Tuesday, 23 October 2012

Penerbit Stiletto Book

Terbitkan Bukumu Bersama Stiletto Book..!!


Stiletto Book adalah penerbit buku perempuan. 
Sebuah penerbitan yang mendedikasikan diri untuk menerbitkan naskah-naskah fiksi maupun non fiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan; 
  • Fiksi: novel romance, chicklit, teenlit, kumpulan cerpen, dll. 
  • Non fiksi: buku-buku pengembangan diri, how-to, kumpulan tips, dll. Tema bebas: life style, karier, kesehatan, traveling, parenting, relationship, dll.
Semua buku Stiletto Book bisa didapatkan di toko buku Gramedia, Gunung Agung, Togamas, Social Agency, Rumah Buku, dll di semua kota di wilayah Jawa dan kota2 besar di luar Jawa (Wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali).


Gambaran kerja sama.


Stiletto akan memberikan royalti yang besarnya antara 8% - 10% tergantung dari pengalaman penulis. 
  • Penulis yang sudah menerbitkan minimal 3 buku*, berhak atas royalti 10%
  • Penulis yang sudah menerbitkan 2 buku*, berhak atas royalti 9%
  • Penulis pemula (baru menerbitkan 1 buku* atau belum), berhak atas royalti 8%.
Catatan: buku* yang dimaksud di atas adalah BUKU KARYA PENULIS SENDIRI, bukan buku antologi yang ditulis berbarengan dan buku* tersebut diterbitkan oleh penerbit major (bukan penerbit indie).

Silakan kirim naskah terbaikmu dengan ketentuan sbb:


1. Sample Naskah Fiksi, berisi:
  • 30 halaman pertama naskahmu.
  • Sinopsis / Gambaran umum cerita selanjutnya. 
  • Genre bebas: teenlit, chicklit, romance, fiksi ilmiah, dll
2. Sampel Naskah Non-Fiksi, berisi: 
  • 30 halaman pertama
  • Daftar Isi / outline
  • Bertema tentang dunia perempuan
  • Genre bebas: kumpulan tips, how-to, psikologi populer, pengembangan diri, dll


Sertakan juga Biografimu (maks. 2 halaman), yang berisi:
  • Profil Penulis. Paling tidak berisi tentang: biodata umum, karya tulis yang pernah dipublikasikan (jika ada), komunitas/organisasi yang diikuti dan seberapa besar naskahmu potensial untuk dibaca komunitas tersebut (jika ada).
  • Total halaman naskah.
  • Alasan kenapa Stiletto Book harus menerbitkan naskahmu.
  • Jangan lupa, sertakan juga alamat social media yang kamu miliki (facebook, twitter, blog, goodreads, dll)
Ketentuan Penulisan dan Pengiriman Naskah: 
  • Naskah ditulis dalam kertas ukuran A4, Font Times New Roman 12, Spasi 1 ½, Format MS Word atau Adobe Reader
  • Panjang naskah antara 100 - 200 halaman  
  • Kirimkan sample naskah disertai dengan biografi dalam bentuk attachment ke alamat [email] stilettobook@gmail.com. Tuliskan: Judul Naskah dan Namamu pada subjek email.
  • Setiap e-mail yang masuk akan kami respon untuk memberi tahu bahwa naskahmu telah kami terima.
  • Kurang lebih 1 bulan setelah naskah kami terima, kamu akan mendapatkan jawaban apakah naskahmu lolos riviu atau tidak.
  • Diutamakan penulisnya berjenis kelamin perempuan...:) Tapi tidak menutup kemungkinan jika ada penulis laki-laki yang punya naskah berthema "perempuan".
  • Jika Stiletto Book tertarik untuk menerbitkan naskahmu, maka penulis bersedia mengirimkan naskah lengkap dalam bentuk hardcopy ke alamat Redaksi Stiletto Book:
         Jl. Melati No. 171. Sambilegi Baru Kidul
         Maguwoharjo. Depok. Sleman. Yogyakarta
         Telp: (0274) 960 9484


Yuk, tunggu apa lagi? 
Segera kirim naskah terbaikmu ke Stiletto Book, ya.

Be smart and sexy with Stiletto Book



Love,
Editor in Chief Stiletto Book.

Herlina P. Dewi (@HerlinaPDewi)

Saturday, 20 October 2012

[MGY] Cheongdamdong Alice

1st Day Filming

(Moon Geun Young-Park Shi Hoo)


Moon Geun Young akhirnya setuju untuk tampil sebagai pemeran utama dalam Cheongdam-dong Alice. Dalam drama itu, dia dipasangkan dengan Park Shi Hoo.

Cheongdam-dong Alice diadaptasi dari novel berjudul Cheongdam-dong Audrey, yang menampilkan tokoh utama yang sangat positif, Se-kyung, yang merupakan pendatang baru di dunia fashion yaitu Cheongdam-dong, Seoul.

Se-kyung merupakan designer muda berbakat yang memenangkan beberapa kontes dan bekerja di sebuah perusahaan desain baju. Desainer berbakat ini menghadapi kesulitan ketika dia menemukan bahwa ia hanya menjadi sidekick istri bosnya 'yang juga teman sekelas nya di SMA.

Sedangkan Park Shi Hoo sendiri kemungkinan besar akan berperan sebagai presiden direktur sebuah departemen store. Cheongdam-dong Alice sudah mulai digarap dan direncanakan tayang menggantikan Five Fingers Desember nanti.





















Friday, 19 October 2012

Rembulan Singgah Sesaat

ISBN: 978-602-225-526-0
Terbit: Oktober 2012
Halaman : 218, BW : 219, Warna : 0
Harga: Rp. 45.000,00
Deskripsi:
Rembulan Singgah Sesaat, menepis keraguan yang selama ini bergelayut di hati Suhadi. Laki-laki itu dengan setia menanti mantan istrinya yang pergi bekerja menjadi TKW di luar negeri. Setelah menceraikannya, tepat pada hari keberangkatannya, Suhadi berharap bisa kembali rujuk saat Warsih, mantan istrinya pulang dua tahun kemudian.

Setiap malam dipandangnya langit pekat. Berharap rembulan akan singgah di atas Kampung Sukadamai. Singgah di hatinya yang diliputi rasa rindu tiada tara. Ia sangat berharap Warsih akan kembali ke pangkuannya sebagaimana rembulan selalu setia bertengger di cakrawala malam. Sekelam apapun. Tetapi, akankah nasib berpihak kepadanya. Akankah perempuan berwajah rembulan itu kembali singgah di hati Suhadi untuk selamanya? Ataukah Tuhan memiliki rencana lain, yang sama sekali tak pernah diduganya? Sebuah novelet indah karya Kamiluddin Azis, yang akan mempermainkan perasaan Anda saat dan setelah membacanya.

Dalam buku ini juga terdapat serangkaian kisah singkat dan puisi-puisi indah yang disajikan dengan begitu memesona. Kisah penuh makna yang digali dengan sepenuh hati ini dirangkai oleh penulis-penulis yang tergabung dalam grup Pustaka Inspirasi-ku, yakni : Kamiluddin Azis ~ Wirasatriaji ~ Iruka Danishwara W ~ Gagak Sandoro ~ Petra Shandi ~ Poery Permata ~ Roma DP ~ Annisa Ramadona ~ Nimas Kinanthi ~ Vinny Erika Putri ~ Fitria Handayani Meilana Sari ~ Remunggai M ~ Asep Fauzi Sastra ~ Ali Bachtiar ~ Emma Marlinah ~ Harry Gunawan ~ Muhammad Dede Firman ~ Ken A. Rion ~ Fanny YS ~ Prast Respati Zenar ~ Arini Riesha Septiana ~ Eleazar Latif ~ Aliyah Maulidah ~ Atika Nur Sabrina ~ Vysel Arina ~ Elsa Aprilia ~ Junita Susanti ~ Ayesha Syarif ~ Marlyn Christ ~ Rivyana Intan Prabawati ~ Septiani Ananda Putri ~ Aldy Istanzia Wiguna

Penerbit Diva Press Project


“Why Always Me” Mini Project

Why Always Me adalah sebuah judul novel teenlit yang akan kami terbitkan beberapa bulan ke depan. Novel ini belum ditulis dan kami memberikan sebuah penawaran bagi siapa pun yang berminat untuk menjadi penulisnya. Secara garis besar, Why Always Me tentunya menjadi konsumsi kaum remaja masa kini, tapi bukan yang isinya semata-mata tentang percintaan. Harus ada nilai lebihnya di sana, ada nilai tentang pelajaran hidup di dalamnya.
Nah, kami membutuhkan 1 orang yang bersedia untuk diikutkan dalam proyek ini. Dia bersedia untuk menulis novel teenlit tersebut dalam tenggat waktu yang kami tentukan. Dia bebas berkreasi dalam novel tersebut, asalkan tidak melanggar aturan-aturan yang akan kami jelaskan secara personal nantinya. Karya itu akan kami terbitkan dan tentunya dia berhak mendapatkan sebuah kontak kerja sama (MoU) resmi dari DIVA Press.

So, buat kamu yang ingin serius mengerjakan proyek ini, silakan email kami ke: komunitasdivapress@yahoo.co.id. Kami tunggu hingga 2 hari ke depan. Orang yang kami pilih akan langsung kami hubungi via email dan tidak akan kami publikasikan secara terbuka.
Kami nantikan dari sekarang buat kamu yang benar-benar ingin berkarier sebagai penulis novel teenlit DIVA Press :)

Thursday, 18 October 2012

Komik Topeng Kaca

Topeng Kaca (bahasa Jepang: ガラスの仮面 Garasu No Kamen) adalah sebuah manga yang mulai dikarang tahun 1976 oleh Suzue Miuchi. Manga ini diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo.

Sejak SD komik ini langsung "Nyess" di hati. Ceritanya yang seru selalu bikin ketagihan. Barangkali Ida (temen SD si empunya komik) sampai dongkol lantaran komik ini bolak-balik aku pinjam. Maklum, dulu gak boleh beli yang macam-macam jadi cuma bisa minjam.

Setelah tamat SD dan gak dekat lagi sama Ida, aku masih mengulang-ngulang baca Topeng Kaca di Taman Bacaan depan SMP Negeri 9 Palembang. Walaupun sebenarnya koleksi komik itu di sana lumayan gak lengkap. Dasar komik langka sih.

Komik ini memang bisa dibilang tuwir. Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1976, sudah ada 44 volume Topeng Kaca yang dikarang Suzue Miuchi. Tapi sampai sekarang serial ini belum juga berakhir. Karena itu, sempat tersebar rumor di kalangan penggemar bahwa Suzue Miuchi sudah meninggal.

Ketika SMA aku sibuk mencari komik ini di pasar loak, dengan harapan ada yang menjual lungsurannya karena bosan. Tapi sepertinya gak ada yang mau menyingkirkan komik ini dari hidupnya. Sampai sekarang aku baru nemu satu Topeng kaca; Syair Lidah Api yang dijual dengan harga 5 ribu di terminal Perumnas Sako Palembang.

Syukurnya, kini Elex Media mencetak ulang komik itu dengan edisi Deluxe. Setiap bulan Topeng Kaca menjadi menu wajib yang harus kubeli ketika mampir di Toko Buku. Walaupun sempat tertinggal, aku tetap semangat mengejar sampai Suzue Miuchi menamatkan serial ini.

Terdengar kabar, tahun 2008 lalu Miuchi meluncurkan kembali strip Topeng Kaca volume 43 di majalah Bessatsu Hana to Yume, suplemen bagi majalah dua bulanan Hana to Yume, sedangkan volume 44 diluncurkan pada bulan Agustus 2009. Miuchi juga telah mengumumkan bahwa ia bermaksud untuk menamatkan serial ini tidak lama lagi. Semoga saja.

Sinopsis:
Manga ini bercerita tentang perjuangan seorang gadis bernama Maya Kitajima dalam meraih impiannya untuk menjadi seorang aktris di panggung teater. Dalam perjalanannya meraih impian, Maya mendapatkan saingan dari seorang aktris yang sebaya dengannya, Ayumi Himekawa, putri dari aktris terkenal dan ayah seorang sutradara dunia.

Sejak awal Maya naik ke atas panggung telah ada seorang penggemar setia yang selalu menyemangatinya di balik mawar jingga. Dan suatu saat akan diketahuinya bahwa penggemarnya selama ini adalah Direktur muda Daito (nama sebuah perusahaan besar), Masumi Hayami, yang selama ini dianggapnya paling kejam dan dingin dalam memperlakukan semua artis.

Persaingan Maya dan Ayumi mencapai puncaknya ketika memperebutkan hak pementasan Bidadari Merah (karya agung dalam dunia teater) dari aktris zaman dulu Mayuko Chigusa. Topeng Kaca juga menceritakan kisah cinta segitiga antara Maya, Masumi, dan Koji, lelaki yang pernah dekat dengan Maya dan masih mencintai Maya.

Komik Topeng Kaca Seri 01
Komik Topeng Kaca Seri 02
Komik Topeng Kaca Seri 03
Komik Topeng Kaca Seri 04
Komik Topeng Kaca Seri 05
Komik Topeng Kaca Seri 06
Komik Topeng Kaca Seri 07
Komik Topeng Kaca Seri 08
Komik Topeng Kaca Seri 09

Komik Topeng Kaca ini selanjutnya disusun dalam cerita sendiri seperti :
Syair Lidah Api
Sejuta Pelangi
Bayang-bayang Jingga
Bidadari Merah

Topeng Kaca

Maya Kitajima-Topeng Kaca

Topeng Kaca Deluxe


Sepanjang Masa




Sepanjang Masa
(Kumpulan Kisah dan Puisi Tentang Orangtua)

Penulis: Nyi Penengah Dewanti, Chinglai Li, Nenny Makmun, dkk.
Desain Sampul: Akbar Bisul
Pemerhati Aksara: Tha Artha
ISBN: 978-602-18312-3-6
Penerbit: 27 Aksara
Harga: Rp.44.000 (Belum termasuk Ongkir)

Jika ada orang yang mencintai kita tanpa pamrih, mereka adalah orang tua. Ibu tak pernah mengharap imbalan setelah sembilan bulan kita di kandungan kemudian tumbuh dan dibesarkan. Ayah tak pernah meminta dibayar atas jerih payah serta perjuangannya mencari nafkah. Jika ada cinta yang tak henti mengalir sepanjang masa, itu adalah cinta mereka, orang tua kita.

Maka kini dengan cinta pula kita mengabadikan mereka, dua orang yang darahnya mengaliri darah kita. Dengan cinta kita mencoba merekam jejak mereka, jejak cinta sepanjang masa.

Buku ini sudah bisa dipesan di 27 Aksara atau sms ke 0812 73 207 828 dengan FORMAT: SM_Jumlah Buku/Paket_Nama_ Alamat Lengkap_No.HP

Khusus Sampai 29 Oktober 2012:

Harga Pre-Order: Rp.40.000,- (Belum Ongkir)
Kontributor: Rp.35.200,- (Belum Ongkir)
Paket1: Sepanjang Masa + MONI = Rp. 60.000,- (Belum Ongkir)
Paket2: Sepanjang Masa + Pejuang Hati = Rp.75.000,- (Belum Ongkir)
Paket3: Sepanjang Masa + MONI + Pejuang Hati = Rp. 100.000,- (Bebas Ongkir Indonesia)

Ongkir:
Sumsel: Rp. 15.000,-
Luar Sumsel: Rp. 20.000,-

Pemesanan dan Transfer setelah tanggal 29 Oktober 2012 dikenakan harga normal.

Lagu-Lagu Sherina Munaf

Yuuuhuuu...
Sheraiser, tentunya masih sering dengerin lagu-lagunya Sherina, kan? Lagu apa yang kalian suka? Kalau akuuu... buanyaaak :D

Ini beberapa lirik lagu Sherina yang paling sering kuputer, check this yo!

Andai Aku Besar Nanti

Andai aku tlah dewasa
Apa yang kan ku katakan
Untukmu idolaku tersayang, Ayah...ooh...

Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu, Bunda...pelitaku
Penerang jiwaku dalam setiap waktu

*O...ku tahu kau berharap dalam doamu
Ku tahu kau berjaga dalam langkahku
Ku tahu slalu cinta dalam senyummu

O...Tuhan Kau kupinta
Bahagiakan mereka sepertiku

Andai aku tlah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu...setulus kasih sayangmu
Kau slalu kucinta....


Sherina - Andai Aku Besar Nanti
 





 
Kembali Ke Sekolah

Senang, riang, hari yang kunantikan
Kusambut, ‘Hai’ pagi yang cerah
Mataharipun bersinar terang
Menemaniku pergi sekolah
Senang, riang, hari yang kuimpikan
Jumpa lagi kawanku semua
S’lamat pagi, guruku tersayang
Ku siap mengejar cita – cita
Dengarlah lonceng berbunyi
Kawan segeralah berlari
Siapkanlah dirimu
Dalam mencari ilmu
Waktu cepat berganti
Hingga lonceng terdengar lagi
Semua pun bersorak dengan riang
Senang, riang, masa depan ‘kan datang
Capai ilmu setinggi awan
Hingga nanti aku t’lah dewasa
Dunia kan tersenyum bahagia

Download via 4shared

Pelangiku
Titik – titik hujan, masih membasahi
Kala kau menyapa, pelangiku
Ingin kuberlari, jumpa bidadari
Bawalah aku pergi, bersamamu
Bisikkan kisah yang lucu
Nyanyikanlah lagu merdumu
Merah, kuning, jingga dan ungu
Sentuhkan warnamu dalam gaunku
Ingin ku menari
Hingga kau sembunyi
Rindu pelangiku, datang lagi 

Download via 4shared


Lihatlah Lebih Dekat

Hatiku sedih
Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Hatiku bertanya
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Tempat yang nyaman
Kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap
Pergilah sedih
Pergilah resah
Jauhkanlah aku dari
Salah prasangka
Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kuakan mengerti 

Download via 4shared

Bintang
Bintang-bintang di langit
Menyimpan sejuta misteri
Berkedip-kedip bermain mata
Seolah mengajak kita berkenalan lebih dekat
Bintang-bintang di langit
Memiliki sejuta rahasia
Membentuk gugusan indah
Menerangi langkahku disetiap malam terang
Bintang-bintang di langit
Namamu indah
Canopus……Capela……Vega……
Pancarkanlah sinarmu
Terangilah jalanku…. 

Download via 4shared


Persahabatan
Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui
Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa satria
Yang mau memaafkan
Betapa bahagianya
Punya banyak teman
Betapa senangnya
Betapa bahagianya
Dapat saling menyayangi
Mensyukuri karunia-Nya 

Download via 4shared



Indonesia Menangis

Tuhan marahkah kau padaku
Inikah akhir duniaku
Kau hempaskan jarimu di ujung banda
Tercenganglah seluruh dunia
Tuhan mungkin Kau abaikan
Tak ku dengarkan peringatan
Kusakiti engkau sampai perut bumi
Maafkan kami ya robbi
Engkau yang perkasa pemilik semesta
Biarkanlah kami songsong matahari
Engkau yang pengasih ampunilah dosa
Memang semua ini kesalahan kami
Oh… Tuhan ampuni kami
Ou..oh… Tuhan tolonglah kami
Tuhan ampuni kami
Tuhan tolonglah kami 

Download via 4shared


Better Than Love

eemed impossible, seemed absurd
I didn’t even know you before
Kept my distance, closing in
I don’t mind caressing your skin
Bridge:
What did you say, what did you do?
Somehow, I feel I’m enchanted by you
Flying high on a mountain high
Suddenly you look as bright as the sky
Reff A:
Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
Have I forgotten, or have I never
Felt like this, as light as a feather
Not interested in love,
but I’m attracted to you
I hope that you feel the same way too
A little too fast but way too long
Though I’m not sure where I belong
Back to Bridge,
Reff B:
Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
Love’s too strong and a bit cliché
For now this is enough, I’ve got a long way
Something old, something new
Something I didn’t thought could be true
I’m afraid to ask but I need to know
Would you want me to stay?
Or would you want me to go?
Backing Vocals:
“These are my fee——lings…
(These are my…
I hope you’ll understand… (understand…)
feelings…)
It might not be much,
but it’s more than I can spend….”
Back to Bridge,
Back to Reff A. 

download via 4shared - rapidshare


Here To Stay

stop shouting and don’t get mad
calm down but don’t ever fade
don’t you cry don’t lose faith
you’ve got me so stay calm
what is wrong its alright
everything will work out fine
see the sun coming out
take a ride burn your hate
reff:
don’t give up cause i am here to stay
stay alive we will survive
don’t hide because i am here to stay
stay alive we will survive
back to reff
look at my face one more time
look at your face one more time
tell me that you care
eventhough this is not the last time
back to reff
survive….
back to reff

Download via 4shared - rapidshare


Bukan Kenangan

Slama ini aku mencari
Slama ini aku menunggu
Datangnya kebahagiaan
Dan indahnya ketenangan
Kawan datang dan berlalu
Lawan datang dan berlalu
Aku diam disini
Ditinggalkan kenangan
*
Senang tawa puas dan cinta
Merah biru hitam dan putih
Senang tawa puas dan cinta
Merah biru hitam dan putih
Ref:
Lamanya matahari terbit bukan kenangan
Lembutnya pasir putih juga bukan kenangan
Hangatnya kasih sahabat bukan kenangan
Airmata kebahagiaan bukan kenangan
Slama ini aku mencari
Slama ini aku menunggu
Datangnya hal hal yang baru
Dan rajutan mimpi baru
Gembira datang dan berlalu
Sedih datang dan berlalu
Aku diam disini
Ditinggalkan kenangan
Back to *
Back to ref
Bukan kenangan…
Langit ditambah bintang
Rumah desiran angin
Senyuman disaat gundah
Berangan menolong dunia
Dunia….
Back to ref
Bukan bukan kenangan
Ku tak lagi hidup dalam kenangan
Bukan bukan kenangan
Ku tak lagi hidup dalam kenangan
Slama ini aku mencari
Slama ini aku menunggu
Bukan bukan kenangan
Ku tak lagi hidup dalam kenangan
Bukan bukan kenangan
Ku tak lagi hidup dalam kenangan

Download via 4shared - rapidshare



Pelangi di Tengah Bintang

Ku ingat kau dan senyummu,
tatapan dalam matamu,
ketika kau mengucapkan,
yang tak pernah kuharapkan.
Reff :
Walau ku tak rela menghadapi hari – hari,
yang terlewatkan tanpa kamu di sampingku.
Ada satu yang bisa menghiburku,
ku ‘kan terus menunggumu.
Kuingat kau mengatakan,
kau ‘kan kembali untukku,
di saat pelangi terlukis,
di tengah taburan bintang.

Download via 4shared - rapidshare



Jalan Cinta

Semua resah hati manusiamu
Untuk membagi kisah atas nama cinta
Derai air mata di setiap sujudmu
S’perti tak pernah cukup untuk menjagaku
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu,
cinta yang semu
Kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku
Di sela doa dalam malam-malam yang sunyi
Ampun yang engkau pinta dalam semua keraguan
yang telah meliputi jiwamu
Semoga akan membawa cintamu
Pada diriku dalam jalan dan ridho-Nya
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu,
oh cinta yang semu
Kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku
Di tengah terik matahari dan dinginnya malam
Kau panjatkan ayat-ayat cinta pada-Nya
Melindungi dan menjaga kisah cinta kita 

Download via 4shared - ziddu - rapidshare


Semoga Kau Datang

Tertelan dalam masa laluku
Yang berusaha ‘tuk kulupakan
Ingin ku lari dari kesedihan
Yang bersemayam di lubuk hatiku
Reff:
Semoga kau datang membimbingku menuju bahagia
Semoga kau datang meringankan luka di hatiku
Dan meminjamkan bahumu
Dan menyeka air mataku
Dan menggenggam kedua tanganku
Nanana nanana nanana
Tangan dan hati perlahan beku
Karena ingatan ini terus menghantuiku
Back to Reff
Dan meminjamkan bahumu
Dan menyeka air mataku
Dan menggenggam kedua tanganku
Nanana nanana nanana
Tertelan dalam masa laluku
Yang takkan pernah sirna
Hingga kau tiba…
Dan meminjamkan bahumu
Dan menyeka air mataku
Dan menggenggam kedua tanganku
Nanana nanana nanana
Dan meminjamkan bahumu
Dan menyeka air mataku
Dan menggenggam kedua tanganku
Nanana nanana nanana
Dan meminjamkan bahumu
Dan menyeka air mataku
Dan menggenggam kedua tanganku
Nanana nanana nanana

Download via 4shared - ziddu - rapidshare


Sing Your Mind

many times you don’t realize the spirit within you
can spread like fire to everyone around you
don’t you wait for a second chance you gotta use the time
to see countless faces that can use a little smile
unlock your power reveal what you can really do
no more running away, today go fight your way
and sing your mind out ooh sing without doubt ooh
let me hear your voice, i wanna hear what you say
sing your mind out wooo
it is time that you realize the strenght you’ve had all along
like the star shining in the sky glowing for everyone around you
don’t you wait, don’t you hesitate, you gotta use the time
to see countless faces that can use a little smile
shine your light even just for awhile
unlock your power reveal what you can really do
no more running away and today go fight your way
and sing your mind out ooh sing without doubt ooh
let me hear your voice, i wanna hear what you say
sing your mind out wooo
like the star shining in the sky
no more running away, today go fight your way
sing your mind out ooh sing without doubt ooh
let me hear your voice, i wanna hear what you say
sing your mind out wooo

Download via 4shared




Simponi Hitam

Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan cita bersama
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
Reff:
T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Bila saja kau di sisiku
‘Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
Back to Reff
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….
Back to Reff
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu

Download
Download mp3 lagu Sherina Simponi Hitam (Band Version)
Download
Download mp3 lagu Sherina Simponi Hitam (Versi Orkestra)


Cinta Pertama dan Terakhir

Sebelumnya tak ada yang mampu
mengajakku untuk bertahan
di kala sedih
sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian
reff:
kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini
aku tak mengerti
akankah sama jadinya
bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku
sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan
yang kelam ini
sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku saat ada yang mengerti
sekarang kau di sini hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian
repeat reff
bila suatu saat kau harus pergi
jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik
karena senyummu menyadarkanku
kaulah cinta pertama dan terakhirku
repeat reff

Download via 4shared - ziddu - rapidshare


Oke, sekian dulu. Yang lainnya search di google aja ya... ^^

Tuesday, 16 October 2012

Sepenggal AKKC



Bermalam di Rumah Nyek
Oleh: Annisa Ramadona

            Aku tak pernah diizinkan pergi jauh tanpa keluarga. Tak pernah bisa mendaki gunung seperti teman Pecinta Alam-ku semasa SMA. Tak bisa naik pangkat menjadi Senior Madya, juga lantaran tidak diizinkan ikut rombongan POLTABES melatih anggota Patroli Keamanan Sekolah (PKS), sebagai syarat mutlaknya. Aku dianggap anak kecil yang tidak boleh jauh dari orang tua.
            Sampai kemudian aku menginjak bangku kuliah. Kelonggaran demi kelonggaran mulai diberikan. Entah karena kepercayaan yang terus kujaga, atau memang sudah waktunya, orang tuaku dengan enteng memberi restu ketika KOMASIP mengadakan program ke luar daerah.
            Februari 2010, tepatnya tanggal dua puluh enam aku bersama rombongan bergerak menuju Desa Penanggoan Duren, Tulung Selapan. Aku adalah satu dari sekian banyak anggota muda yang akan dikukuhkan di sana.
            Perasaan asing menyergapku ketika pertama kali menginjakkan kaki di Desa itu. Kerumunan wanita, baik ibu-ibu maupun remaja duduk menghadap sebuah permainan, Bingo. Entah bagaimana memainkannya, tapi suara mereka meneriakkan angka-angka dalam bahasa daerah yang tidak kumengerti. Teriakkan itulah yang menyambut kedatangan kami.
            Sebuah rumah telah dipersiapkan untuk kami huni. Rumah itu adalah kediaman salah seorang senior KOMASIP yang merupakan putra daerah asli Desa itu. Keluarganya menghidangkan masakan khas untuk kami santap seusai beristirahat sekitar setengah jam. Kami dijamu layaknya tamu kehormatan.
            Namun kenyamanan itu tidak berlangsung lama, mengingat tujuan kedatangan kami yang sebenarnya. Pengukuhan, tidak mungkin ada cerita bermanja-manja, tak ada yang boleh jadi anak mama. Ini Desa, tempat untuk bersimulasi menjadi dewasa.
            Setelah salat isya berjamaah, aku dan anggota muda lainnya diharuskan untuk bersosialisasi dengan masyarakat di sana. Tidak ada satu anggota pun yang boleh bersama-sama. Setiap orang harus mendapatkan nilai-nilai sendiri, pengalaman baru yang tidak mungkin sama satu dengan lainnya.
            Pasangan suami istri enam puluh tahunan menyambut dengan ramah ketika aku menginjakkan kaki di rumahnya. Mereka sedang menunggu keponakannya pulang. Aku sempat canggung, tak tahu harus mulai bercerita dari mana untuk mencairkan suasana.
Karena dibesarkan oleh keluarga kecil, aku jadi sedikit susah bergaul. Apalagi di tempat asing seperti itu. Untunglah, mereka memahami kesulitanku. Mereka memulai percakapan dengan menanyaiku ini itu. Aku pun merasa nyaman untuk mengikuti alur cerita yang mereka buka.
Menjelang pukul sebelas malam, keponakan mereka pulang. Aku sempat heran, seorang gadis seharusnya tidak pulang begitu malam. Tapi tanpa ditanya, Lita, nama keponakan mereka, menjelaskan bahwa di Los Pasar besok ada pesta. Sudah menjadi tradisi jika muda mudi berkumpul di sana untuk membantu dekorasi.
Nenek dan Kakek pamit beristirahat, kini Lita mengajakku ke kamarnya. Kucoba mengakrabkan diri dengan gadis enam belas tahunan itu. Lita juga menempatkan diri sebagai lawan bicara yang enak diajak bercerita. Aku dan Lita langsung akrab malam itu juga.
Sampai jarum jam menunjukkan pukul satu, kami masih saja asyik bercengkrama. Ia menceritakan banyak hal padaku. Mulai dari kesehariannya, sampai tradisi dan sejarah di Desa itu.
“Kalau kakek, panggilannya Iyek. Nah, kalau nenek, dipanggil Nyek,” Lita menjelaskan.
“Jadi kakek dan nenek tadi seharusnya aku panggil Iyek dan Nyek?” tanyaku, Lita malah tertawa. Ia menimpali aksenku yang terdengar aneh ketika menyebut dua panggilan itu. Aku terus belajar, sampai terdengar sedikit lebih mirip dengan yang ia ucapkan.
Iyek dan Nyek punya sembilan anak, semuanya sudah berkeluarga. Agar tidak kesepian, sesekali aku menginap di sini,” Lita meneruskan cerita. Aku merasa nyaman dengannya, mungkin karena ia masih muda.
“Kalau di sini, anak gadis harus bisa masak. Ayuk bisa masak?” Aku menggeleng. Lita tersenyum tipis.
“Kalau gitu, besok Lita ajarin ayuk masak, ya,” pintaku.
“Insyaallah, tergantung jadwal,” candanya. Aku memasang muka memelas.
Aku memang tidak ahli untuk urusan dapur. Sejak sekolah, jadwalku selalu padat. Les tambahan, ekstrakulikuler, dan aktivitas lainnya membuatku jarang berada di dapur selain untuk makan dan mencuci piring. Apalagi setelah bekerja dan kuliah, aku tak pernah lama menghabiskan waktu di dapaur, kecuali saat libur.
“Iya deh, kalau besok pagi Lita belum disuruh pulang, nanti Lita ajarin,” janji Lita akhirnya. Aku tersenyum lega.
Lita fasih berbahasa Palembang, itu juga yang menjadi salah satu faktor mengapa kami bisa terus bercerita meski jarum jam kini menunjukkan pukul dua kurang. Dari ceritanya, aku tahu bahwa gadis itu tadinya sekolah di kota. Tapi karena susah beradaptasi dengan pergaulan dan pelajaran yang lebih ekstrim, ia memutuskan untuk kembali ke desa.
“Belum tidok, Dok?” suara Iyek di pintu kamar menghentikan cerita kami malam itu. Aku dan Lita terkekeh menyadari bahwa kami telah bercerita begitu lama. Aku menarik selimut, memutuskan untuk tidur secepatnya.
            Menyadari waktu subuh tiba, aku buru-buru bangun dari tidurku yang hanya tiga jam itu. Aku ingat pesan mama bahwa di rumah orang, aku tidak boleh bangun kesiangan, tidak boleh merepotkan tuan rumah, juga tidak boleh bermalas-malasan.
            Samar-samar kudengar lantunan zikir Iyek di ruang keluarga, tak lama kemudian Nyek membuka pintu kamar Lita. Melihatku yang tengah membereskan tempat tidur, Nyek langsung tersenyum sambil menyerahkan alat salat. Ia membimbingku menuju kamar mandi.
            Setelah menunaikan kewajiban, aku kembali ke kamar, Lita sudah berpakaian rapi sekali. Ia melihatku, kemudian mendesah perlahan.
            “Maaf, yuk. Barusan Lita disuruh pulang,” ia terlihat kurang enak hati, mungkin karena janjinya semalam tak bisa ia tepati. Aku memasang senyum lebar. Tak ingin membuatnya merasa bersalah.
            “Gak apa, Ta. Ayuk minta ajarin Nyek aja,” aku berkilah. Lita mengangguk, kemudian pamit pergi.
            Nyek mengajakku ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia menyeduh the untukku dan Iyek, lalu menyerahkan dua bungkus mie instan untuk kumasak. Aku mendesah lega. Kalau mie instan aku sudah pasti bisa.
            Setelah menghabiskan sarapan sambil berbincang-bincang dengan Nyek dan Iyek, aku mencuci semua piring kotornya. Kalau cuci mencuci, aku memang ahli. Namun sebelum piring selesai kucuci, Nyek membawakan ikan sepat untuk kusiangi. Aku kebingungan, tapi tak berani berkata tidak. Aku malu jika Nyek tahu bahwa dengan usia yang tak lagi anak-anak, memasak pun aku tak bisa.
            Asal-asalan kubersihkan ikan, yang penting sirip, sisik dan isi perut telah kusingkirkan. Kucuci beberapa kali, kemudian kuserahkan pada Nyek yang tengah menyiapkan bumbu gorengnya.
            Nyek menerima ikan itu dengan hangat, entah benar atau salah, Nyek tak mengeluarkan komentar. Ia menyerahkan ikan setelah dibumbui lagi. Dihidupkannya kompor dengan api sedang, setelah minyak panas, ia mempersilakanku menyelupkan ikan ke dalamnya.
            Aku takut sekali ketika minyak panas mengeluarkan gemericik dan letupan-letupan kecil. Tapi aku malu kalau Nyek tahu bahwa menggoreng ikan juga bukan keahlianku. Aku bahkan tak tahu kapan harus membalik, dan kapan harus menganggkat ikan kalau sudah matang.
            Sekali lagi aku asal-asalan. Nyek sepertinya bukan tipe orang yang cerewet. Ia tetap saja menerima sambil tersenyum ikhlas ketika aku menyerahkan hasil gorengan yang sudah tidak jelas bentuknya. Nyek meletakkan ikan goreng itu di bawah tudung saji, kemudian mengajakku istirahat sejenak.
            Aku memutuskan untuk membereskan sisa bumbu yang berantakan, menyapu dapur dan seluruh ruangan. Aku ingin meninggalkan kesan manis, ingin berhasil melakukan satu saja pekerjaan yang sebenarnya lumrah dilakukan perempuan.
            Nyek menunjukkan letak sapu biasa diletakkan. Sapu ijuk tergantung di dinding, berjajar rapi dengan sapu lidi dan rekan-rekan. Segera kuambil sapu ijuk bergagang kuyu itu, kemudian mulai menyapu.
            Semua sudut, mulai dari teras sampai dapur kujelajahi dengan penuh semangat. Namun tiba-tiba, aku merasa ada yang salah. Sapu yang kupegang mendadak patah. Aku kebingungan, salah tingkah. Ragu-ragu kuhampiri Nyek yang sedang mengisi air di kamar mandi.
            Nyek, maaf… Sapunya patah,” kataku takut-takut. Nyek memperhatikan  patahan sapu yang kupegang, ia kemudian tersenyum lagi.
            “Dak ape, istirahatlah, Dok,” ucapnya kemudian, masih dengan senyum hangatnya.
            Aku benar-benar malu. Mengapa tak ada satu pun pekerjaan yang hasilnya memuaskan? Aku malu, meskipun Nyek tak pernah mempermasalahkan.
            Menjelang tengah hari, aku pamit pulang ke rumah senior tempat barang-barangku diletakkan. Sebelumnya aku berterima kasih karena Iyek dan Nyek telah menerimaku bermalam. Aku juga minta maaf atas kecerobohanku mematahkan sapu. Iyek dan Nyek melepasku haru. Mereka berpesan untuk datang lagi lain waktu.
            “Insyaallah, Nyek, Iyek….”
***
            Satu tahun berlalu, aku mendapat kesempatan untuk kembali ke Desa itu. Kudatangi Iyek dan Nyek di rumahnya yang masih sama seperti dulu. Iyek ada di ruang tamu, setelah kusalami, ia membawaku ke dapur. Nyek sedang mengolah bumbu di sana.
            Saat melihatku, Nyek langsung bergerak mendekat. Aku pun tak sabar untuk segera menyalami tangannya yang hangat. Aku bergerak maju, tanpa memperhatikan barang-barang yang berserakan di lantai. Sekali lagi, aku kembali merepotkan. Keranjang bumbu Nyek terinjak kakiku, tumpah ruah bersama gelak tawa yang memenuhi udara dapur sederhananya. *

*Sepenggal Kisah dari buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka



Sepenggal AKKC



Ulang Tahun Ketua
Oleh: Annisa Ramadona

            Pagi-pagi sekali, sms masuk. Bang Inuh mengingatkan bahwa hari itu Ketua KOMASIP berulang tahun. Ia tengah merencanakan kejutan kecil untuk merayakannya sebelum jadwal bedah film bersama crew TRVI dan Sriwijaya TV dimulai. Masih ada dua belas jam lagi untuk persiapan. Bang Inuh sibuk mengatur rencana dan meng-sms semua anggota.
            “Oke, aku gerakkan semua anggota untuk datang, wajib. Apalagi mengingat jadwal bedah film yang telah direncanakan sejak dua minggu lalu, kurasa rekan-rekan akan datang,” katanya meyakinkanku.
            “Yang jadi masalah sekarang, siapa donatur kue ulang tahunnya? Uang kas pasti digunakan untuk keperluan menyambut tamu TV. Terpaksa kita keluarkan duit sendiri,” sambungnya lagi. Aku mulai mengerti arah pembicaraannya.
            “Duit abang belum cair, Nis. Kalau minta sumbangan sama anggota lain, takutnya barengan datang sama Ketua, tahu sendirilah, jam karet. Nah, gimana kalau pakai uang Anis dulu?”
            Aku tersenyum, kalimat terakhir itu memang telah kuprediksi. Kuingat-ingat lagi sisa uang di kantong celana. Tidak mungkin mencukupi.
            “Oke ya, Nis? Beli kuenya yang besar biar bisa dimakan rame-rame, terus jangan beli di emperan, biasanya kurang enak,” bang Inuh mendesak lagi. Aku tak bisa berkata tidak.
            “Okelah, bang,” sahutku sekenanya.
            Setelah mengakhiri sms pagi itu, aku memutar otak. Kemana harus mencari uang sepagi ini? Honor sebagai fasilitator sebuah provider outbound baru saja kulahap, hanya tersisa untuk jajan sehari ke depan. Tidak mungkin mencukupi jika harus membeli kue ulang tahun besar yang bukan di toko sembarangan.
            Setengah jam mencari ide, akhirnya kuputuskan untuk merayu mama. Aku ingat cerita tentang bonus yang baru saja diterimanya dari dealer motor kemarin sore.
            “Sebagai gantinya, kamu yang beres-beres. Cuma bersihin rumah sama cuci mencuci saja kok, Nis,” mama tersenyum penuh arti. Aku menggangguk setuju.
            Sampai setengah sepuluh pagi, urusan bersih-bersih rumah akhirnya kutuntaskan. Mama memberikan sebagian bonusnya sebagai imbalan. Tanpa membuang-buang waktu, aku pamit ke kampus yang jarak tempuhnya sekitar satu jam jika naik angkot.
            “Bang, ke kampus jam berapa?” aku melayangkan sms pada Ketua, menyelidik gerak-geriknya.
            “Sekitar setengah lima, masih banyak urusan kerja, Nis. Kamu?” Ketua balik bertanya, aku tidak menjawab dengan pasti. Kukatakan saja bahwa aku akan ke kampus jika urusan rumah sudah selesai.
            Aku kemudian mengatur strategi bersama Bang Inuh, Uni, dan Reky di sekretariat KOMASIP. Anggota lain biasanya baru muncul selepas ashar, menjelang waktu perkuliahan kelas reguler akan dimulai.
            “Kita ke PTC, Nis. Di sana ‘kan banyak toko kue bermerk. Kualitas rasanya pasti maknyus,” Uni mengusulkan.
            “Mumpung baru jam satu, kita pergi berempat aja,” Reky menambahi. Aku dan bang Inuh mengangguk sepakat.
            Entah mengapa hari itu kue ulang tahun seolah susuah didapatkan. Setiap toko di area PTC kami mampiri, rata-rata kehabisan stok, kalaupun ada, ukuran kuenya terlalu kecil atau terlalu besar. Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar. Aku dan Uni tetap di dalam, sedangkan Bang Inuh dan Reky ke arah luar.
            “Itu, Nis!” Uni menunjuk ke sebuah atalase di dalam toko kue ternama, setidaknya ada lebih dari tiga cabang toko kue itu di kota Palembang. Aku juga sering menikmatinya kalau sepulang kerja papa sedang berbaik hati membawakan aneka roti merk toko itu. Jadi, aku percaya penampilan dan rasanya pasti istimewa.
            “Pas nih, semua pasti kebagian,” Uni meyakinkan. Setelah menghubungi Bang Inuh ke lokasi untuk minta persetujuan, kue itu akhirnya kami boyong ke kampus.
            Setengah empat sore sebagian anggota sudah berkumpul di sekret. Ada yang sibuk mempersiapkan program bedah film, adapula yang sibuk merancang surprise untuk ketua.
            “Gak seru kalau gak dijahilin, Nis,” Bang Inuh nyeletuk.
            “Iya,kapan lagi kita bisa jahilin ketua kalau gak lagi ulang tahunnya?” Uni menambahi. Aku mengangguk-angguk perlahan.
            Jarum jam telah menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit ketika tergopoh-gopoh Ketua datang sambil menjinjing sebuah cermin besar. Kak Hari dan aku yang sejak tadi sudah mengatur skenario, langsung memasang tampang garang.
            “Jam berapa sekarang, Bung?” nada sinis itu keluar dari bibir Kak Hari sebagai ucapan penyambutan atas kedatangan Ketua yang lumayan terlambat.
            Kak Hari adalah salah satu dari crew TV yang datang karena undangan untuk bedah film. Ia juga merupakan simpatisan pembimbing sekaligus tempat konsultasi Ketua soal urusan film. Sudah pasti, Kak Hari merupakan sosok yang ia segani.
Mengingat Kak Hari nyaris tidak pernah marah-marah seperti ini, Ketua langsung salah tingkah. Buru-buru ia meletakkan cermin yang dengan susah payah ia gotong menuju sekretariat KOMASIP yang letaknya di lantai dua.
“Kalau begini caranya, kita perlu rapat sebentar, sebelum kru lain keburu datang,” Kak Hari memerintahkan semua anggota untuk duduk merapat. Ketua yang belum sempat melepaskan jaket dan tas, terdesak mengikuti intruksi Kak Hari.
“Aku kecewa. Sebagai Ketua, seharusnya kamu komiten dengan waktu. Kamu tahu, berapa lama kamu telat?” Kak Hari menatap tajam pada Ketua yang keringatnya mengucur deras sejak ia datang. Belum sempat Ketua menjawab, Kak Hari telah melontarkan pertanyaan sengit lagi.
“Kamu tahu berapa lama kami menunggu?” nada Kak hari makin meninggi. Ketua baru mau menjawab ketika Kak Hari telah lebih dulu buka suara.
“Kalau gak bisa komitmen, gak usah jadi Ketua!” ucapan Kak Hari yang terakhir membuat Ketua terpancing.
“Sejak awal dipilih sebagai Ketua, sudah kukatakan bahwa aku bekerja. Aku gak mungkin bisa full time bersama rekan-rekan sekalian, tapi aku akan berusaha. Dan hari ini pun, aku sedang berusaha meluangkan waktuku, meskipun sedikit terlambat,” Ketua seakan minta pembelaan. Ia menatap satu per satu anggota, tapi tak satu pun yang membuka suara.
“Kalau rekan-rekan memang sudah tidak bisa menolerir waktuku, aku siap mundur dari jabatan ini,” ucap Ketua akhirnya.
            Bang Inuh memberi kode padaku, ketika Kak Hari mengajukan pertanyaan kepada anggota tentang persetujuan kemunduruan Ketua. Aku tidak fokus lagi dalam ruang yang mulai memanas itu. Ada yang pura-pura membela Ketua, ada pula yang pura-pura menyerangnya. Semua terdengar samar dari balik pintu.
             Bang Inuh meletakkan kue ulang tahun di tanganku, kemudian menyalakan lilin berukir dua puluh dua, usia yang kini diinjak Ketua. Pelan-pelan ia membukakan pintu untukku. Komo bersiap dengan gitarnya.
            “Selamat ulang tahun kami ucapkan...,” lagu itu sontak memenuhi udara. Ketua tampak ternganga.
            “Ampun, aku dikerjain, ya?” Ketua menepuk dahinya. Ia tak bisa lagi berkata-kata ketika semua anggota menyanyikan ‘Selamat Ulang Tahun’ dengan iringan gitar seadanya. Saat lagu hampir berakhir, aku mendekatkan kue ke hadapan Ketua.
            “Tak ada kata lain, kecuali syukur kepada Sang Pencipta. Dengan bertambahnya usia ini, semoga lebih baik lagi dari sebelumnya,” Ketua menggumamkan doa sesaat sebelum meniup lilinnya yang kedua puluh dua.
            Ketua kemudian mulai mengiris kue. Seisi sekret menunggui kue menggiurkan itu. Potongan pertama ia berikan pada Kak Hari, kemudian Bang Inuh dan dan Bang Rizal. Setelah itu baru giliranku dan anggota lainnya.
            Setelah semua kebagian, entah siapa yang memulai, perang kue pun terjadi. Semua memburu ketua dengan kue yang siap menghantam wajahnya. Komo mengoles wajah Ketua dengan paksa, Reky melumuri krim coklat, Bang Inuh dan Bang Rizal kompak melempari tubuh Ketua dengan sisa-sisa kue yang dipegangnya.
            Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika sasaran mulai melebar, kini bukan lagi Ketua, semua anggota yang ‘masih bersih’ harus siap-siap diburu untuk kemudian menerima polesan coklat tanpa bisa mengiba. Balas-membalas, kue ulang tahun itu kini menjadi senjata untuk berbahagia.
            “Buat apa beli kue enak kalau ujung-ujungnya dipake perang-perangan?!” aku histeris, menyadari kue dari toko ternama itu harus berakhir tragis.
            “Lain kali kalau Ketua ulang tahun, kita beli yang murah aja!” aku masih dongkol, tapi tak ada yang menjawab kecuali lemparan coklat yang lagi, lagi, dan lagi memburu seisi sekret dengan senang hati.
            “Semua terlihat begitu indah, tanpa kusangka hal yang mengejutkan itu tiba. Itu adalah hal paling indah bagiku. Thanks for all. Semoga kebahagiaan selalu menaungi hari-hariku dan hari-hari kita semua, amin…”
            Kulirik wajah Ketua setelah ia menuliskan status itu di FB-nya. Kebahagiaan tergambar jelas di sana. Lalu kebahagiaan itu pula yang mendadak membuatku ikut bahagia.
            “Oke, aku ikhlasin kuenya!”
-End-*

(Sepenggal Kisah dari buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka)

Sweet Memories: Ulang Tahun Ketua


 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal