Monday, 30 June 2014

Bab 3 Novel Nobody's Perfect

1 comments
Nobody's Perfect (Gramedia Lippo Karawachi)
Yang punya foto: Glenn Alexei ^^
Ketika mantan siswa lain berkutat dengan persiapan ujian masuk perguruan tinggi, Nindy dan Momo justru sibuk dengan program penggendutan badan. Awalnya Momo menolak mentah-mentah ketika Nindy meminta bantuannya untuk menggendutkan badan. Momo yakin Nindy sudah tidak normal. Mana ada gadis proporsional yang ingin menjadi gendut dan jelek? Tapi melihat perjuangan keras Nindy, akhirnya Momo tak tega. Ia tahu, Nindy sedang tidak main-main.

“Kamu udah pikirin sms terakhirku, Nin?”

“Bukan cuma sms terakhir kamu, Mo. Semua yang kamu ucapin mulai dari kita di pohon jambu juga udah kupikirin mateng-mateng. Aku yakin, keputusanku ini tepat.”

“Tapi kamu gak boleh nyesel.”

“Tentu.”

“Oke. Kalo gitu aku bersedia bantuin kamu. Dengan syarat…” Momo menatap Nindy sejenak.

“Kamu yang tanggung semua biayanya, Nin.”

“Berapa?”

“Berapa pun yang nantinya kita keluarin. Bukan apa-apa. Menjadi gendut itu artinya juga menambah pengeluaranmu karena yang kamu butuhin bertambah. Misalnya porsi makanmu jadi dobel, ukuran pakaian juga dobel. Dan itu butuh duit yang dobel juga. Lebih baik kita fair aja. Kalo aku ikut program kamu, otomatis aku bakal ngeluarin duit juga. Nah, aku kan bukan orang kaya, Nin. Jadi kuharap kamu bisa maklum.”

Nindy mengangguk-angguk mendengar kicauan Momo. Ia menarik dua sudut bibirnya keatas. Lalu dengan penuh semangat, Nindy membuka suara.

“Oke. Semuanya aku yang tanggung. Sejak kapan sih duit jadi masalah?” Nindy mengerlingkan matanya. Momo ikut tersenyum senang.

***

“Kita mulai dari sini.”

Momo mengambil secarik kertas dan spidol di atas meja belajar Nindy. Tangannya yang besar dengan pelan menyoreti kertas putih itu dengan garis-garis yang membentuk tabel.

“Yang pertama kali kamu lakukan adalah pasang target.”

Nindy hanya memperhatikan. Ia memasang telinga agar penjelasan Momo dapat ia terima dengan jelas.

“Target itu penting. Karena dengan itu kamu belajar konsisten untuk program penambahan berat badanmu ini. Mulai hari ini kamu catat perkembangan berat badanmu tiap minggunya. Tentukan juga targetmu sampai mana. Kamu ingin beratmu nambah berapa kilo dalam jangka waktu berapa minggu. Target itulah yang harus kamu capai.”

Sejauh ini Nindy masih bisa mencerna maksud Momo. Ia mengambil spidol dari tangan Momo, kemudian mulai menuliskan berat badannya sekarang di tabel minggu pertama.

“Berat badanmu berapa, Mo?”

“Delapan puluh.” Nindy mengangguk, lalu menuliskan angka delapan puluh pada tabel terakhir.

“Serius kamu mau jadi segendut aku?” Momo masih sangsi. Dengan mantap, Nindy mengangguk.

“Serius, Mo. Ini pertama kalinya aku merasa amat-sangat-serius-sekali.” Nindy menekankan dengan pemborosan kata yang memang ia sengaja.

Momo mengangkat alis, kemudian berinisiatif untuk mengambil selotip dan menempelkan tabel target itu di dinding meja belajar Nindy.

“Selanjutnya apa, Mo?”

“Ambil duit… kita keluar!”

***

Nindy menelan ludah saat makanan yang dipesan Momo tiba di hadapan mereka. Nasi Samin dengan Malbi daging, gulai telur, acar timun serta sambal nanas dan kentang goreng di tepian piring tampak menggiurkan bagi Momo. Tapi bagi Nindy yang belum terbiasa dengan porsi besar, semua itu tampak mengerikan. Beberapa kali ia memandangi hidangan yang tersaji di atas meja, lalu memandangi Momo yang telah bersiap untuk makan.

“Selain pasang target, yang lebih penting lagi itu pasang niat mantap-mantap!” Momo melirik ke arah Nindy yang belum juga menyentuh makanan lezat itu.

“Percuma aja kamu pasang target kalo belum apa-apa niat kamu udah kendor cuma karena makanan-makanan ini.” Kalimat Momo langsung menusuk telinga Nindy.

“Untuk menambah berat badan, kamu harus banyak-banyak mengonsumsi karbohidrat, makanan berprotein, dan makanan yang mengandung lemak. Porsinya juga ditambah dari porsi makan kamu yang biasanya, Nin.”

Setelah menjelaskan itu, Momo tampak berdoa sejenak, kemudian segera menyendok nasi khas Palembang itu. Melihat itu, Nindy pun mencoba memantapkan niatnya.

“Oke. Kita coba,” gumam Nindy kemudian. Sebelum menyendok nasinya, Nindy memutuskan untuk mengambil segelas teh manis seperti yang biasa Nindy lakukan sebelum makan. Tapi belum sampai gelas itu terangkat, Momo sudah lebih dulu mencegahnya.

“Jangan minum sebelum makan. Itu membuat perut cepat kenyang. Terlebih lagi minuman manis. Lambung kamu bisa langsung terasa penuh.” Momo menjelaskan di sela-sela kunyahannya.

“Oke… oke….”

Kali ini tanpa pikir panjang Nindy langsung menyambar Nasi Samin itu. Dikunyahnya dengan tidak memikirkan apapun lagi selain niat untuk menambah berat badan.

“Bagus…”

Momo tersenyum puas melihat muridnya itu mulai bisa menikmati prosesi makan siang mereka.

***

Troli belanja yang didorong Nindy sudah hampir penuh, tapi Momo masih saja menjejalkan cemilan-cemilan ke dalamnya. Nindy tidak khawatir soal uang. Ia hanya ketar-ketir tiap kali membayangkan dirinya harus menghabiskan semua cemilan yang dipilihkan Momo itu.

Ada berbagai jenis keripik. Mulai dari keripik singkong, keripik kentang, sampai keripik pangsit. Dari rasa original, balado, sapi panggang, juga ayam bawang. Belum lagi jenis kacang-kacangan. Segala merk dan rasa Momo masukkan ke dalam troli mereka. Kemudian ada juga roti-rotian, pudding cangkir, popcorn, dan kerupuk. Untuk minuman Momo memilih beberapa softdrink bersoda dengan aneka rasa, milkshake, es krim, dan teh kotak.

Nindy menggeleng-gelengkan kepala. Sejujurnya, ia tak tahu bagaimana cara memasukkan semua makanan itu ke dalam perutnya. Bahkan, lemari es di kamarnya pun tidak akan bisa menampung semua, kecuali jika Nindy memasukkan sebagian belanjaannya itu di lemari pendingin milik Mama. Lalu bagaimana ceritanya jika semua makanan itu harus ia pindahkan ke dalam pencernaannya? Nindy menelan ludah tiap kali membayangkannya. Tapi ketika Momo lagi-lagi melirik ke arahnya, Nindy segera berpura-pura menikmati acara belanja cemilan itu.

“Hmm… kamu gak sibuk SMNPTN apa, Mo?” Nindy mengalihkan pikirannya dengan membuka pembicaraan baru.

“Kayak anak-anak lain tuh, semua pada sibuk daftar kuliah.” Nindy menambahkan.

Momo berhenti memilih cemilan. Karena Nindy terlihat mulai keberatan dengan isi troli yang hampir penuh, Momo mengambil alihnya.

“Kamu sendiri?”

“Eh?”

Nindy terheran karena lagi-lagi Momo bukannya menjawab, tapi malah balik mengajukan pertanyaan.

“Kenapa kamu gak ikut-ikutan sibuk kayak mereka?” tanya Momo lagi. Nindy tertunduk. Ia menghela nafas berat.

“Otakku gak sanggup, Mo,” ucapnya lirih.

“Orangtuaku kaya. Sejujurnya aku bisa masuk lewat belakang kalo aku mau. Tapi buat apa? Memaksakan diri itu gak baik kan, Mo? Apalagi dengan cara curang gitu. Cuma bakal nambah-nambahin sampah aja.” Nindy mencoba tersenyum.

Momo menepuk pundaknya. “Bagus. Itu artinya kamu pinter!” Momo tertawa sebentar, kemudian memandang Nindy lagi.

“Tapi bukannya itu berarti kamu nyerah sebelum mencoba?”

Nindy cepat-cepat menggeleng.

“Aku sudah nyoba jauh sebelum temen-temen lain ribut soal kuliah, Mo.” Nindy mendesah.

“Orangtuaku kurang apa coba? Aku diprivatin, dibeliin buku-buku tunjangan, dikursusin, dikasih suplemen otak, dan seabrek usaha lainnya. Tapi hasilnya masih gini-gini aja. Takutnya, kalo aku maksain diri masuk universitas negeri, akunya yang gak sanggup. Dari pada stress terus ujung-ujungnya depresi? Enakan aku kuliah di tempat yang masih bisa dijangkau otakku aja, Mo. Iya kan?” Nindy menutup penjelasannya ketika Momo telah menanggapi dengan anggukan kepala.

“Kalo kamu?” Kali ini Nindy memburu jawaban Momo. Ditungguinya sejenak sampai Momo selesai memilih coklat dan memasukkannya ke dalam troli.

“Aku juga gak mau maksain diri, Nin. Karena kalo aku maksa masuk PTN, artinya aku maksain orangtuaku yang jelas-jelas gak mampu. Kalo aku masih maksa juga, taruhannya pendidikan tiga adikku.” Momo mendesah. Lalu mengarahkan troli ke kasir.

“Jadi soal biaya?”

“Yap.”

Momo mengeluarkan belanjaan mereka satu per satu. Kasir supermarket di hadapan mereka dengan sigap mentotal harga cemilan-cemilan itu.

“Aku mau ambil program keahlian satu tahun. Terus cari kerja, bantu orangtua cari duit sambil nabung dikit-dikit buat kuliah. Gak masalah sih mau PTN atau PTS. Yang penting ilmunya nyampe dan bisa diamalin.”

“Wuih, kamu emang pantes dipanggil suhu. Kata-katanya dalem terus.” Nindy merasa takjub pada sosok Momo yang ternyata memiliki pemikiran yang begitu dewasa. Momo hanya terkekeh mendengarnya.

“Nah, tuh tugasmu. Bayar!” Momo mencibir saat kasir menyebutkan harga yang harus dibayar untuk segunung belanjaan mereka itu. Nindy mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan. Setelah menerima kembalian yang hanya beberapa keping recehan, mereka mendorong troli lagi menuju parkiran.

***

Momo mengintruksikan Nindy untuk menepikan Honda Jazz-nya tepat di depan warung jajanan khas Palembang di 26 ilir. Sejak keluar dari supermarket tadi, Momo memang sudah memberi tahu bahwa tujuan mereka selanjutnya adalah menyantap kudapan sore.

Nindy sebenarnya tidak terlalu ingin makan, tapi setelah melangkah masuk ke warung itu, aroma kuah Model seakan menggelitik hidungnya. Mendadak, ia merasa begitu lapar.

Momo memesan dua mangkuk Model, sepuluh pempek ikan kecil, dan dua pempek kapal selam. Ia juga menambahkan Es Kacang dalam pesanannya itu sebelum akhirnya celingak-celinguk mencari tempat duduk yang nyaman. Pilihan Momo jatuh pada meja tepat menghadap kipas angin. Di atas meja itu ada Srikaya. Kudapan manis berwarna hijau yang terbuat dari tepung, telur, santan, dan gula, ditumpuk di atas ketan putih. Selama menunggu pesanan datang, Momo mengajak Nindy untuk melahap habis dua Srikaya itu.

“Simpelnya gini. Makan besar tiga kali sehari, diselingi cemilan. Boleh yang setengah berat kayak di sini, boleh juga yang ringan kayak belanjaan kita tadi. Tambah porsi makanan dari porsi normal kamu. Jangan minum sebelum makan, boleh makan sebelum tidur. Olahraga teratur dan tidur yang cukup.”

Nindy cepat-cepat mencatat penjelasan Momo di Hp-nya. Kalau hanya diingat-ingat, Nindy tak yakin ingatannya akan bertahan lama.

“Dan satu hal lagi yang penting.”

Momo tampak serius. Ia membiarkan Model, Pempek, dan Es Kacang tersaji semua di atas meja mereka, baru kemudian menatap Nindy lekat-lekat.

“Kamu harus bahagia.”

“Bahagia?”

“Ya.”

Momo berdoa sejenak, lalu menusuk Pempek Adaan dengan garpu di tangannya. Nindy mengikuti, meskipun sebenarnya ia masih menunggu-nunggu lanjutan petuah Momo.

“Usaha apapun yang kamu lakukan, gak bakal terasa hasilnya kalo kamu gak menikmati.”

Momo menghirup cuka, Nindy mengikuti lagi.

“Berbahagialah, Nin. Gak semua orang bisa makan makanan enak begini setiap hari,” ucap Momo sebelum akhirnya tenggelam dalam kenikmatannya sendiri. Dan lagi-lagi Nindy mencoba mengikuti.

***

Thursday, 1 May 2014

Novel Nobody's Perfect

5 comments
Penulis: Annisa Ramadona
Penyunting: Gari Rakai Sambu
Penerbit: Cakrawala
ISBN: 978-979-383-293-7
Tebal: 168 Halaman
Harga: Rp. 32.000,-

Nobody’s perfect, Nin. Gak ada gading yang gak retak.” Kalimat itu meluncur dari bibir Momo yang masih berisi remahan keripik.

Nindy menatapnya lekat-lekat, menunggu kelanjutan dari kalimat itu.

"Kamu populer, kaya, dan cantik. Nah, terus kalau kamu juga pintar, orang yang gak populer, gak kaya, dan gak cantik kayak aku kebagian apa dong?"

***

Nindy tak peduli kata-kata Momo, sahabatnya.

Ia terlanjur sakit hati berkali-kali dilukai cowok, Karena itulah ia berniat mengubah dirinya besar-besaran. Maksudnya, benar-benar “besar.” Nindy yang dulunya bertubuh ideal, berkat saran Momo, memutuskan mengonsumsi segala jenis makanan membabi-buta dengan satu tujuan: tak lagi menjadi target incaran cowok-cowok mata keranjang.

Tepat pada saat itulah ia bertemu Tiyo—lelaki yang ia yakini sebagai cinta sejatinya. Nasi sudah menjadi bubur. Tubuhnya terlanjur membulat, dan Tiyo sepertinya tidak meliriknya karena alasan itu. Penyesalan sebesar gunung tak mampu mengembalikan keindahan tubuhnya seperti semula.

Dan di sinilah cerita dimulai…

Penampakan di Gramedia Palembang Square

0 comments
Iseng-iseng jepretin anak-anak. Ada Cinta Harus Memiliki yang stoknya tinggal 8 Eks. Ada juga Imagine Him yang baru masuk, stoknya masih 40 Eks. Terus, nggak sengaja juga liat Storycake Nikmatnya Syukur (antologi hasil lomba yang digarap Ummi Ayesha). Masih nungguin Nobody's Perfect nongol nih, kayaknya bentar lagi juga soalnya udah ada di list-nya Gramed PS, cuma stok masih Nol.

Dan inilah penampakan mereka :D

Rak Cinta Harus Memiliki

Rak Imagine Him
Rak Storycake Nikmatnya Syukur

Monday, 14 April 2014

Opening Scene Novel Imagine Him

0 comments

Penulis: Annisa Ramadona
Penerbit: Berlian (Diva Press)
ISBN: 978-602-7968-47-9
Tebal: 266 Halaman
Terbit: Cetakan 1, April 2014
Harga: Rp. 40.000,-

Episode 1

Riris menyeruput es jeruknya. Ia memandang sekeliling, kemudian sibuk kembali dengan mangkuk bakso di hadapannya. Kantin sedang ramai karena bel istirahat yang baru saja meraung seolah menyihir para siswa untuk mengisi perutnya secara massal. Alhasil, jam-jam seperti ini ruang penuh aroma makanan itu seakan tak pernah terasa lapang.
“Riris, kan?”
Riris menoleh cepat saat namanya disebut.
“Kamu Riris, kan?”
Pemilik suara yang tiba-tiba telah ada di depannya itu menunggu kepastian. Riris menengadah, ditelitinya cowok itu. Hanya sesaat, kemudian ia kembali menekuni jajanannya.
“Kamu nggak berubah, Ris.” Cowok itu menarik kursi, kemudian duduk sambil terus menatap Riris. “Tetep cuek… tapi manis,” sambungnya.
Riris mengernyitkan dahi, menelisik wajah makhluk berjakun di hadapannya. Riris merasa tak kenal, meskipun sepersekian detik yang lalu ia telah memutar memori demi mengingat-ingat mungkin saja cowok keren itu berasal dari masa lalunya.
“Tapi cueknya kamu itu kebangetan, Ris. Inget nggak waktu temen-temen SMP jodohin kita? Kamu tetep aja bolak-balik lewat kelasku, padahal aku setengah mati menahan malu, mati kutu di hadapanmu.”
Cowok itu tersenyum. Riris menatapnya dalam-dalam. Ia benar-benar merasa tak mengenali lawan bicaranya itu.
“Kamu beneran nggak inget? Aku Saga, Ris.”
Lagi-lagi cowok itu tersenyum. Kali ini sambil mengulurkan tangannya. Riris bergeming. Ia mencoba menyembunyikan tanda tanya yang mulai bermunculan di benaknya.  
            “Sagara Putra!”
Cowok itu mempertegas suaranya. Riris ragu, namun disambutnya juga uluran tangan cowok yang mengaku sebagai Sagara itu. Nafasnya tertahan, degub jantungnya berdetak tak keruan.
Bayangan Saga waktu SMP dulu menyeruak di benaknya. Cowok yang ada di hadapannya, dulu tak sekeren ini. Badannya gempal, tampak culun dan benar-benar polos. Sekarang tubuh gempalnya itu berubah proporsional, tampang culun dan polosnya jadi sekeren Tetsuya Fujiwara. Yang tak berubah hanya satu, gaya berpakaian cowok paling tajir di SMP-nya dulu itu masih sama, masih suka mengenakan barang-barang merek ternama.
“Aku siswa baru di sini, pindahan dari Bandung.” Saga memerhatikan Riris yang membeku.
“Sori, aku jadi pangling.” Riris tersenyum kecut. Ia masih sangsi terhadap sosok keren Saga. Pasti tak akan ada yang percaya bahwa empat tahun lalu Riris menolak cinta cowok ini mentah-mentah, sehari sebelum Saga akhirnya pindah sekolah.
“Wajar kalo kamu nggak inget aku, Ris. Sudah terlalu lama, sudah banyak juga orang yang lalu-lalang dalam hidupmu. Lagian, nggak ada alasan yang mengharuskan kamu untuk selalu inget aku, kok.” Saga tersenyum lagi, Riris tak enak hati.
“Aku cuma nggak kenal kamu yang sekarang. Kamu beda, itu aja,” jelas Riris datar. Ia menyeruput es jeruknya lagi. Keduanya terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing.
“Hmm…” Saga membuka suara, “Kalo boleh tau, kenapa dulu kamu tolak aku, Ris?” lanjutnya sambil menatap sejurus pada Riris. Pertanyaan itu membuat Riris nyaris tersedak.
“Kamu aneh, itu jaman cinta monyet, tahu.”
Riris menyeruput es jeruknya sampai tetes penghabisan. Ia ingin segera menyudahi pembicaraan yang membuatnya mulai merasa tak nyaman. Tapi Saga masih mencoba menahannya, menunggu jawaban.
“Waktu itu kamu belum kenal aku, belum tau, dan belum ngerti gimana aku,” kata Riris akhirnya. Saga menatap Riris lekat-lekat.
“Jadi, cuma karena itu?” 
Riris mengangguk. Ia lalu bangkit dari duduknya sambil melangkah menjauh.
Kantin masih belum juga sepi. Suara tawa dari gerombolan siswa berbaur dengan teriakan-teriakan kelaparan yang memesan jajanan. Ditambah lagi sebagian siswa yang tak kebagian kursi, dengan setengah tak sabar mereka menunggui siswa lain yang beranjak pergi.
“AKU JANJI, RIS!”
Riris terhenti. Teriakan Saga membuat seisi kantin menatapnya. Saga berdiri, kemudian melanjutkan kalimatnya dengan volume yang lebih lantang lagi.
“AKU JANJI SUATU SAAT AKU AKAN JADI ORANG YANG PALING TAHU TENTANG KAMU. AKU AKAN JADI ORANG YANG PALING NGERTIIN KAMU. DAN KALAU SAAT ITU TIBA, KAMU NGGAK AKAN PUNYA ALASAN LAGI BUAT NOLAK AKU!”
Wajah Riris memerah. Ia tahu suara Saga menggema di setiap sudut kantin. Dan ia pun tahu, seisi kantin menatapnya tanpa kedipan sekali pun. Riris mempercepat langkah. Ditinggalkannya Saga di situ, tanpa peduli cowok keren itu terus menatapnya yang mulai berlalu.

***
           
Kelas mendadak heboh ketika Saga melangkah masuk. Cewek-cewek centil mulai menyapa dan tebar-tebar pesona, sedangkan cewek-cewek kalem hanya mencuri-curi pandang sambil berdoa, berharap Saga menyapa mereka.
            Di pojok kelas, Riris mendengus kesal. Bagaimana bisa cowok ini tiba-tiba pindah ke kelasnya? Yang ia dengar dari teman-teman yang gempar akan aksi Saga di kantin tadi, seharusnya Saga masuk kelas A, bukan kelas B di mana Riris berada. Apa karena kaya, maka Saga bisa pindah-pindah kelas sesuka hatinya?
Saga melayangkan pandangan ke penjuru kelas. Riris merasa ingin menghilang agar tak bisa ditemukan. Sayang, cowok itu telah lebih dulu menangkap sosok Riris yang mulai mengalihkan pandangan ketika Saga berjalan mendekat. Desas-desus mengenai kejadian di kantin tadi terdengar lagi dari bibir-bibir centil yang memandangi Riris dengan perasaan iri.
 “Kosong, kan?” Saga meletakkan tasnya di atas meja, tepat bersebelahan dengan Riris. Itu memang satu-satunya tempat kosong yang tersisa karena penghuninya sebulan lalu pindah sekolah ke Jakarta. Riris tak bisa berkata-kata. Ia tak punya wewenang untuk mengusir Saga dari tempatnya berdiri sekarang.
 “Dengan begini, kamu nggak bisa lari lagi.” Saga menarik kursi, menatap Riris sambil tersenyum penuh arti.

***

Riris mondar-mandir di sudut kanan lapangan olahraga. Papan panjat dinding berukuran enam meter menjulang ke angkasa. Hari ini jadwal climbing. Karena itulah meskipun bel pulang telah berbunyi sejak tadi, Riris masih saja sibuk bersama anggota Edelweiss, kelompok pecinta alam di sekolahnya.
            Riris memerhatikan Zaky. Senior sekaligus pelatih wall climbing Edelweiss itu mulai menjejakkan kakinya pada point demi point. Sesekali ia mengusap magnesium pada telapak tangannya yang mulai berkeringat.
            “Aku daftar jadi anggota Edelweiss, Ris!”
Tiba-tiba sebuah suara menyentak perhatian Riris. Ia mengalihkan pandangan dari Zaky. Saga sudah ada di sampingnya sambil mengibaskan selembar formulir pendaftaran calon anggota.
“Sudah terlalu jauh aku tertinggal, aku akan menapaki jejak di semua jalan yang kamu lalui, Ris.” Saga setengah berbisik, kemudian tersenyum.
Riris tak ingin menanggapi. Diambilnya formulir dari tangan Saga, lalu pandangannya beralih pada Zaky yang kini mulai melepaskan harness dari tubuhnya. Riris dan Zaky bertemu pandang, cukup lama.
“Aku mau latihan, Ga. Kalo kamu masih mau di sini, silakan! Tentang jadi anggota, aku harap kamu sudah baca baik-baik syaratnya. Yang jelas, kami nggak nerima anak mami!” Riris tersenyum sinis, ditatapnya Saga sesaat.
“Nggak usah kuatir, Ris! Walaupun anak mami, gini-gini aku ini lelaki!” Saga mencondongkan mukanya tepat di hadapan Riris, mengamati cewek itu dalam jarak lima senti. Riris salah tingkah, buru-buru ia melangkahkan kaki meninggalkan Saga yang lagi-lagi terus menatapnya lekat-lekat.

***

Sinopsis Imagine Him di sini!
 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal