Showing posts with label Komunitas. Show all posts
Showing posts with label Komunitas. Show all posts

Wednesday, 28 November 2012

Bukan Tanpa Perjuangan

2 comments

Buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka memang kupersembahkan sebagai wujud nyata dari LOYALITAS-ku pada organisasi yang kuikuti sejak akhir 2009 lalu. Ya, KOMASIP. Berkali-kali disodori kalimat "Jangan tanya apa yang KOMASIP berikan padamu. Tapi tanyakan, apa yang bisa kamu berikan pada KOMASIP" membuatku berpikir. Apa yang bisa aku dan teman-temanku berikan untuk organisasi ini? Apa yang bisa membuat aku dan teman-temanku dianggap berarti?

"Mengapa hanya Hari Kartini yang kita peringati? Padahal banyak Pahlawan wanita lainnya yang juga berjasa. Jawabannya hanya satu; Karena Kartini Menulis!" Sepenggal status teman FB dari dunia literasi maya seakan menyentak hatiku. Ya, mengapa tidak menulis dan menerbitkan sebuah buku? Toh, sejak akhir 2011 aku mulai mengakrabi dunia tulis menulis itu?

Akhirnya kubicarakan niatku pada Bang Dian Lesmana Putra. Kukonsultasikan semua ideku padanya. Niatku hanya satu kala itu. Memberi kado pada KOMASIP yang kebetulan akan merayakan ulang tahunnya 9 Mei 2012.

"Ini surprise. Biar Pak Ferdy senang, biar teman-teman punya sesuatu yang bisa diberikan. Meskipun kecil dan mungkin tak begitu berarti, tapi inilah satu cara agar kita BERKARYA!" Aku begitu menggebu-gebu, mengutarakan apa yang ada di pikiranku. Bang Dian setuju, ia bersedia mendukungku.

Atas ACC darinyalah kemudian pada rapat KOMASIP yang digelar Karta dan Putra hari Kamis seusai kuliah, kuutarakan tentang penerbitan buku yang dalam benakku kelak akan diberi judul Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka. Kukatakan sebagaimana yang telah kurembukkan dengan Bang Dian. Kuyakinkan mereka bahwa inilah caranya, cara agar kami dianggap ADA.

Aku melihat antusiasme di wajah mereka. Setidaknya Karta, Putra, Any, Gufy, Siska, dan Ochy tertarik mencoba meskipun sesungguhnya bagi mereka ini adalah hal baru. Aku berjanji hari itu, jika mereka punya niat yang sama denganku, maka akan kuluangkan hari khusus untuk belajar menulis buku.

Alhamdulillah, mereka menyambut baik usulanku. Kami langsung mengatur jadwal belajar untuk hari Senin dan Selasa. Kukabari semua kontak KOMASIP yang nomornya tersimpan di handphone, kecuali Mbak Win dan Pak Ferdy.

Siang itu juga, setibanya di PMSB langsung kuhubungi Kak Didiek. Senior WWB-ku satu ini telah menerbitkan Novel Ganes di Rimba Ganas semasa aku SMA. Kemudian yang kutahu ia juga menerbitkan Jejak Sang Beruang Gunung Norman Edwin. Jaman DIKSAR dulu dia pula yang mengisi materi Jurnalistik Alam Bebas. Maka, jika ia bersedia, tentu teman-teman akan senang belajar menulis padanya.

Kuberanikan diri meminta, ternyata tanggapannya luar biasa. Kak Didiek merasa senang mengetahui bahwa masih ada anak muda yang tertarik untuk menulis cerita. Kak Didiek setuju meluangkan waktunya hari Selasa.

Belajar Menulis dengan Didiek Ganezh
Setelah proses singkat belajar tentang menulis, aku melemparkan deadline pada teman-teman. Kalau bisa, aku ingin buku ini terbit tepat di hari ulang tahun KOMASIP, masih ada waktu satu bulan lebih. Kuedarkan contoh-contoh True Story yang kupelajari dari grup-grup menulis di FB. Kuberikan pada teman-teman agar mereka punya bayangan tentang apa yang akan dituliskan.

"Tuliskan apa pun yang kalian rasakan. Boleh tentang persahabatan, perkuliahan, atau apa saja yang pernah terjadi di Kampus kita." Begitulah kutanamkan pada mereka. Aku sengaja tak mengangkat tema yang berat. Juga sengaja meminta mereka menuliskan kisah nyata. Flash True Story akan lebih mudah dituliskan dibanding cerpen atau pun essay. Apalagi teman-teman mengaku belum punya pengalaman.

Dua minggu rupanya belum cukup, sembari menunggu naskah teman-teman masuk, aku menulis True Story-ku, juga mengedit naskah yang telah terkumpulkan. Setelah memprediksi total naskah yang ternyata hanya sedikit peminatnya, meskipun sudah ditambah dua orang lain diluar anggota KOMASIP. Akhirnya kuputuskan memperbanyak kisahku untuk menambah jumlah halaman. Begitu pun Bang Dian, kupaksa ia menceritakan banyak hal yang telah ia lalui di STISIPOL Candradimuka selama ini.

Setelah sedikit mengemis naskah, akhirnya semua terkumpulkan. Termasuk naskah setengah halaman yang kuterima via emal dari ketua KOMASIP, Inuh Afandi yang saat itu telah berbulan-bulan tak pulang menengok Sekretariat kami karena tengah mengurus urusannya di luar kota.

Aku bergelut dengan naskah-naskah, mengeditnya agar lebih layak untuk diterbitkan. Kuambil setidaknya waktu istirahat siang dan jatah tidur malam demi mengejar target terbit. BULAN MEI, ULTAH KOMASIP. 

Di sela-sela kuliah, mengurus PMSB, dan kepentingan rumah, belum lagi ditambah rapat-rapat KOMASIP lain yang tidak bersinggungan dengan kepenulisan, kuurus proses penerbitan bersama Bang Dian. Semuanya, termasuk urusan percetakan. Aku berani bilang, tak sedikit pun kupinta uang pada teman-temanku dalam proses pembuatan buku ini.

Alhamdulillah, meski tidak tepat tanggal sembilan. Bulan Mei buku sudah bisa dinikmati, meskipun terbit indie. Buku itu tak kunamakan penulisnya atas namaku. Nama KOMASIP terukir sebagai penulis buku "Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka".

Sore itu dengan membawa 2 eksemplar Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka, Bang Dian mengajakku menemui Pak Ferdy. Surprise itu ia terima dengan wajah tak percaya. Setelah membaca dan menanyakan sedikit ini itu, ia pamit pergi dengan satu eksemplar "Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka" di tangannya. Karta dan Any yang waktu itu ikut menyaksikan, langsung menyambut dengan gembira. Ya, inilah karya kita!

Sayangnya, karena kupikir PMSB bisa mencetak kapan saja, maka buku itu belum digandakan. Niatnya, ingin menunggu ACC Pak Ferdy. Melalui Bang Dian, Beliau juga mengatakan sebelum di cetak massal, ia ingin ada kata pengantar dari Ibu Ketua, serta testimoni dari dosen dan mahasiswa. Untuk pengantar, Pak Ferdy menyanggupi untuk memintanya sendiri, sementara aku dan Bang Dian bergerilya menemui dosen dan mahasiswa.

Tugasku telah usai. Testimoni sudah kukantongi, tapi pengantar yang ditunggu tak juga datang padaku. Memang, setelah buku terbit, Inuh muncul dan mengambil alih buku itu untuk diantar ke hadapan Ibu Ketua. Tapi sampai saat ini, entah karena faktor apa, ketika pernah kuminta pun pengantar itu tak kunjung tiba. 

Tak apa jika buku hanya tercetak tujuh eksemplar saja. Tak apa jika karya ini pun akhirnya dianggap tak nyata. Tapi yang kutahu, aku dan teman-temanku mempersembahkan ini bukan tanpa perjuangan sama sekali. Yang kutahu, buku ini pun dipersembahkan setulus hati.

Meskipun kini aku dikeluarkan dari KOMASIP (yang setelah kudengar kronologisnya dari Siska) aku menyimpulkan tiga alasan mengapa aku dikeluarkan:
1. Tidak Datang Rapat (Hari itu aku sakit, tak keluar sama sekali setelah kemarinnya dilarikan ke dokter karena infeksi usus, aku sms Karta bahwa aku sakit tapi menurut Siska tak ada konfirmasi selain dari Ochy).
2. Dianggap 'Ngeringami' (Untuk hal ini aku tahu sejak dulu ada oknum-oknum yang tidak menyukaiku. Ok, kuakui aku sering kontra pada "Mereka". Sering mengutarakan idealismeku yang tak sejalan dan tak segan bilang TIDAK jika nuraniku memang mengatakan Tidak).
3. Dianggap tidak ada kontribusi (Setidaknya aku masih bisa ingat program-program di mana aku pernah mengeluarkan keringat. Liputan Komunitas untuk CTV, Bujang-Gadis untuk Sriwijaya TV, Lenggang Palembang untuk TVRI, Pelatihan Skenario, Pelatihan Travel Writer, Film Dilarang STOP, Buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka, Editing foto, Editing Video, Mading dengan bahan/uang sendiri, Input data Perpustakaan, Jualan Teh Botol, dan sebagainya. Jika itu semua bukan kontribusi, oke tak apa).

Tapi paling tidak aku dan teman-teman telah berusaha. Buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka adalah saksinya. Bahwa kami telah berkarya, telah menuliskan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tidak sebatas di bibir saja. Lewat tulisan, Kartini dikenang. Lewat tulisan pula (cinta) kami diabadikan. (dn)

Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka bersama Gol A Gong

Tuesday, 16 October 2012

Sepenggal AKKC



Bermalam di Rumah Nyek
Oleh: Annisa Ramadona

            Aku tak pernah diizinkan pergi jauh tanpa keluarga. Tak pernah bisa mendaki gunung seperti teman Pecinta Alam-ku semasa SMA. Tak bisa naik pangkat menjadi Senior Madya, juga lantaran tidak diizinkan ikut rombongan POLTABES melatih anggota Patroli Keamanan Sekolah (PKS), sebagai syarat mutlaknya. Aku dianggap anak kecil yang tidak boleh jauh dari orang tua.
            Sampai kemudian aku menginjak bangku kuliah. Kelonggaran demi kelonggaran mulai diberikan. Entah karena kepercayaan yang terus kujaga, atau memang sudah waktunya, orang tuaku dengan enteng memberi restu ketika KOMASIP mengadakan program ke luar daerah.
            Februari 2010, tepatnya tanggal dua puluh enam aku bersama rombongan bergerak menuju Desa Penanggoan Duren, Tulung Selapan. Aku adalah satu dari sekian banyak anggota muda yang akan dikukuhkan di sana.
            Perasaan asing menyergapku ketika pertama kali menginjakkan kaki di Desa itu. Kerumunan wanita, baik ibu-ibu maupun remaja duduk menghadap sebuah permainan, Bingo. Entah bagaimana memainkannya, tapi suara mereka meneriakkan angka-angka dalam bahasa daerah yang tidak kumengerti. Teriakkan itulah yang menyambut kedatangan kami.
            Sebuah rumah telah dipersiapkan untuk kami huni. Rumah itu adalah kediaman salah seorang senior KOMASIP yang merupakan putra daerah asli Desa itu. Keluarganya menghidangkan masakan khas untuk kami santap seusai beristirahat sekitar setengah jam. Kami dijamu layaknya tamu kehormatan.
            Namun kenyamanan itu tidak berlangsung lama, mengingat tujuan kedatangan kami yang sebenarnya. Pengukuhan, tidak mungkin ada cerita bermanja-manja, tak ada yang boleh jadi anak mama. Ini Desa, tempat untuk bersimulasi menjadi dewasa.
            Setelah salat isya berjamaah, aku dan anggota muda lainnya diharuskan untuk bersosialisasi dengan masyarakat di sana. Tidak ada satu anggota pun yang boleh bersama-sama. Setiap orang harus mendapatkan nilai-nilai sendiri, pengalaman baru yang tidak mungkin sama satu dengan lainnya.
            Pasangan suami istri enam puluh tahunan menyambut dengan ramah ketika aku menginjakkan kaki di rumahnya. Mereka sedang menunggu keponakannya pulang. Aku sempat canggung, tak tahu harus mulai bercerita dari mana untuk mencairkan suasana.
Karena dibesarkan oleh keluarga kecil, aku jadi sedikit susah bergaul. Apalagi di tempat asing seperti itu. Untunglah, mereka memahami kesulitanku. Mereka memulai percakapan dengan menanyaiku ini itu. Aku pun merasa nyaman untuk mengikuti alur cerita yang mereka buka.
Menjelang pukul sebelas malam, keponakan mereka pulang. Aku sempat heran, seorang gadis seharusnya tidak pulang begitu malam. Tapi tanpa ditanya, Lita, nama keponakan mereka, menjelaskan bahwa di Los Pasar besok ada pesta. Sudah menjadi tradisi jika muda mudi berkumpul di sana untuk membantu dekorasi.
Nenek dan Kakek pamit beristirahat, kini Lita mengajakku ke kamarnya. Kucoba mengakrabkan diri dengan gadis enam belas tahunan itu. Lita juga menempatkan diri sebagai lawan bicara yang enak diajak bercerita. Aku dan Lita langsung akrab malam itu juga.
Sampai jarum jam menunjukkan pukul satu, kami masih saja asyik bercengkrama. Ia menceritakan banyak hal padaku. Mulai dari kesehariannya, sampai tradisi dan sejarah di Desa itu.
“Kalau kakek, panggilannya Iyek. Nah, kalau nenek, dipanggil Nyek,” Lita menjelaskan.
“Jadi kakek dan nenek tadi seharusnya aku panggil Iyek dan Nyek?” tanyaku, Lita malah tertawa. Ia menimpali aksenku yang terdengar aneh ketika menyebut dua panggilan itu. Aku terus belajar, sampai terdengar sedikit lebih mirip dengan yang ia ucapkan.
Iyek dan Nyek punya sembilan anak, semuanya sudah berkeluarga. Agar tidak kesepian, sesekali aku menginap di sini,” Lita meneruskan cerita. Aku merasa nyaman dengannya, mungkin karena ia masih muda.
“Kalau di sini, anak gadis harus bisa masak. Ayuk bisa masak?” Aku menggeleng. Lita tersenyum tipis.
“Kalau gitu, besok Lita ajarin ayuk masak, ya,” pintaku.
“Insyaallah, tergantung jadwal,” candanya. Aku memasang muka memelas.
Aku memang tidak ahli untuk urusan dapur. Sejak sekolah, jadwalku selalu padat. Les tambahan, ekstrakulikuler, dan aktivitas lainnya membuatku jarang berada di dapur selain untuk makan dan mencuci piring. Apalagi setelah bekerja dan kuliah, aku tak pernah lama menghabiskan waktu di dapaur, kecuali saat libur.
“Iya deh, kalau besok pagi Lita belum disuruh pulang, nanti Lita ajarin,” janji Lita akhirnya. Aku tersenyum lega.
Lita fasih berbahasa Palembang, itu juga yang menjadi salah satu faktor mengapa kami bisa terus bercerita meski jarum jam kini menunjukkan pukul dua kurang. Dari ceritanya, aku tahu bahwa gadis itu tadinya sekolah di kota. Tapi karena susah beradaptasi dengan pergaulan dan pelajaran yang lebih ekstrim, ia memutuskan untuk kembali ke desa.
“Belum tidok, Dok?” suara Iyek di pintu kamar menghentikan cerita kami malam itu. Aku dan Lita terkekeh menyadari bahwa kami telah bercerita begitu lama. Aku menarik selimut, memutuskan untuk tidur secepatnya.
            Menyadari waktu subuh tiba, aku buru-buru bangun dari tidurku yang hanya tiga jam itu. Aku ingat pesan mama bahwa di rumah orang, aku tidak boleh bangun kesiangan, tidak boleh merepotkan tuan rumah, juga tidak boleh bermalas-malasan.
            Samar-samar kudengar lantunan zikir Iyek di ruang keluarga, tak lama kemudian Nyek membuka pintu kamar Lita. Melihatku yang tengah membereskan tempat tidur, Nyek langsung tersenyum sambil menyerahkan alat salat. Ia membimbingku menuju kamar mandi.
            Setelah menunaikan kewajiban, aku kembali ke kamar, Lita sudah berpakaian rapi sekali. Ia melihatku, kemudian mendesah perlahan.
            “Maaf, yuk. Barusan Lita disuruh pulang,” ia terlihat kurang enak hati, mungkin karena janjinya semalam tak bisa ia tepati. Aku memasang senyum lebar. Tak ingin membuatnya merasa bersalah.
            “Gak apa, Ta. Ayuk minta ajarin Nyek aja,” aku berkilah. Lita mengangguk, kemudian pamit pergi.
            Nyek mengajakku ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia menyeduh the untukku dan Iyek, lalu menyerahkan dua bungkus mie instan untuk kumasak. Aku mendesah lega. Kalau mie instan aku sudah pasti bisa.
            Setelah menghabiskan sarapan sambil berbincang-bincang dengan Nyek dan Iyek, aku mencuci semua piring kotornya. Kalau cuci mencuci, aku memang ahli. Namun sebelum piring selesai kucuci, Nyek membawakan ikan sepat untuk kusiangi. Aku kebingungan, tapi tak berani berkata tidak. Aku malu jika Nyek tahu bahwa dengan usia yang tak lagi anak-anak, memasak pun aku tak bisa.
            Asal-asalan kubersihkan ikan, yang penting sirip, sisik dan isi perut telah kusingkirkan. Kucuci beberapa kali, kemudian kuserahkan pada Nyek yang tengah menyiapkan bumbu gorengnya.
            Nyek menerima ikan itu dengan hangat, entah benar atau salah, Nyek tak mengeluarkan komentar. Ia menyerahkan ikan setelah dibumbui lagi. Dihidupkannya kompor dengan api sedang, setelah minyak panas, ia mempersilakanku menyelupkan ikan ke dalamnya.
            Aku takut sekali ketika minyak panas mengeluarkan gemericik dan letupan-letupan kecil. Tapi aku malu kalau Nyek tahu bahwa menggoreng ikan juga bukan keahlianku. Aku bahkan tak tahu kapan harus membalik, dan kapan harus menganggkat ikan kalau sudah matang.
            Sekali lagi aku asal-asalan. Nyek sepertinya bukan tipe orang yang cerewet. Ia tetap saja menerima sambil tersenyum ikhlas ketika aku menyerahkan hasil gorengan yang sudah tidak jelas bentuknya. Nyek meletakkan ikan goreng itu di bawah tudung saji, kemudian mengajakku istirahat sejenak.
            Aku memutuskan untuk membereskan sisa bumbu yang berantakan, menyapu dapur dan seluruh ruangan. Aku ingin meninggalkan kesan manis, ingin berhasil melakukan satu saja pekerjaan yang sebenarnya lumrah dilakukan perempuan.
            Nyek menunjukkan letak sapu biasa diletakkan. Sapu ijuk tergantung di dinding, berjajar rapi dengan sapu lidi dan rekan-rekan. Segera kuambil sapu ijuk bergagang kuyu itu, kemudian mulai menyapu.
            Semua sudut, mulai dari teras sampai dapur kujelajahi dengan penuh semangat. Namun tiba-tiba, aku merasa ada yang salah. Sapu yang kupegang mendadak patah. Aku kebingungan, salah tingkah. Ragu-ragu kuhampiri Nyek yang sedang mengisi air di kamar mandi.
            Nyek, maaf… Sapunya patah,” kataku takut-takut. Nyek memperhatikan  patahan sapu yang kupegang, ia kemudian tersenyum lagi.
            “Dak ape, istirahatlah, Dok,” ucapnya kemudian, masih dengan senyum hangatnya.
            Aku benar-benar malu. Mengapa tak ada satu pun pekerjaan yang hasilnya memuaskan? Aku malu, meskipun Nyek tak pernah mempermasalahkan.
            Menjelang tengah hari, aku pamit pulang ke rumah senior tempat barang-barangku diletakkan. Sebelumnya aku berterima kasih karena Iyek dan Nyek telah menerimaku bermalam. Aku juga minta maaf atas kecerobohanku mematahkan sapu. Iyek dan Nyek melepasku haru. Mereka berpesan untuk datang lagi lain waktu.
            “Insyaallah, Nyek, Iyek….”
***
            Satu tahun berlalu, aku mendapat kesempatan untuk kembali ke Desa itu. Kudatangi Iyek dan Nyek di rumahnya yang masih sama seperti dulu. Iyek ada di ruang tamu, setelah kusalami, ia membawaku ke dapur. Nyek sedang mengolah bumbu di sana.
            Saat melihatku, Nyek langsung bergerak mendekat. Aku pun tak sabar untuk segera menyalami tangannya yang hangat. Aku bergerak maju, tanpa memperhatikan barang-barang yang berserakan di lantai. Sekali lagi, aku kembali merepotkan. Keranjang bumbu Nyek terinjak kakiku, tumpah ruah bersama gelak tawa yang memenuhi udara dapur sederhananya. *

*Sepenggal Kisah dari buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka



Sepenggal AKKC



Ulang Tahun Ketua
Oleh: Annisa Ramadona

            Pagi-pagi sekali, sms masuk. Bang Inuh mengingatkan bahwa hari itu Ketua KOMASIP berulang tahun. Ia tengah merencanakan kejutan kecil untuk merayakannya sebelum jadwal bedah film bersama crew TRVI dan Sriwijaya TV dimulai. Masih ada dua belas jam lagi untuk persiapan. Bang Inuh sibuk mengatur rencana dan meng-sms semua anggota.
            “Oke, aku gerakkan semua anggota untuk datang, wajib. Apalagi mengingat jadwal bedah film yang telah direncanakan sejak dua minggu lalu, kurasa rekan-rekan akan datang,” katanya meyakinkanku.
            “Yang jadi masalah sekarang, siapa donatur kue ulang tahunnya? Uang kas pasti digunakan untuk keperluan menyambut tamu TV. Terpaksa kita keluarkan duit sendiri,” sambungnya lagi. Aku mulai mengerti arah pembicaraannya.
            “Duit abang belum cair, Nis. Kalau minta sumbangan sama anggota lain, takutnya barengan datang sama Ketua, tahu sendirilah, jam karet. Nah, gimana kalau pakai uang Anis dulu?”
            Aku tersenyum, kalimat terakhir itu memang telah kuprediksi. Kuingat-ingat lagi sisa uang di kantong celana. Tidak mungkin mencukupi.
            “Oke ya, Nis? Beli kuenya yang besar biar bisa dimakan rame-rame, terus jangan beli di emperan, biasanya kurang enak,” bang Inuh mendesak lagi. Aku tak bisa berkata tidak.
            “Okelah, bang,” sahutku sekenanya.
            Setelah mengakhiri sms pagi itu, aku memutar otak. Kemana harus mencari uang sepagi ini? Honor sebagai fasilitator sebuah provider outbound baru saja kulahap, hanya tersisa untuk jajan sehari ke depan. Tidak mungkin mencukupi jika harus membeli kue ulang tahun besar yang bukan di toko sembarangan.
            Setengah jam mencari ide, akhirnya kuputuskan untuk merayu mama. Aku ingat cerita tentang bonus yang baru saja diterimanya dari dealer motor kemarin sore.
            “Sebagai gantinya, kamu yang beres-beres. Cuma bersihin rumah sama cuci mencuci saja kok, Nis,” mama tersenyum penuh arti. Aku menggangguk setuju.
            Sampai setengah sepuluh pagi, urusan bersih-bersih rumah akhirnya kutuntaskan. Mama memberikan sebagian bonusnya sebagai imbalan. Tanpa membuang-buang waktu, aku pamit ke kampus yang jarak tempuhnya sekitar satu jam jika naik angkot.
            “Bang, ke kampus jam berapa?” aku melayangkan sms pada Ketua, menyelidik gerak-geriknya.
            “Sekitar setengah lima, masih banyak urusan kerja, Nis. Kamu?” Ketua balik bertanya, aku tidak menjawab dengan pasti. Kukatakan saja bahwa aku akan ke kampus jika urusan rumah sudah selesai.
            Aku kemudian mengatur strategi bersama Bang Inuh, Uni, dan Reky di sekretariat KOMASIP. Anggota lain biasanya baru muncul selepas ashar, menjelang waktu perkuliahan kelas reguler akan dimulai.
            “Kita ke PTC, Nis. Di sana ‘kan banyak toko kue bermerk. Kualitas rasanya pasti maknyus,” Uni mengusulkan.
            “Mumpung baru jam satu, kita pergi berempat aja,” Reky menambahi. Aku dan bang Inuh mengangguk sepakat.
            Entah mengapa hari itu kue ulang tahun seolah susuah didapatkan. Setiap toko di area PTC kami mampiri, rata-rata kehabisan stok, kalaupun ada, ukuran kuenya terlalu kecil atau terlalu besar. Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar. Aku dan Uni tetap di dalam, sedangkan Bang Inuh dan Reky ke arah luar.
            “Itu, Nis!” Uni menunjuk ke sebuah atalase di dalam toko kue ternama, setidaknya ada lebih dari tiga cabang toko kue itu di kota Palembang. Aku juga sering menikmatinya kalau sepulang kerja papa sedang berbaik hati membawakan aneka roti merk toko itu. Jadi, aku percaya penampilan dan rasanya pasti istimewa.
            “Pas nih, semua pasti kebagian,” Uni meyakinkan. Setelah menghubungi Bang Inuh ke lokasi untuk minta persetujuan, kue itu akhirnya kami boyong ke kampus.
            Setengah empat sore sebagian anggota sudah berkumpul di sekret. Ada yang sibuk mempersiapkan program bedah film, adapula yang sibuk merancang surprise untuk ketua.
            “Gak seru kalau gak dijahilin, Nis,” Bang Inuh nyeletuk.
            “Iya,kapan lagi kita bisa jahilin ketua kalau gak lagi ulang tahunnya?” Uni menambahi. Aku mengangguk-angguk perlahan.
            Jarum jam telah menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit ketika tergopoh-gopoh Ketua datang sambil menjinjing sebuah cermin besar. Kak Hari dan aku yang sejak tadi sudah mengatur skenario, langsung memasang tampang garang.
            “Jam berapa sekarang, Bung?” nada sinis itu keluar dari bibir Kak Hari sebagai ucapan penyambutan atas kedatangan Ketua yang lumayan terlambat.
            Kak Hari adalah salah satu dari crew TV yang datang karena undangan untuk bedah film. Ia juga merupakan simpatisan pembimbing sekaligus tempat konsultasi Ketua soal urusan film. Sudah pasti, Kak Hari merupakan sosok yang ia segani.
Mengingat Kak Hari nyaris tidak pernah marah-marah seperti ini, Ketua langsung salah tingkah. Buru-buru ia meletakkan cermin yang dengan susah payah ia gotong menuju sekretariat KOMASIP yang letaknya di lantai dua.
“Kalau begini caranya, kita perlu rapat sebentar, sebelum kru lain keburu datang,” Kak Hari memerintahkan semua anggota untuk duduk merapat. Ketua yang belum sempat melepaskan jaket dan tas, terdesak mengikuti intruksi Kak Hari.
“Aku kecewa. Sebagai Ketua, seharusnya kamu komiten dengan waktu. Kamu tahu, berapa lama kamu telat?” Kak Hari menatap tajam pada Ketua yang keringatnya mengucur deras sejak ia datang. Belum sempat Ketua menjawab, Kak Hari telah melontarkan pertanyaan sengit lagi.
“Kamu tahu berapa lama kami menunggu?” nada Kak hari makin meninggi. Ketua baru mau menjawab ketika Kak Hari telah lebih dulu buka suara.
“Kalau gak bisa komitmen, gak usah jadi Ketua!” ucapan Kak Hari yang terakhir membuat Ketua terpancing.
“Sejak awal dipilih sebagai Ketua, sudah kukatakan bahwa aku bekerja. Aku gak mungkin bisa full time bersama rekan-rekan sekalian, tapi aku akan berusaha. Dan hari ini pun, aku sedang berusaha meluangkan waktuku, meskipun sedikit terlambat,” Ketua seakan minta pembelaan. Ia menatap satu per satu anggota, tapi tak satu pun yang membuka suara.
“Kalau rekan-rekan memang sudah tidak bisa menolerir waktuku, aku siap mundur dari jabatan ini,” ucap Ketua akhirnya.
            Bang Inuh memberi kode padaku, ketika Kak Hari mengajukan pertanyaan kepada anggota tentang persetujuan kemunduruan Ketua. Aku tidak fokus lagi dalam ruang yang mulai memanas itu. Ada yang pura-pura membela Ketua, ada pula yang pura-pura menyerangnya. Semua terdengar samar dari balik pintu.
             Bang Inuh meletakkan kue ulang tahun di tanganku, kemudian menyalakan lilin berukir dua puluh dua, usia yang kini diinjak Ketua. Pelan-pelan ia membukakan pintu untukku. Komo bersiap dengan gitarnya.
            “Selamat ulang tahun kami ucapkan...,” lagu itu sontak memenuhi udara. Ketua tampak ternganga.
            “Ampun, aku dikerjain, ya?” Ketua menepuk dahinya. Ia tak bisa lagi berkata-kata ketika semua anggota menyanyikan ‘Selamat Ulang Tahun’ dengan iringan gitar seadanya. Saat lagu hampir berakhir, aku mendekatkan kue ke hadapan Ketua.
            “Tak ada kata lain, kecuali syukur kepada Sang Pencipta. Dengan bertambahnya usia ini, semoga lebih baik lagi dari sebelumnya,” Ketua menggumamkan doa sesaat sebelum meniup lilinnya yang kedua puluh dua.
            Ketua kemudian mulai mengiris kue. Seisi sekret menunggui kue menggiurkan itu. Potongan pertama ia berikan pada Kak Hari, kemudian Bang Inuh dan dan Bang Rizal. Setelah itu baru giliranku dan anggota lainnya.
            Setelah semua kebagian, entah siapa yang memulai, perang kue pun terjadi. Semua memburu ketua dengan kue yang siap menghantam wajahnya. Komo mengoles wajah Ketua dengan paksa, Reky melumuri krim coklat, Bang Inuh dan Bang Rizal kompak melempari tubuh Ketua dengan sisa-sisa kue yang dipegangnya.
            Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika sasaran mulai melebar, kini bukan lagi Ketua, semua anggota yang ‘masih bersih’ harus siap-siap diburu untuk kemudian menerima polesan coklat tanpa bisa mengiba. Balas-membalas, kue ulang tahun itu kini menjadi senjata untuk berbahagia.
            “Buat apa beli kue enak kalau ujung-ujungnya dipake perang-perangan?!” aku histeris, menyadari kue dari toko ternama itu harus berakhir tragis.
            “Lain kali kalau Ketua ulang tahun, kita beli yang murah aja!” aku masih dongkol, tapi tak ada yang menjawab kecuali lemparan coklat yang lagi, lagi, dan lagi memburu seisi sekret dengan senang hati.
            “Semua terlihat begitu indah, tanpa kusangka hal yang mengejutkan itu tiba. Itu adalah hal paling indah bagiku. Thanks for all. Semoga kebahagiaan selalu menaungi hari-hariku dan hari-hari kita semua, amin…”
            Kulirik wajah Ketua setelah ia menuliskan status itu di FB-nya. Kebahagiaan tergambar jelas di sana. Lalu kebahagiaan itu pula yang mendadak membuatku ikut bahagia.
            “Oke, aku ikhlasin kuenya!”
-End-*

(Sepenggal Kisah dari buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka)

Sweet Memories: Ulang Tahun Ketua


Testimoni Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka

Ketika Kata menjadi Saksi

Sahabat Kampus
Saya sangat senang dengan semangat dari teman-teman mahasiswa yang saya sebut sebagai Sahabat Kampus, yang kini makin memiliki pandangan maju. Betapa tidak, bila selama ini mereka telah menunjukkan kemampuan untuk meluncurkan majalah dinding dan tabloit serta majalah kampus, maka sekarang semakin banyak saja karya intelektual yang mereka buat.
Contoh terakhir ini Mei 2012 lalu, saya diberi sebuah bundel buku – yang ternyata isinya adalah true story sahabat kampusku. Mereka membuat berbagai tulisan yang begitu memberikan semangat sebagai penulis.
Ini suatu yang tidak diduga-duga, walaupun karya mahasiswa lain telah banyak beredar yang mungkin lebih baik, tetapi sahabat kampusku ini telah memberikan semangat baru kembali kepada civitas akademik STISIPOL Candradimuka, agar makin banyak mewarnai karya tulis yang dapat mewarnai kancah jurnalis di kampus-kampus di SUMSEL.
Para sabahat kampusku memberikan judul “Aku, Kamu, Kita & Candradimuka” dengan judul kecilnya “Dari Mahasiswa untuk Candradimuka”. Ini karya tulis yang hebat. Kenapa, karena di masa kurangnya minat mahasiswa menulis, tetapi sebagain kecil dari jumlah mereka masih bersedia menyediakan waktu untuk mencurahkan pemikiran-pemikiran mereka. Berangkat dari minat dan semangat yang tinggi, tentu di antara sahabat kampusku ini, akan muncul penulis penulis besar nanti di kemudian hari.
Saya harus bersedia mengacungkan jempol kepada mereka, apalagi sahabat kampusku ini terkenal memiliki kemauan yang cukup keras terhadap jurnalis kampus. Sahabat kampusku ini pernah bertanya kepadaku, “Bagaimana bisa menjadi penulis yang baik?”
Kujawab, “Yang penting adalah ketekunan dan kegigihan.”
Ternyata mereka masih ingat, bagaimana harus ada sebuah bentuk karya dalam bentuk majalah, tabloid atau koran kampus, sahabat kampusku itu telah menerbitkan dengan gaya lain. Yaitu true story… ini hebat!
Saya yakin mereka akan menjadi penulis besar nantinya, saya hanya terus mengingatkan agar tetap tekun dan gigih untuk menulis. Jangan berhenti menulis yah…. Kalo ada yang bilang masih dangkal, itu tandanya kita akan bisa lebih dalam lagi nanti.
Selamat semua ya, sahabat kampusku…. (Bangun Lubis, M.Si., Dosen Komunikasi STISIPOL Candradimuka, Wartawan)

Remaja Ditengah Industri Budaya Massa
Apakah kita masih sempat merefleksikan kejadian sehari-hari yang kita alami di tengah serbuan industri budaya massa yang semakin menggila dewasa ini? Masih ada sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam satu wadah bersedia menyisihkan waktunya untuk menggoreskan pensil pada kertas sehingga terlahir sebuah buku Aku-Kamu-Kita-dan Candradimuka. Semoga buku yang dituliskan kawan-kawan KOMASIP dapat menyadarkan mahasiswa lain untuk belajar berproses bukan bangga pada instanisasi intelektual. Luar biasa aura semangat dalam buku ini, semoga lahir kembali karya ilmiah lainnya. Saatnya berkarya bukan bicara. (Herfriady, S.Sos., Humas STISIPOL Candradimuka)

Kami menyambut baik dengan adanya penerbitan buku yang berjudul “Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka” merupakan karya nyata mahasiswa STISIPOL Candradimuka Palembang. Menurut kami buku tersebut cukup baik dan ceritanya bagus. Semoga penulisan ini tetap berkelanjutan. Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh mahasiswa penulis buku ini. (Drs. Mawardi. M.Si, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka)

Di tengah beragam ketidakjujuran yang dipertontonkan para elit di negeri ini, ternyata para anak muda ini mampu menyajikan true story “Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka” apa adanya. “Yeach. Jujur di tengah ketidakjujuran. Semoga kejujuran itu terus terpelihara.” (Ade Indra Chaniago, SE., M.Si., Dosen STISIPOL Candradimuka)

Sumpah lucu dan keren banget! Yang pasti sarannya lebih ditambah lagi ceritanya, ya! (M. Miftah Farid. S.Sos., M.I.Kom., Dosen STISIPOL Candradimuka, Penyiar R-Radio)

Penulisan buku yang berjudul “Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka” sudah mulai baik sesuai dengan kaidah kebahasaan. Hasil karya mahasiswa seperti ini harus tetap berlangsung karena merupakan aplikasi yang tercermin dengan baik yang memotivasi supaya mahasiswa selalu berkreasi dengan dinamis dalam pengembangan ilmu, seni, dan budaya. Berkarya… berkreasi… berhasil… berjaya selalu…. (Dra. Yana Mahdiana, MM., Sekjur JIA, Dosen Bahasa Indonesia STISIPOL Candradimuka)

Buku “Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka” merupakan karya nyata mahasiswa yang memperlihatkan berkembangnya kreativitas mahasiswa dalam sebuah tulisan. (Gilang Pratama, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi)

Wow! Keren banget True Story “Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka”. Asli, ceritanya membuat pembaca merasakan suasana yang diceritakan oleh penulis di kampus Candradimuka. Sukses buat peluncuran bukunya. Pokoknya sip abis! (Rahayu, Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi)
 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal