Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan Hidup. Show all posts

Thursday, 29 November 2012

TEKNIK SURVIVAL

0 comments

PENDAHULUAN

Orang-orang yang senang berpetualang baik di gunung, hutan atau di tempat-tempat lainnya harus selalu sadar akan resiko yang ada pada kegiatan tersebut. Resiko apa saja yang mungkin muncul berkaitan erat dengan bahaya-bahaya dalam pelaksanaan kegiatan. Secara umum sumber bahaya berasal dari diri kita sendiri (Subjective Danger) dan dari alam lingkungan (Objective Danger).
Subjective Danger misalnya keteledoran, persiapan yang asal-asalan, minimnya pengetahuan, dan lain-lain. Menurut sifatnya, Subjective Danger masih bisa kita control dengan kemampuan dan pengetahuan yang kita miliki. Objective Danger misalnya bahaya yang timbul dari lingkungan atau alam sekitarnya.
Survival berasal dari kata Survive artinya bertahan hidup, berarti Teknik Survival adalah cara untuk mempertahankan hidup didalam kondisi atau keadaan yang tidak menentu yang terjadi karena suatu peristiwa yang dialami oleh seseorang atau kelompok di suatu tempat terasing atau terisolir misalnya dilaut, hutan rimba atau pegunungan. Jadi, untuk kelanjutan hidup orang atau kelompok itu tergantung pada kemampuan mereka sendiri. Kemampuan bersurvival itu bergantung pada sikap mental, pengetahuan keterampilan dan nasib para Survivor.
Aspek-aspek yang muncul dalam kondisi Survival dibagi menjadi 3 golongan yaitu :
  1. Psikologis : Panik, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan, bosan, dll.
  2. Fisiologis : Sakit, lapar, haus, luka, lelah, dll.
  3. Alam Lingkungan : Panas, dingin, kering, hujan, angina, flora & fauna.
Ketiga aspek itu saling berkaitan dan mempengaruhi. Aspek Psikologis dan Fisiologis muncul dari kita sendiri, sedangkan aspek alam lingkungan merupakan interaksi kita dengan lingkungan.
Tiga hal yang dapat digunakan untuk mengatasi Survival yaitu :
  1. Semangat untuk mempertahankan hidup (harus yakin dan optimis).
  2. Kesiapan diri (mempunyai pengetahuan dan keterampilan kegiatan di alam bebas).
  3. Alat pendukung (yang dibawa kita sendiri dan yang disediakan alam).
Selain tiga hal diatas, bisa juga berpedoman pada prinsip STOP :
S : Stop, menghentikan gerak, istirahat dan menenangkan diri, kuasailah rasa takut dan
     panik.
T : Thinking, berpikir optimis, bahwa kita harus mampu.
O : Observe, amati sekitarmu apa saja yang bisa jadi penunjang Survival.
P : Planing, rencanakan kegiatan selanjutnya.

Sikap mental Survival dalam buku Komando Para :
S : Sadari situasi dan kondisimu.
U : Untung malang bergantung pada ketenanganmu.
R : Rasa takut dan panic harus kau kuasai.
V : Vaccum, isilah dengan tindakan.
I : Ingat dan berpikirlah.
V : Viva (hidup), hargailah dia.
A : Adat istiadat dihormati.
L : Latih dirimu dan belajarlah.

Pendukung utama teknik Survival :
§  Mampu menguasai perasaan takut, panik, jemu, rasa haus dan lapar.
§  Mampu menggunakan peralatan peta, kompas, tali, ponco dll.
§  Mampu mengetahui tanda-tanda alam.
§  Obat-obatan.

Teknik Survival meliputi :
a.       Bivak
b.      Air
c.       Makanan
d.      Api
e.       Membuat tanda SOS

a. Bivak
Bivak adalah tempat istirahat / berlindung yang sifatnya darurat. Adapun bahan yang digunakan adalah :
·         Alam : pohon tumbang, dedaunan, goa, dll
·         Alat yang kita bawa : ponco, terpal, plastic, tali temali dll.
Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat Bivak :
       Hindari tempat lembab, becek dan basah.
       Jangan dijalur lintasan air dan binatang buas.
       Jangan dibawah pohon lapuk atau goa yang mudah longsor.
       Jangan dipinggir jurang atau daerah terbuka yang berangin keras.
       Usahakan mendekati sumber air.

b. Air
Air merupakan prioritas dalam Survival, jika kekurangan air kita akan mengalami Dehidrasi. Manusia mampu hidup dengan air kurang selama tiga minggu dan mampu hidup tanpa air selama tiga atau empat hari.

Klasifikasi air dalam kondisi Survival yaitu :
-          Air yang dapat langsung diminum adalah air yang tidak berwarna dan tidak berbau.
-          Air yang harus dimurnikan ialah air yang tergenang, di sungai, di pasir, dan di cerukan cadas.

Cara mendapatkan air :
  • Di tanaman : pohon randu, rebung, pelepah enau dan nipah, rotan dan pohon pisang.
  • Di tanah batu : Areal tanah kapur dengan cara menggali, di tanah granit gali tanah yang paling lembab dan ditumbuhi rumput/lumut yang paling tebal, di tanah gembur, di daerah lembah.
  • Di daerah aliran sungai pegunuungan dengan cara menggali lubang dibawah batu-batuan.
  • Di pesisir pantai, galilah ± 5 meter dari batas pasang surut.
  • Di tanah tandus : melihat arah burung terbang dan hinggap, mencari tumbuh-tumbuhan tertentu yang bisa menunjukkan adanya sumber air, mencari jejak binatang mengkais sebagai indicator kandungan air. Jalan terakhir dengan mengumpulkan embun.
  • Di pegunungan : menggali aliran sungai gunung, memeras lumut, air di cerukan batu cadas, tumbuhan basah lainnya.

c. Makanan
 Sumber makanan dari hewani dan nabati. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

Sumber makanan nabati :
©      Bila kita sudah mengenalnya/petunjuk penduduk setempat.
©      Di sekitar tumbuhan terlihat jejak, kaisan, dan gigitan hewan.
©      Cicip sedikit atau oleskan sedikit getahnya di tangan, kalau gatal, panas atau pahit hindarilah.

Cirri-ciri umum tumbuhan yang dapat dimakan yaitu :
  • Bagian tumbuhan yang masih muda, pucuk dan tunas.
  • Tidak mengandung getah.
  • Tidak berbau busuk dan berbulu.
  • Bisa dimakan oleh hewan mamalia atau hewan lainnya.

Contoh tumbuhan yang dapat dimakan :
  • Umbi di dalam tanah : jenis talas, kentang, bengkoang, paku tanah, akar ilalang.
  • Bagian batangnya : umbut muda pisang rebung, empulur batang sagu, pakis.
  • Bagian buahnya : Arbei hutan, ceri, ketapang salam, durian hutan, mengkudu, duku hutan, ciplukan, tangkil.
  • Bagian daunnya : daun rasamala, daun mengkudu, daun pakis lumut.
  • Jamurnya : umumnya berwarna putih kekuning-kuniingan dengan sedikit berbulu seperti semanggi misalnya jamur kuping, jamur bulan, jamur merang.

Ciri-ciri umum jamur beracun yaitu :
  • Umumnya berwarna merah darah, hitam legam, biru dan coklat tua.
  • Mengeluarkan bau busuk (H­2S) atau amoniak.
  • Mempunyai cincin atau cawan, kecuali merang dan kompos.
  • Kalau dikerat dengan pisau perak akan menimbulkan warna hitam atau biru.
  • Cepat berubah warna kalau dimasak atau dipanaskan.

Sumber makanan hewani :
Hampir semua mamalia dan burung dapat dimakan dagingnya seperti kadal, kura-kura, larva dan madu lebah, cacing, siput, ular, tupai, tikus gunung.

d. Api
Api digunakan untuk memasak makanan san minuman. Untuk mendapatkan api dari korek api, menggesekkan kayu, batu, kaca pembesar.

e. Membuat tanda SOS
Dengan cara asap, peluit atau jeritan, kaca, goresan/patahan pada pohon yang mudah terlihat, dengan kain atau bendera.

Manusia hanya bisa berusaha, namun Tuhan jua yang menentukan
(MATERI DIKSAR PPA. WAHANA WIRABHUMI)
Didiek OK (B.034.SCC)

Tuesday, 16 October 2012

Penyebab Kebakaran Hutan


KEBAKARAN HUTAN DAN FAKTOR PENYEBABNYA

Penyebabnya terjadinya kebakaran hutan sampai saat ini masih menjadi topic perdebatan, apakah karena alami atau karena kegiatan manusia. Namun berdasarkan beberapa hasil  penelitian menunjukan penyebab kebakaran hutan adalah factor manusia yang berawal dari kegaiatan atau permasalahan sebagai berikut :
  • Sisterm perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah – pindah. Perladangan berpindah – pindah merupakan upaya pertanian tradisional di kawasan hutan dimana pembukaan lahanya selalu dilakukan dengan cara pembakaran karena cepat, murah, praktis
  • Pembukaan hutan oleh para pemegang Hak Pengusaha Hutan (HPH) untuk industri kayu maupun perkebunan kelapa sawit.
  • Pembukaan hutan oleh pemegang HPH dan perusahaan Perkebunan untuk pengembangan tanaman industri atau perkebunan umumnya mencakup areal yang cukup luas.
  • Metode pembukaan lahan dengan cara tebang habis dan pembakaran merupakan alternative pembukaan lahan yang paling murah, cepat, dan mudah. Namun metode ini sering berakibat kebakaran tidak hanya terbatas pada areal yang disiapkan untuk pengembangan tanaman industri atau perkebunan, tetapi meluas ke Hutan Lindung, Hutan Produksi dan lahan lainnya.
  • Penyebab structural  yaitu kombinasi antara kemiskinan, kebijakan pembangunan dan tata pemerintahan, sehingga menimbulkan konflik antara Hukum adat dan hukum positif Negara.
Sedangkan penyebab struktural, umumnya berawal dari suatu konflik antara pemilik modal industri perkayuan maupun pertambangan, dengan penduduk asli yang merasa kepemilikan tradisional (adat) mereka atas lahan, hutan dan tanah dikuasai oleh para investor yang diberi pengesahan melalui hokum positif Negara. Akibatnya kekesalan masyarakat dilampiaskan dengan pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah miliki secara turun temurun. Disini kemiskinan dan ketidak adilan menjadi pemicu kebakaran hutan dan masyarakat tidak  mau berpartisipasi untuk memadamkannya.   

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN
Asap tebal dari kebakaran hutan berdampak negatif karena dapat menggangu kesehatan,masyarakat, terutama gangguan saluran pernapasan.
Selain itu asap tebal juga menggangu transportasi udara, disamping transportasi darat,sungai, danau, dan laut.
Dampak lainnya adalah kerusakan hutan setelah terjadinya kebakaran dan hilangnya margasatwa. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. 

Penanggulangan Kebakaran hutan :
Untuk penanggulangan Kebakaran Hutan :
Untuk penanggulangan kebakaran hutan telah dilakukan pemadaman api baik melalui darat maupun dari udara.
Untuk dari udara dilakukan penyemprotan air dari pesawat maupun dilakukan hujan buatan
Untuk didarat dilakukan dengan penyemprotan, pembuatan parit penghalang api, pengaturan muka air untuk membasahi gambut, pengendalian kebakaran,serta sosialisasi kepada masyarakat.

Kebakaran Hutan dan cara pencegahannya
Untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan di masa depan antara lain  :
  1. Melakukan pembinaan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan, sekaligus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya hutan dan semak belukar.
  2. Memberikan penghargaan terhadap hukum adat sama seperti hukum negara, atu merevisi hukum negara dengan mengadopsi hukum adat.
  3. Peningkatan kemampuan sumberdaya aparat pemerintah melalui pelatihan maupun pendidikan formal. Pembukaan program studi penanggulangan kebakaran hutan merupakan alternatve yang biasa ditawarkan
  4. Melengkapi fasilitas untuk menanggulangi kebakaran hutan, baik perangkat lunak maupun perangkat kerasnya.
  5. Penerapan hukum pada pelaku pelanggaran di bidang lingkungan khususnya yang memicu atau penyebab langsung terjadinya kebakaran.

Sumber: Badan Lingkungan Hidup Palembang 

BAMBU


EMAS YANG BELUM TERGALI

Bambu merupakan produk hasil hutan non kayu yang telah dikenal bahkan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat umum karena pertumbuhannya ada di sekeliling kehidupan masyarakat. Bambu termasuk tanaman Bamboidae anggota sub familia rumput, memiliki keanekaragamjenis bambu di dunia sekitar 1250 - 1500jenis sedangkan Indonesia memiliki hanya 10% sekitar 154 jenis bambu (Wijaya etal, 2004), can hanya belasanjenisyangsudah dibudidayakan meskipun budidaya bambu di Indonesia masih subsisten.
KLASIFIKASI ILMIAH
Keraiaan:
Plantae


Divisio:
Magnoliophvta
Kelas:
Liliopsida
Ordo:
Poales
Familiar
Poaceae
Subfamilia:
Bambusoideae
Super tribus:
Bambusodae
Tribus:
Bambuseae
Kunth ex Dumort.

Bambu adalah tanaman yang termasuk ordo Gramineae, familia Bambuseae, suatu familia Bamboidae. Berdasarkan pertumbuhannya, bambu dapat dibedakan dalam dua kelompok besar, yaitu bambu simpodial clan bambu monopodial. Bambu simpodial tumbuh dalam bentuk rumpun, setiap rhizome hanya akan menghasilkan satu batang bambu, bambu muda tumbuh mengelilingi bambu yang tua. Bambu simpodial tumbuh di daerah tropis clan subtropis, sehingga hanya jenis ini saja yang dapat dijumpai di Indonesia. Bambu monopodial berkembang dengan rhizome yang menerobos ke berbagai arch di bawah tanah clan muncul ke permukaan tanah sebagai tegakan bambu yang individual.
Bambu merupakan salah satu jenis tanaman perintis sehingga untuk tumbuh tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang teramat rumit sebagaimana tanaman lain. Tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sesuai dengan jenis. Memiliki umur yang panjang dalam siklus hidupnya ± 30 -100 tahun bahkan lebih, tergantung dari jenisnya. Bambu juga tahan kekeringan Dan bisa tumbuh baIk di lahan curam pada ketinggian 0-1.500 m di atas permukaan laut (dpl). Bambu dapat tumbuh di lahan sangat kering seperti di kepulauan Nusa Tenggara atau di lahan yang banyak disirami air hujan seperti Parahiyangan (Salim, 1994).

MANFAAT BAMBU
Nilai lebih lain dari bambu dibandingkan kayu adalah sekali tanam produksi dapat dilakukan secara berulang-ulang, berbeda dengan kayu sekali tanam kemudian produksi selanjutnya perlu penanaman lagi. Bambu memiliki multi fungsi pemanfaatan yaitu :
1.    Bambu banyak digunakan oleh masyarakat desa mulai lahir (miluk memotong pusar bayi dan sunatan) sampai meninggal (kremasi jenazah). Aktifitas kehidupan sehari-haripun tak luput dari pemanfaatan bambu sebagai bahan makanan (rebung), pembungkus makanan (daun), makanan ternak (pucuk muda), sapu lidi, kerajinan untuk kebutuhan rumah tangga, cinderamata dan mebeuler, industri (pulp dan kertas), konstruksi jembatan, bangunan rumah, tiang, sekat, dinding, atap dan penyanggah), bahan baker dan untuk upacara adat
2.     Bambu memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah secara nyata. Sebagai jenis rumput-­rumputan (Gramineae), bambu memiliki batang yang kuat dan lentur hingga tahan angin. Perakarannya tumbuh sangat rapat dan menyebar ke segala arah. Baik menyamping maupun ke dalam. Maka lahan di bawah tegakan bambu menjadi sangat stabil dan mudah meresapkan air. Tidak pernah tampak air hujan menggenang di sekitar rumpun bambu. Kalau bambu ditanam berderet membentuk teras pada sebuah lereng jadi sabuk gunung maka kekuatannya luar biasa. Akar bambu akan saling terkait dan mengikat antar rumpun. Rumpun berikut serasah di bawahnya juga akan menahan top soil (lapisan tanah permukaan yang subur) hingga tidak hanyut tergerus air hujan.
3.  Bambu merupakan tanaman yang memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam dan kebakaran,. Bambu juga memiliki kemampuan peredam suara yang baik dan menghasilkan banyak oksigen sehingga dapat ditanam di pusat pemukiman dan pembatas jalan raya.
Bambu memiliki peluang industri dengan investasi kecil, penggunaan teknologi pengolahan sederhana clan siklus pones sangat pendek dan berkesinambungan

POTENSI
Bambu merupakan tanaman hutan, kebun dan pekarangan Secara menyeluruh belum diadaan inventarisasi, tetapi dari data yang ada diketahui luasnya sekitar 519.000 ha dengan hasil 2 - 4 1-in bamboo/ha/tahunnya. Dengan asumsi berat jenis bambu rata - rata kita 0,61; diameter 8 cm; panjang bambu pungutan 8 m, maka dalam satu ton bambu terdapat sekitar 750 batang bambu.

BUDIDAYA dan PEMANENAN
Budidaya bambu dapat dilakukan dengan biji atau hibil yang disemaikan, batang bagian bawah beserta akar rimpangnya atau dengan stek batang. Panenan bambu, selalu dikaitkan dengim penggunaannya, misalnya umur 2 tahun untuk tali dan kerajinan, 3 tahun untuk mebel dan kerajinan lain dan 4 tahun atau lebih wiluk konstruksi bangunan.

Metode pemanenan tanaman bambu adalah dengan metode tebang habis dan tebang pilih. Pada metode tebang habis, semua batang bambu ditebang baik yang tua maupun yang muda, sehingga kualitas batang bambu yang diperoleh bercampur antara bambu yang tua dan yang muda. Selain itu metode ini juga menimbulkan pengaruh terhadap sistem perebungan bambu, sehingga kelangsungan tanaman bambu terganggu, karena sistem perebungan bambu dipengaruhi juga oleh batang bambu yang ditinggalkan. Pada beberapa jenis tanaman bambu metode tebang habis menyebabkan rumpun menjadi kering dan mati, tetapi pada jenis yang lain masih mampu menumbuhkan rebungnya tetapi dengan diameter rebung tidak besar dan junlahnya tidak banyak (Sindusuwarno, 1963).

JENIS BAMBU clan PENGGUNAAN
  1. Untuk tujuan produk mebel : bambu hitam (wulung), tutul dan petung, kadang –kadang juga ampel, ori clan wuluh.
  2. Untuk produk anyaman : bambu apus (tali, ater), kadang-kadang juga hitam dan petung (kecil).
  3. Untuk produk bubutan : bambu ori, duri can petung. Untuk penggunaan ini harus dipilih bambu yang tebal. Bagian pangkal batang hampir semua jenis bambu juga dapat digunakan untuk bubutan.
  4. Untuk tujuan ukiran (can patung) : banyak digunakan pangkal can akarsemuajenis bambu,terutama bambu ori clan duri.
  5. Untuk konstruksi : bambu apus, ori, wulungdan petung.
  6. Untuksumpitdantusukgigi: bambu apussaja.
  7. Untuk bahan makanan (dalam bentuk rebung): bambu ori, petung
FAKTOR-FAKTOR KUALITAS
1.      Asal bahan, terutama tua muda,jenis clan ukuran yangsesuai
2.      Adanya cacat, baik cacat alami, cacat pungutan/ penebangan maupun cacat prosesing.
3.      Perlakuan pra proses seperti pengeringan, pengawetan dan pemutihan (bila ada)
4.      Proses pengolahan yang digunakan dikaitkan dengan kesesuaian produk
5.      Keterampilan dan pengalaman SDM terkait.

Berdasarkan beberapa penelitian keawetan bahan bambu bahwa dari tujuhjenis bambu yangditeliti, bambu ampel (Bambusa vulgaris) paling rentan terhadap serangan bubuk, kemudian bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), bambu hitam (Gigantochloa atroviolaceae) dan bambu terung (Gigantochloa nitrocilliata). Sedangkan bambu atter (Gigantochloa atter) dan bambu apus/tali (Gigantochloa apus) relatif tahan terhadap serangan bubuk. Jenis bubuk bambu yang banyak ditemukan menyerang bambu adalah Dinoderus sp., sedangkan jenis bubuk yang paling sedikit ditemukan menyerang bambu adalah Lyctus sp.

Pengawetan dapat dilakukan dengan cara menggunakan bahan kimia (asam borat, boraks dll) maupun tradisional yaitu dengan merendamnya di dalam air mengalir, air tergenang, lumpur atau di air laut dan pengasapan. Selain itu juga sering ditemukan cara pengawetan dengan pelaburankapurclan kotoran sapi pada gedek dan bilik bambu.

Pengawetan bambu bertujuan untuk mencegah serangan jamur (pewarna dan pelapuk) maupun serangga (bubuk kering, rayap kayu keringdan rayaptanah.

Proses pengeringan bambu dibutuhkan guns menjaga stabilisasi dimensi bambu, perbaikan warna permukaan, juga untuk pelindung terhadap serangan jamur, bubuk basah dan memudahkan dalam pengerjaan lebih lanjut. Pengeringan bambu harus dilaksanakan secara hati-hati, karena apabila dilaksanakan terlalu cepat (suhu tinggi dengan kelembaban rendah) atau suhu dan kelembaban yang terlalu berfluktuasi akan mengakibatkan bambu menjadi pecah, kulit mengelupas, dan kerusakan lainnya. Sebaliknya bila kondisi pengeringan yang terlalu lambat akan menyebabkan bambu menjadi lama mengering, bulukan dan warnanya tidak cerah atau menjadi gelap.

Pengeringan bambu dapat dilakukan secara alami (air drying), pengasapan, pengeringan dengan energi tenaga surya (solar collector drying) atau kombinasi dengan energi tungku, dan pengeringan dalam dapur pengering. Bambu yang masih sangat basah setelah dipotong sesuai ukuran yang akan dipergunakan, dibersihkan dan ditumpuk berdiri dengan posisi sating menyilang atau ditumpuk secara horisontal selama kurang lebih sate minggu. Untuk mempercepat pengeluaran air ditempatkan kipas/fan didekatnya.

KELEMAHAN BAMBU
Sekalipun bambu memiliki banyak keunggu!an, upaya menjadikan bambu sebagai pengganti kayu menghadapi beberapa kendala, yaitu :
  1.  Bambu mempunyai durabilitas yang sangat rendah, sangat potensial untuk diserang kumbang bubuk, sehingga bangunan atau perabotyangterbuat dari bambu tidak awet.
  2. Kekuatan sambungan bambu pada umumnya sangat rendah karena perangkaian batang-batang struktur bambu sering kali dilakukan secara konvensional memakai paku, pasak, atau tali ijuk. sehingga kekuatan bambu tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
  3. Kelangkaan buku petujuk perancangan atau standar yang berkaitan dengan bangunan yang terbuat dari bambu.
  4. Sifat bambu yang mudah terbakar Sekalipun ada  cara untuk menjadikan bambu tahan terhadap api, namu.biaya yang dikeluarkan relatif cukup Mahal.
  5. Bersifat social berkaitan dengan opini masyarakat yang sering menghubungkan bambu dengan kemiskinan, sehingga orang segan tinggal di rumah bambu karena takut dianggap miskin. Untuk mengatasi kendala ini maka perlu dilibatkan arsitek, agar rumah yang dibuat dari bambu terlihat menarik. Upaya ini tampak pada bangunan-bangunan wisata yang berupa bungalo dan rumah makan yang berhasil menarik wisatawan mancanegara.
KEUNGGULAN BAMBU
  1. Mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus, tidak diperlukan investasi yang besar, setelah tanaman sudah mantap, hasilnya apat diperoleh secara terus-menerus tanpa menanam lagi. Budidaya bambu dapat dilakukan oleh sembarang orang dengan peralatan sederhana dan tidak memerlukan pengetahuan yang tinggi.
  2. Bambu dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal. Bambu dengan kualitas baik dapat diperoleh pada umur 3-5 tahun
  3. Tanaman bambu mempunyai ketahanan yang luar biasa. Rumpun bambu yang telah terbakar masih dapat tumbuh lagi
  4. Mempunyai kekuatan cukup tinggi, kekuatan tariknya dapat dipersaingkan dengan baja. Sekalipun demikian kekuatan bambu yangtinggi ini belum dimanfaatkan dengan baik karena biasanya batang-batang struktur bambu dirangkaikan dengan pasak atau tali yang kekuatannya renclah
  5. Bambu berbentuk pipa sehingga momen kelembabannya tinggi, oleh karena itu bambu cukup baik untuk memikul momen lentur. Ditambah dengan sifat bambu yang elastic, struktur` bambu mempunyai ketahan yang tinggi baik terhadap angin maupun gempa. 

Sumber: Badan Lingkungan Hidup Palembang
 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal