.
Akhir bulan, saya mulai mual dan muntah hebat, sampai sempat ke dokter dan disarankan test pack karena takutnya saya yang memang menderita maag ini bisa jadi hamil. Tapi setelah saya TP, ternyata negatif.
Sejak itu saya merasa jadi gampang capek dan lebih nyaman di tempat tidur. Saya yang biasanya nulis, jadi gak kuat liat monitor. Baca buku juga gak begitu nafsu. Sampai akhirnya sekitar seminggu sebelum jadwal haid Desember, saya menemukan bercak coklat seperti darah di tisu yang saya gunakan sehabis pipis.
Saya makin deg-degan ketika mendekati tanggal haid. Saya merasa punggung bawah dan pinggang makin sering sakit serta payudara mulai nyeri. Puncaknya, saya belum juga haid meski tanggal seharusnya telah lewat. Iya, telat!
Tanggal 15 saya dan Bang Dian beli TP di apotik, besoknya langsung dicoba. Ada dua garis. Yang satunya samar-samar. Waktu saya perlihatkan pada Mama, saya langsung dinasehati untuk berhenti mengonsumsi obat maag dan obat-obatan warung.
“Ini masih muda, masih rentan turun,” kata Mama. Beliau langsung mengajak saya ke bidan terdekat. Di sana saya di tes urine lagi. Dan hasilnya masih sama. Samar-samar tapi lebih jelas dari yang tadi. Bu Bidannya bilang saya positif, hanya saja hamilnya masih sangat muda. Saya disarankan datang satu bulan lagi. Tapi saya langsung dikasih buku sama obat Mediamer B6.
Saya jadi ekstra hati-hati karena semua orang dekat bilang begitu. Mau gerak begini takut, begitu takut. Jalan jauh was-was, gak aktivitas bosan. Saya senang tapi tegang. Untungnya, Bang Dian makin perhatian dan selalu pengertian. Saya mulai pengen ini-itu, meskipun memang masih yang normal-normal. Tapi tetap saja pasti menyulitkan mengingat Bang Dian juga harus menyelesaikan pekerjaan dobel (saya mulai gak bisa diandalkan ngurusin percetakan). Juga ketika saya mendadak super-sensitif. Kadang hal kecil yang gak disengaja pun bisa bikin mewek.
Tanggal 24 Desember malam, saya diantar Yuk Opi dan Bang Dian ke klinik bersalin dekat rumah. Kali ini dokter kandungan langsung yang meriksa, dan dia bilang saya hamil 5 Minggu.
Sama dokternya, saya dikasih Provomer dan Folaplus untuk dimimun satu kali sehari selama sebulan. Dan bulan depannya disuruh datang lagi. Saran Yuk Opi, obat itu ditebus setengah. Jadi, saya hanya mengonsumsinya selama 15 hari saja. Katanya sih gak bagus juga kalo kebanyakan minum obat. Saya sih nurut.
Selama minum obat saya merasa makin gak nyaman. Yang tadinya gak mual-muntah, jadi sering muntah. Badan makin lemas dan kerjanya banyakan di tempat tidur. Gak ada aktivitas berarti selain makan-tidur-sholat-makan-tidur-sholat... begitu terus sampai saya merasa stress sendiri.
"Hadirnya dia itu rejeki. Harus disyukuri, Dek. Enjoy aja... pikirin enaknya apa, maunya makan apa," nasehat Mama. Yuk Opi juga banyak kasih wejangan begini-begitu sesuai pengalamannya. Termasuk soal susu ibu hamil.
Beruntungnya, waktu ke PS buat beli susu, ada SPG Prenagen yang ramah banget. Mbaknya nawarin ikut acara "Prenagen & The City" yang htm-nya lima puluh ribu. Berhubung saya merasa sangat butuh pengetahuan tentang kehamilan, jadi saya dan Bang Dian memutuskan untuk ikut.
Acara itu berlangsung tanggal 28 Desember 2013 pukul 10.00 WIB. Dan saya datang ketika acara sudah berjalan sekitar setengah jam. Untungnya, ketika saya duduk, seminarnya baru dimulai. Jadilah saya dan Bang Dian duduk manis mendengarkan arahan Dr. dr. H. Kms. Yusuf Effendi, SpOG (K) tentang gimana cara menikmati kehamilan. Bahasan yang pas banget dengan yang saya butuhkan sekarang.
Sembari mendengarkan, beberapa kali mbak SPG yang ramah-ramah itu nganter snack, puding, dan susu UHT Prenagen. Meski perut saya keroncongan ketika pergi dari rumah, di sana saya jadi gak kelaparan sama sekali. Lumayan, dengan htm segitu saya bisa kenyang, dapat T-shirt, seminar kit, dan dapat ilmu pula. Selain itu juga ada Belly Dancercise, doorprize (walau saya gak dapat) dan pulangnya masih dibekali kotak makan siang dan susu lagi :D
Saya gak nanya sama sekali di sana karena kebanyakan yang saya keluhkan juga telah ditanyakan oleh peserta lain. Bahkan mendengar keluhan dan pertanyaan mereka, membuat saya sadar bahwa apa yang saya rasakan sesungguhnya masih ringan. Dan karena itu, saya merasa stress yang tadinya saya rasakan berangsur-angsur hilang.
Sebab ada satu kalimat dokter Yusuf yang jleb banget. Katanya, "Kehamilan yang menyenangkan melahirkan bayi berkarakter menyenangkan." Dan saya gak mau melahirkan generasi pemurung dengan terus mengeluh dan bad mood. Saya menikmati acara yang digelar sampai pukul 12.00 wib itu. Ketika pulang, saya pun mulai mencoba menikmati kehamilan saya. Ya, harusnya saya bersyukur karena janin ini kan kado istimewa dari-Nya. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)





