Monday, 30 June 2014

Bab 3 Novel Nobody's Perfect

Nobody's Perfect (Gramedia Lippo Karawachi)
Yang punya foto: Glenn Alexei ^^
Ketika mantan siswa lain berkutat dengan persiapan ujian masuk perguruan tinggi, Nindy dan Momo justru sibuk dengan program penggendutan badan. Awalnya Momo menolak mentah-mentah ketika Nindy meminta bantuannya untuk menggendutkan badan. Momo yakin Nindy sudah tidak normal. Mana ada gadis proporsional yang ingin menjadi gendut dan jelek? Tapi melihat perjuangan keras Nindy, akhirnya Momo tak tega. Ia tahu, Nindy sedang tidak main-main.

“Kamu udah pikirin sms terakhirku, Nin?”

“Bukan cuma sms terakhir kamu, Mo. Semua yang kamu ucapin mulai dari kita di pohon jambu juga udah kupikirin mateng-mateng. Aku yakin, keputusanku ini tepat.”

“Tapi kamu gak boleh nyesel.”

“Tentu.”

“Oke. Kalo gitu aku bersedia bantuin kamu. Dengan syarat…” Momo menatap Nindy sejenak.

“Kamu yang tanggung semua biayanya, Nin.”

“Berapa?”

“Berapa pun yang nantinya kita keluarin. Bukan apa-apa. Menjadi gendut itu artinya juga menambah pengeluaranmu karena yang kamu butuhin bertambah. Misalnya porsi makanmu jadi dobel, ukuran pakaian juga dobel. Dan itu butuh duit yang dobel juga. Lebih baik kita fair aja. Kalo aku ikut program kamu, otomatis aku bakal ngeluarin duit juga. Nah, aku kan bukan orang kaya, Nin. Jadi kuharap kamu bisa maklum.”

Nindy mengangguk-angguk mendengar kicauan Momo. Ia menarik dua sudut bibirnya keatas. Lalu dengan penuh semangat, Nindy membuka suara.

“Oke. Semuanya aku yang tanggung. Sejak kapan sih duit jadi masalah?” Nindy mengerlingkan matanya. Momo ikut tersenyum senang.

***

“Kita mulai dari sini.”

Momo mengambil secarik kertas dan spidol di atas meja belajar Nindy. Tangannya yang besar dengan pelan menyoreti kertas putih itu dengan garis-garis yang membentuk tabel.

“Yang pertama kali kamu lakukan adalah pasang target.”

Nindy hanya memperhatikan. Ia memasang telinga agar penjelasan Momo dapat ia terima dengan jelas.

“Target itu penting. Karena dengan itu kamu belajar konsisten untuk program penambahan berat badanmu ini. Mulai hari ini kamu catat perkembangan berat badanmu tiap minggunya. Tentukan juga targetmu sampai mana. Kamu ingin beratmu nambah berapa kilo dalam jangka waktu berapa minggu. Target itulah yang harus kamu capai.”

Sejauh ini Nindy masih bisa mencerna maksud Momo. Ia mengambil spidol dari tangan Momo, kemudian mulai menuliskan berat badannya sekarang di tabel minggu pertama.

“Berat badanmu berapa, Mo?”

“Delapan puluh.” Nindy mengangguk, lalu menuliskan angka delapan puluh pada tabel terakhir.

“Serius kamu mau jadi segendut aku?” Momo masih sangsi. Dengan mantap, Nindy mengangguk.

“Serius, Mo. Ini pertama kalinya aku merasa amat-sangat-serius-sekali.” Nindy menekankan dengan pemborosan kata yang memang ia sengaja.

Momo mengangkat alis, kemudian berinisiatif untuk mengambil selotip dan menempelkan tabel target itu di dinding meja belajar Nindy.

“Selanjutnya apa, Mo?”

“Ambil duit… kita keluar!”

***

Nindy menelan ludah saat makanan yang dipesan Momo tiba di hadapan mereka. Nasi Samin dengan Malbi daging, gulai telur, acar timun serta sambal nanas dan kentang goreng di tepian piring tampak menggiurkan bagi Momo. Tapi bagi Nindy yang belum terbiasa dengan porsi besar, semua itu tampak mengerikan. Beberapa kali ia memandangi hidangan yang tersaji di atas meja, lalu memandangi Momo yang telah bersiap untuk makan.

“Selain pasang target, yang lebih penting lagi itu pasang niat mantap-mantap!” Momo melirik ke arah Nindy yang belum juga menyentuh makanan lezat itu.

“Percuma aja kamu pasang target kalo belum apa-apa niat kamu udah kendor cuma karena makanan-makanan ini.” Kalimat Momo langsung menusuk telinga Nindy.

“Untuk menambah berat badan, kamu harus banyak-banyak mengonsumsi karbohidrat, makanan berprotein, dan makanan yang mengandung lemak. Porsinya juga ditambah dari porsi makan kamu yang biasanya, Nin.”

Setelah menjelaskan itu, Momo tampak berdoa sejenak, kemudian segera menyendok nasi khas Palembang itu. Melihat itu, Nindy pun mencoba memantapkan niatnya.

“Oke. Kita coba,” gumam Nindy kemudian. Sebelum menyendok nasinya, Nindy memutuskan untuk mengambil segelas teh manis seperti yang biasa Nindy lakukan sebelum makan. Tapi belum sampai gelas itu terangkat, Momo sudah lebih dulu mencegahnya.

“Jangan minum sebelum makan. Itu membuat perut cepat kenyang. Terlebih lagi minuman manis. Lambung kamu bisa langsung terasa penuh.” Momo menjelaskan di sela-sela kunyahannya.

“Oke… oke….”

Kali ini tanpa pikir panjang Nindy langsung menyambar Nasi Samin itu. Dikunyahnya dengan tidak memikirkan apapun lagi selain niat untuk menambah berat badan.

“Bagus…”

Momo tersenyum puas melihat muridnya itu mulai bisa menikmati prosesi makan siang mereka.

***

Troli belanja yang didorong Nindy sudah hampir penuh, tapi Momo masih saja menjejalkan cemilan-cemilan ke dalamnya. Nindy tidak khawatir soal uang. Ia hanya ketar-ketir tiap kali membayangkan dirinya harus menghabiskan semua cemilan yang dipilihkan Momo itu.

Ada berbagai jenis keripik. Mulai dari keripik singkong, keripik kentang, sampai keripik pangsit. Dari rasa original, balado, sapi panggang, juga ayam bawang. Belum lagi jenis kacang-kacangan. Segala merk dan rasa Momo masukkan ke dalam troli mereka. Kemudian ada juga roti-rotian, pudding cangkir, popcorn, dan kerupuk. Untuk minuman Momo memilih beberapa softdrink bersoda dengan aneka rasa, milkshake, es krim, dan teh kotak.

Nindy menggeleng-gelengkan kepala. Sejujurnya, ia tak tahu bagaimana cara memasukkan semua makanan itu ke dalam perutnya. Bahkan, lemari es di kamarnya pun tidak akan bisa menampung semua, kecuali jika Nindy memasukkan sebagian belanjaannya itu di lemari pendingin milik Mama. Lalu bagaimana ceritanya jika semua makanan itu harus ia pindahkan ke dalam pencernaannya? Nindy menelan ludah tiap kali membayangkannya. Tapi ketika Momo lagi-lagi melirik ke arahnya, Nindy segera berpura-pura menikmati acara belanja cemilan itu.

“Hmm… kamu gak sibuk SMNPTN apa, Mo?” Nindy mengalihkan pikirannya dengan membuka pembicaraan baru.

“Kayak anak-anak lain tuh, semua pada sibuk daftar kuliah.” Nindy menambahkan.

Momo berhenti memilih cemilan. Karena Nindy terlihat mulai keberatan dengan isi troli yang hampir penuh, Momo mengambil alihnya.

“Kamu sendiri?”

“Eh?”

Nindy terheran karena lagi-lagi Momo bukannya menjawab, tapi malah balik mengajukan pertanyaan.

“Kenapa kamu gak ikut-ikutan sibuk kayak mereka?” tanya Momo lagi. Nindy tertunduk. Ia menghela nafas berat.

“Otakku gak sanggup, Mo,” ucapnya lirih.

“Orangtuaku kaya. Sejujurnya aku bisa masuk lewat belakang kalo aku mau. Tapi buat apa? Memaksakan diri itu gak baik kan, Mo? Apalagi dengan cara curang gitu. Cuma bakal nambah-nambahin sampah aja.” Nindy mencoba tersenyum.

Momo menepuk pundaknya. “Bagus. Itu artinya kamu pinter!” Momo tertawa sebentar, kemudian memandang Nindy lagi.

“Tapi bukannya itu berarti kamu nyerah sebelum mencoba?”

Nindy cepat-cepat menggeleng.

“Aku sudah nyoba jauh sebelum temen-temen lain ribut soal kuliah, Mo.” Nindy mendesah.

“Orangtuaku kurang apa coba? Aku diprivatin, dibeliin buku-buku tunjangan, dikursusin, dikasih suplemen otak, dan seabrek usaha lainnya. Tapi hasilnya masih gini-gini aja. Takutnya, kalo aku maksain diri masuk universitas negeri, akunya yang gak sanggup. Dari pada stress terus ujung-ujungnya depresi? Enakan aku kuliah di tempat yang masih bisa dijangkau otakku aja, Mo. Iya kan?” Nindy menutup penjelasannya ketika Momo telah menanggapi dengan anggukan kepala.

“Kalo kamu?” Kali ini Nindy memburu jawaban Momo. Ditungguinya sejenak sampai Momo selesai memilih coklat dan memasukkannya ke dalam troli.

“Aku juga gak mau maksain diri, Nin. Karena kalo aku maksa masuk PTN, artinya aku maksain orangtuaku yang jelas-jelas gak mampu. Kalo aku masih maksa juga, taruhannya pendidikan tiga adikku.” Momo mendesah. Lalu mengarahkan troli ke kasir.

“Jadi soal biaya?”

“Yap.”

Momo mengeluarkan belanjaan mereka satu per satu. Kasir supermarket di hadapan mereka dengan sigap mentotal harga cemilan-cemilan itu.

“Aku mau ambil program keahlian satu tahun. Terus cari kerja, bantu orangtua cari duit sambil nabung dikit-dikit buat kuliah. Gak masalah sih mau PTN atau PTS. Yang penting ilmunya nyampe dan bisa diamalin.”

“Wuih, kamu emang pantes dipanggil suhu. Kata-katanya dalem terus.” Nindy merasa takjub pada sosok Momo yang ternyata memiliki pemikiran yang begitu dewasa. Momo hanya terkekeh mendengarnya.

“Nah, tuh tugasmu. Bayar!” Momo mencibir saat kasir menyebutkan harga yang harus dibayar untuk segunung belanjaan mereka itu. Nindy mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan. Setelah menerima kembalian yang hanya beberapa keping recehan, mereka mendorong troli lagi menuju parkiran.

***

Momo mengintruksikan Nindy untuk menepikan Honda Jazz-nya tepat di depan warung jajanan khas Palembang di 26 ilir. Sejak keluar dari supermarket tadi, Momo memang sudah memberi tahu bahwa tujuan mereka selanjutnya adalah menyantap kudapan sore.

Nindy sebenarnya tidak terlalu ingin makan, tapi setelah melangkah masuk ke warung itu, aroma kuah Model seakan menggelitik hidungnya. Mendadak, ia merasa begitu lapar.

Momo memesan dua mangkuk Model, sepuluh pempek ikan kecil, dan dua pempek kapal selam. Ia juga menambahkan Es Kacang dalam pesanannya itu sebelum akhirnya celingak-celinguk mencari tempat duduk yang nyaman. Pilihan Momo jatuh pada meja tepat menghadap kipas angin. Di atas meja itu ada Srikaya. Kudapan manis berwarna hijau yang terbuat dari tepung, telur, santan, dan gula, ditumpuk di atas ketan putih. Selama menunggu pesanan datang, Momo mengajak Nindy untuk melahap habis dua Srikaya itu.

“Simpelnya gini. Makan besar tiga kali sehari, diselingi cemilan. Boleh yang setengah berat kayak di sini, boleh juga yang ringan kayak belanjaan kita tadi. Tambah porsi makanan dari porsi normal kamu. Jangan minum sebelum makan, boleh makan sebelum tidur. Olahraga teratur dan tidur yang cukup.”

Nindy cepat-cepat mencatat penjelasan Momo di Hp-nya. Kalau hanya diingat-ingat, Nindy tak yakin ingatannya akan bertahan lama.

“Dan satu hal lagi yang penting.”

Momo tampak serius. Ia membiarkan Model, Pempek, dan Es Kacang tersaji semua di atas meja mereka, baru kemudian menatap Nindy lekat-lekat.

“Kamu harus bahagia.”

“Bahagia?”

“Ya.”

Momo berdoa sejenak, lalu menusuk Pempek Adaan dengan garpu di tangannya. Nindy mengikuti, meskipun sebenarnya ia masih menunggu-nunggu lanjutan petuah Momo.

“Usaha apapun yang kamu lakukan, gak bakal terasa hasilnya kalo kamu gak menikmati.”

Momo menghirup cuka, Nindy mengikuti lagi.

“Berbahagialah, Nin. Gak semua orang bisa makan makanan enak begini setiap hari,” ucap Momo sebelum akhirnya tenggelam dalam kenikmatannya sendiri. Dan lagi-lagi Nindy mencoba mengikuti.

***

1 comments on "Bab 3 Novel Nobody's Perfect"

risma aprillia on 6 September 2014 at 08:25 said...

wih ceritanya berbeda dari yang lain,biasanya cewek mau punya tubuh yang ideal gak mau gendut,ini malah pengen gendut,ada-ada aja :)

Post a Comment

 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal