Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash Fiction. Show all posts

Friday, 5 July 2013

Bayang Bayang Haram

0 comments
Bukit Siguntang, gambar dari sini
Kulangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang dipenuhi daun-daun kering. Siguntang tak begitu ramai hari ini. Hanya ada beberapa muda-mudi yang tengah bercengkrama di beberapa titik rindang. Ada yang bersama kekasih, ada pula yang menggerombol bersama teman-temannya.

Kujinjing gitar dengan langkah hati-hati, memilih target yang akan kuhibur dengan petikan gitar diiringi suara sumbang Roni. Ya, aku tak pernah sendirian sejak bertemu anak itu lima bulan yang lalu. Di mana alunan gitarku, di situ juga pasti terdengar suaranya, mengalun pilu.

Roni memang tak seharusnya berada di sini. Ia tak punya bakat untuk menggembel sepertiku. Tubuhnya tinggi semampai. Rambut, wajah, dan gigi-giginya bersih. Waktu pertama kali kami bertemu, pakaian yang ia kenakan juga masih terlihat rapi. Saat kupetik gitar menghiburnya, Roni malah menangis menjadi-jadi. Butuh waktu lama hingga akhirnya ia bercerita.

“Aku tak tahu apakah ini keputusan yang benar. Aku hanya berharap bisa hidup dengan benar. Dengan orang yang benar,” ucapnya mengakhiri kata.

Entah malaikat apa yang merasukiku. Aku begitu tersentuh pada penuturan anak tiga belas tahun itu. Ketika ia memohon ikut mengadu nasib bersamaku, aku pun tak kuasa untuk tidak setuju.

“Aku mungkin tak sepenuhnya benar, Roni. Tapi kau bisa pegang janjiku. Aku takkan mengajarimu mencuri, juga takkan pernah memaksamu menjual diri,” janjiku padanya, membuat senyum merekah untuk pertama dan terakhir kalinya.

Ternyata berbuat baik tak semudah mengucapkannya. Malaikat dan setan buru-buru bertukar tempat ketika aku dan Roni mulai saling menggantungkan diri. Kedekatan emosional mungkin diawali oleh kesamaan nasib kami berdua.

Aku dan Roni sama-sama kabur dari rumah, melarikan diri dari orang-orang yang telah membesarkan kami dengan pamrih. Tak ada yang gratis. Dirawat oleh orang yang tak sedarah membuat kami harus membayar budi dengan pergolakan hebat di dalam hati. Jika Roni dipaksa mencuri dan menjual diri, aku dipaksa menggadaikan keyakinan dengan menggantungkan nasib pada ilmu hitam, pada praktek perdukunan.

***

“Ini bulu perindu untuk orang-orang yang ingin terus disayang,” kudengar Mak Nin tengah bercengkrama dengan pelanggannya. Aroma kemenyan, dupa, dan bunga tujuh rupa membuat dadaku sesak, entah mengapa.

“Ambilkan air dan garam!” Mak Nin memaksaku bergerak walaupun ogah-ogahan.

“Air ini dicampur tiap kali suamimu minum, sedangkan di sekeliling rumah, tabur garam ini sebelum fajar menyingsing,” jelasnya seraya menyerahkan sebotol air dan sebungkus garam yang ia serobot dari tanganku.

“Jangan lupa Jumat depan kembali lagi ke sini. Bawa mahar yang sudah Mak sebutkan tadi.” Kalimat pamungkas ini tak henti-hentinya membuat hatiku makin menggerutu.

“Mak tahu kau tak suka. Tapi inilah cara Mak membesarkanmu! Cuma ini cara agar kau bisa makan, bisa punya tempat tinggal dan pakaian!” Mak mencak-mencak saat tamunya telah pamit pulang. Sebagai ganjaran atas hatiku yang sejak tadi menggerutu, ia tak henti mengomel sambil tetap mengayunkan rotan, mendaratkan benda itu di telapak tanganku. Berkali-kali. Makin kencang meskipun aku telah sesenggukan.

“Malam ini jangan keluar kamar. Mak ada tamu!” Akhirnya Mak melemparkan rotannya ke lantai. Tanganku perih bukan main tapi hatiku lebih perih lagi. Aku tak punya pilihan, memang.

Mak Nin dukun beranak yang kini beralih menjadi paranormal gadungan. Ia sering berbohong tentang mahar, mandi kembang, rantai babi, bulu perindu, dan beragam jenis barang mistik lainnya. Ia juga menipu pelanggannya yang haus kekayaan dengan pura-pura melipat gandakan uang. Seperti malam ini.

Aku mengintip praktek Mak Nin dari celah pintu kamarku. Lampu dimatikan sejak tamu itu datang membawa puluhan juta uang. Yang lalu disusun rapi dalam kardus. Menurut Mak Nin, uang itulah yang nanti akan berlipat ganda. Ia mempersilakan tamunya mandi kembang tujuh rupa, kemudian disiapkannya segelas susu yang sudah terlebih dahulu ia seduh dengan obat pencahar.

“Minumlah, ini akan membuatmu lebih kuat. Selama ritual berlangsung, jangan pernah tidur, jangan berteriak, dan jangan buang hajat.” Aku hafal betul kalimat ini.

Malam makin larut ketika Mak Nin mulai komat-kamit. Ia beserta orang kepercayaannya mulai membakar kemenyan dan dupa. Aku mulai merasa sesak. Asap yang kian pekat memenuhi seisi rumah dengan aroma pemakaman. Bulu kudukku berdiri, membuatku tergerak untuk segera menutup pintu kamar. Aku tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.

Kututup telingaku dengan bantal, berharap erangan makhluk jadi-jadian itu tak terdengar. Piring-piring yang mulai pecah bergantian dengan teriakan tertahan dari tamu Mak Nin yang ketakutan. Namun, bisa kutebak puncak ketakutan itu akan berakhir sebentar lagi.

“Stop, Mak!” Suaranya terdengar tak tahan. Lelaki itu cepat-cepat melesat ke WC. Saat itulah Mak Nin dan pesuruhnya beraksi, menukar kardus uang dengan kardus berisi tumpukan koran menyerupai uang. Lampu telah menyala ketika lelaki tadi kudengar kembali melangkah ke ruang ritual. Mak Nin memasang tampang prihatin sekaligus menyesal.

“Kita tadi hampir berhasil kalau saja Adik tidak kebelet buang air dan membatalkan prosesi ritual yang seharusnya suci,” Mak begitu pintar berakting. Lelaki itu percaya begitu saja, ia berjanji akan datang kembali dengan mahar yang lebih banyak. Mak Nin kemudian mengantar sampai pintu keluar. Ia masih memasang wajah pilu sesaat sebelum lelaki itu benar-benar hilang ditelan malam.

Wajah Mak Nin malam itu benar-benar menyulut emosiku. Diam-diam kuambil kardus berisi uang asli milik tamu tadi. Kubawa keluar. Dengan berlagak sebagai Robin Hood, kubagikan saja uang itu pada gelandangan. Aku memutuskan untuk tak pulang. Menggembel bagiku jauh lebih baik daripada mengabdikan diri pada Mak Nin, sekalipun aku berhutang budi. Malam itu adalah malam terindah, malam terbebasnya aku dari pergolakan hati.

Tapi ketika pagi menjelang, aku tersadar bahwa tak ada lagi tempat pulang. Aku harus berebut dengan gembel-gembel lain sekedar untuk mendapatkan makan. Aku bimbang, mendadak bayangan Mak Nin menyusup, membuatku ketakutan. Dan setan begitu cepat menghampiri. Mengajakku berlindung pada Narkoba yang kudapatkan dari preman di kolong jembatan.

***

Roni kerap ikut tersiksa menyaksikan aku terus berhalusinasi di bawah pengaruh obat-obat terlarang. Aku tak bisa lepas dari jerat setan yang selalu membawa Mak Nin dan ritualnya, merasuki hidupku yang kian tak karuan. Tanpa bius Narkoba, aku seakan dikejar-kejar aroma kemenyan.

Pernah dengan sengaja Roni menyembunyikan hasil mengamen kami agar aku tak bisa membeli Putau. Aku mengamuk lantas memukulinya dengan rotan, persis seperti yang dulu Mak Nin lakukan. Pernah pula aku membuat Roni begitu kalut ketika seluruh tubuhku penuh keringat dingin sebesar biji jangung. Mata dan hidungku berair, aku menggeletar, menggigil. Roni berhamburan mencari preman, mengemis barang itu meski sebagai gantinya ia harus ikut mengedarkan.

Ah, Roni. Kau masih terlalu dini untuk mencecap hidup yang begitu keras ini. Jangan pedulikan hidupku lagi. Kehidupanmu jauh lebih berarti. Pergilah, jauhi aku agar setan-setan tak ikut menggerogotimu. Kau masih muda, teman. Masih punya masa depan.

Diam-diam kuambil seutas tali, kugantungkan diri di pohon Mahoni. Aku memutuskan untuk mengakhiri kontrak kehidupan ini. Langit gelap mendung, angin kencang seakan mendukung. Aku menggelepar hebat, terayun-ayun. Sketsa jiwaku terlihat, hingga kemudian lamat-lamat memudar, kelam. Bayang-bayang haram itu menghitam.

***

Saturday, 29 June 2013

Ibuku dan Facebook

2 comments
Hatiku tak henti-henti menggerutu. Dinginnya pagi ternyata tak mampu membekukan emosiku. Aku benar-benar marah pada keadaan. Pada kehidupan yang tak pernah memberikanku keadilan.

Aku kesal pada Ibuku. Setelah sembilan tahun lalu ia membuatku putus sekolah karena tidak mampu, hari ini demi sekolah adikku, ibu tega mengorbankan uang tabungan hasil tetes keringatku sendiri. Padahal uang itu telah kurencanakan untuk membeli HP sore nanti. Ah, Ibu begitu tega merampas kebahagiaan yang baru saja ingin kunikmati.

“Kemarin Ibunya Sisi nge-add, setelah ku-konfirm kulihat-lihat timeline-nya. Kayak anak muda, ih amit-amit,” suara sumbang Tante Tati riuh rendah bersama ibu-ibu lain. Pembicaraan seputar facebook memang lebih mendominasi. Meskipun jejaring sosial baru sudah bermunculan, facebook sepertinya tetap di posisi tertinggi. Ibu-ibu ini amat bersemangat ketika bercerita status si Ini dan si Itu, atau tentang comment si A, si B, juga si C.

Aku membereskan piring kotor, mengelap meja yang terkena tumpahan kecap dan kuah tekwan. Tak habis pikir, bisa-bisanya mereka jorok begitu. Tiap kali mereka bubar, pekerjaanku menjadi lebih banyak. Karena saking asyiknya bercerita, ada saja ibu-ibu yang menumpahkan sesuatu di atas meja.

Tiga bulan terakhir, aku menjadi kenek di warung tekwan Mang Cek. Dengan upah sepuluh ribu perhari, kukumpulkan uang untuk membeli HP yang bisa facebook-an. Walau hanya mampu membeli keluaran Cina, aku sudah begitu bahagia. Toh, selama ini aku memang tak pernah ingin punya apa-apa. Kemiskinan yang diturunkan Ibu membuatku tak berani untuk sekedar bermimpi.

Keinginan ber-facebook juga terlintas karena aku terlalu sering mendengar perbincangan ibu-ibu di warung tekwan ini. Pelanggan Mang Cek rata-rata ibu muda yang tengah menunggu anak-anaknya bersekolah di SD yang berada tepat di seberang warung Mamang. Biasanya mereka datang bergerombol, sesuai geng masing-masing.

Seperti rombongan Tante Tati yang usil mengomentari Ibunya Sisi, ibu-ibu lain pun dengan penuh semangat menggunjing tentang suami sampai urusan remeh-temeh ibu-ibu yang tidak termasuk dalam grupnya. Perang status, comment-comment pedas, dan pamer foto profil semakin membuatku penasaran. Bagaimana rupa facebook sebenarnya? Bagaimana bisa ibu-ibu ini tak seperti Ibuku?

Ibuku tak tahu apa itu facebook. Ia juga tak pernah mau tahu. Ibu hanya tertarik pada Kemplang Bakar dagangannya. Ia menargetkan paling tidak tiap harinya lima bungkus Kemplang isi 22 keping laku terjual. Dengan harga jual sepuluh ribu, ibu bisa memperoleh keuntungan empat ribu rupiah perbungkusnya. Jika lima bungkus Kemplang terjual, maka dua puluh ribu keuntungannya itulah yang kemudian ibu belanjakan untuk keperluan kami.

Ibu selalu bangun lebih pagi dari siapa pun, bahkan sebelum ayam jantan berkokok, ia telah sibuk dengan setumpuk cuciannya. Bukan pakaianku, bukan pakaian kami. Ibu menerima upah mencuci pakaian tetangga guna menambah pendapatan. Untuk tenaga yang ia keluarkan itu, ibu dibayar seratus lima puluh ribu perbulan. Uang itu dipergunakan ibu untuk membayar keperluan sekolah adikku.

Bapak telah pergi ketika aku berumur tujuh tahun. Untuk membesarkan aku dan adikku yang baru lima tahun, ibu pontang-panting bekerja serabutan. Tak ada sanak keluarga. Ibu memang yatim piatu sejak ia memutuskan merantau ke Palembang dan menikah dengan Bapakku yang hanya kuli bangunan.

Meskipun penghasilan Bapak pas-pasan, hari-hari kami tetap penuh kebahagiaan. Ya, walaupun akhirnya masa-masa indah itu harus berakhir tragis. Bapak meninggal karena kecelakaan dalam proyek yang tengah ia kerjakan. Sejak itulah kerasnya hidup mulai kurasakan.

Aku terpaksa putus sekolah demi membantu ibu menjaga adikku sementara ia bekerja sebagai pembantu. Mahalnya kebutuhan pokok, membuat ibu terpaksa harus menyambi berjualan bawang di pasar pagi. Ibu juga pernah mencoba-coba berwirausaha dengan membuka warung pecel di depan gubuk kami, tapi usaha itu tak bertahan lama. Sayur-mayur rebusan yang tak laku hari itu akan basi, padahal modal belum balik sama sekali. Ibu sering nombok. Karena itulah ia akhirnya memilih menjadi tukang cuci.

Foto kemplang pinjam dari sini
Berjualan Kemplang Bakar baru ibu lakoni dua tahun terakhir. Kala itu ia diajak majikannya -tetanggaku yang mengupahkan cuciannya pada ibu- mudik ke OKI. Di sanalah ibu berkenalan dengan Kemplang Bakar. Ibu menggunakan uang pegangannya yang hanya sepuluh ribu untuk membeli Kemplang mentah. Ibu belajar cara memanggang, juga cara membuat tempat arang. Sepulangnya ke Palembang, Ibu langsung mencoba peruntungan.

Kemplang mentah yang Ibu beli dengan harga dua ratus, dijual Ibu dengan harga lima ratus setelah dipanggang. Tetanggaku menyukainya. Sebagai salah satu kuliner khas Palembang, Kemplang seakan menjanjikan secercah peluang.

Tiap harinya, Ibu mulai memanggang setelah cucian ia jemur di halaman. Sebelum itu, ibu akan terlebih dahulu menyiapkan sarapan. Aku dan adikku yang terbiasa bangun selepas azan subuh berkumandang, akan mendapati ibu tengah memanaskan arang.

Karena rumah kami tidak terletak di perkampungan Kemplang Bakar yang terkenal itu, ibu terpaksa harus menjajakan dagangannya ke luar rumah jika ingin lebih laku. Mengharapkan penjualan di kalangan tetangga saja tentu tak akan mencukupi kebutuhan kami. Ibu harus berkelana membawa dagangannya dari perumahan satu ke perumahan lainnya. Sejauh yang kutahu, ibu pernah menempuh perjalanan dari Pasar Satelit Sako sampai ke sekitaran Palembang Square dengan berjalan kaki.

“Tahu nggak kabar terbaru? Si Santi anaknya Bu Roni yang nomor dua itu dibawa kabur oleh kenalan barunya di facebook.” Suara Tante Meri membuyarkan ingatanku akan Ibu. Sambil mengiris model pesanan grup Tante Meri, aku terus mengikuti alur cerita mereka.

“Heran, padahal sudah tahu facebook itu dunia maya, masih ditanggapi juga. Di dunia maya itu kita nggak pernah tahu siapa lawan siapa kawan. Jangan terlalu dipercaya. Kan orangnya nggak kelihatan juga.” Kali ini Tante Linda menggebu-gebu menimpali. Meskipun hanya empat orang, warung Mang Cek terdengar gaduh sekali lantaran ibu-ibu itu kian panas bersahut-sahutan.

Merenungi pembicaraan mereka, membuatku teringat kembali pada Ibu. Kekesalanku yang tadi pagi begitu memuncak, perlahan surut. Begitu egoisnya aku jika demi sesuatu yang semu, rela kukorbankan masa depan adikku. Putus sekolah adalah garis hidupku, tapi tidak untuk Si Bungsu. Ia harus mengenyam pendidikan agar hidupnya kelak lebih baik dari aku dan ibu.

***

Hujan di pangkal malam menambah kecemasanku menantikan ibu yang tak kunjung pulang. Tak biasanya ibu pulang malam begini. Biasanya tak lama setibanya aku dari tempat kerjaku, ibu akan menyusul muncul di ambang pintu. Kami akan membersihkan diri untuk persiapan salat magrib berjamaah. Kebiasaan yang diterapkan Bapak ketika ia masih ada itu tetap kami jaga. Tapi meski azan isya telah terdengar di kejauhan, ibu masih belum juga tiba. Hatiku tak karuan, apalagi mengingat tadi pagi aku sempat ngambek lantaran urung facebook-an.

“Assalamualaikum.” Suara Ibu akhirnya terdengar di balik pintu ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Buru-buru kusambut salam Ibu sambil membukakan pintu. Langsung kuserbu ibu dengan pelukan. Tangisku pecah. Sungguh, saat ini kusadari bagiku memiliki Ibu adalah kebahagiaan yang tak mungkin bisa dikalahkan oleh sekedar facebook-an.


***

Saturday, 8 June 2013

Dua Ballerina

0 comments
Gambar dari sini
Aku merasa ada yang tidak beres. Sejak kuutarakan keinginanku bergabung dengan kelas ballet, Mama mendadak jadi over-protectif. Jam sekolahku selalu dikontrol. Kalau pulang telat sedikit, langsung diinterogasi. Mama juga kerap menelepon wali kelas untuk memastikan keberadaanku. Padahal biasanya mama tak begini. Waktu SMP, aku bebas ikut ekskul apapun. Sastra, PMR, bahkan OSIS. Mama tak pernah mempermasalahkannya. Entah kenapa kali ini larangan mama keras sekali.

“Mungkin karena ballet itu gak populer di sini, Rin.” Alta melontarkan kemungkinan-kemungkinan atas perlakuan mama.

“Bisa jadi. Tapi bukannya itu justru bagus? Seingatku mama paling suka kalo aku mencoba hal-hal baru.” Aku berpikir sejenak. Alta mengernyitkan dahi. Teman sebangkuku ini ikut memutar otak.

“Kalo gitu, mungkin ballet bukan hal baru bagi mamamu. Mungkin ada sesuatu yang pernah terjadi tanpa kamu ketahui.” Aku merenungi ucapan Alta. Bisa jadi memang ada sesuatu yang tidak kuketahui. Selama ini mama cukup terbuka padaku. Kalau ada penolakan pada ide dan keinginanku, mama pasti mengutarakan alasannya dengan jelas. Tapi tidak jika kutanyakan perihal kelas ballet ini. Mama hanya berkata “tidak” tanpa kutahu apa alasannya.

“Terus gimana? Kamu jadi ikutan gak?”

“Tentu. Dari dulu aku pengen banget bisa nari ballet. Aku masuk SMA ini juga karena ada ekskul balletnya. Jadi gak mungkin dong aku nyerah gitu aja?” Alta tersenyum mendengar penuturanku yang begitu menggebu-gebu.

“Jam pulangnya gimana? Mama kamu kan suka nelponin sekolah kalo kamu telat.” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebetulnya sama sekali tidak gatal, lalu mendesah keras nyaris putus asa.

“Nanti kita pikirin lagi,” kataku akhirnya.

***

Alunan musik dari kelas ballet menuntun langkahku menuju ruangan latihan itu. Aku mengintip di balik pintu. Barre dipenuhi siswi yang berlatih posisi berdiri dan melekukkan punggung. Dengan leotard biru menyala, pemandangan itu menggodaku untuk melangkah masuk. Entah mengapa, aku merasa begitu akrab dengan suasana seperti ini.

“Lerina?” Suara Miss Letta menyentakku. Ia tersenyum melihatku terkesima memandangi mereka.

“Ayo masuk!” katanya lagi. Aku mengangguk, lalu melangkah ragu-ragu mendekatinya.

“Kamu gak mau coba?”

“Hari ini belum, Miss. Ada jadwal privat. Sebentar lagi mama pasti jemput,” jawabku. Miss Letta tersenyum, lalu sibuk memasang pointe shoes-nya.

“Kamu harus cepat. Penerimaan anggota baru ditutup akhir minggu ini.” Miss Letta menepuk pundakku, lalu melangkah dengan anggun ke kerumunan anggota ekskul ballet yang telah menunggunya. Aku memandangi mereka lagi. Kali ini dengan perasaan gelisah yang tiba-tiba muncul begitu saja.

“Aku harus ikut, dengan atau pun tanpa izin mama,” tekadku.

Ma, Lerin kerja kelompok di rumah Alta. Nanti pulangnya dianterin.

Kukirim pesan singkat itu pada mama. Setelahnya, dengan mantap kakiku menuju Miss Letta. Aku yakin tak pernah merasa seyakin ini sebelumnya. Aku ingin menjadi ballerina!

***

Aku berjingkat-jingkat, masuk tanpa suara. Aku tahu ini sudah terlalu sore. Suasana di kelas ballet yang begitu menyenangkan, membuat waktu terasa bergulir terlalu cepat. Aku amat menikmati latihan-latihan dari Miss Letta. Dengan chiffon skirt yang ia pinjamkan, aku merasa tubuhku begitu ringan. Seperti telah terbiasa, aku bahkan mampu mengenakan pointe shoes milik salah seorang senior. Padahal, menurut Miss Letta, sebagai pemula seharusnya aku mengenakan ballet shoes yang soft itu.

Aku memutar kenop pintu kamar dengan sangat pelan. Pintu kamar terbuka. Mama duduk di atas tempat tidur, melipat tangan di depan dada sambil menatapku tajam.

“Dari mana saja?” Suara mama menyemburkan amarah. Aku tak mampu menjawab. Tak pernah kulihat mama begitu menyeramkan seperti sekarang ini.

“Mama ke rumah Alta, kamu gak ada.” Tatapan dingin dari mata mata membuat tubuhku bergetar hebat.

“Berapa kali mama bilang, jangan ikut kelas ballet? Kenapa masih ngeyel?” Bentakan mama menggema di dalam kamarku. Sepertinya kali ini ia benar-benar marah.

“Kamu harus merenungkan kesalahanmu!” Mama mencengkram pergelangan tanganku. Ia menyeretku ke arah kamar gelap.

“Renungkan baik-baik!” Mama mendorongku masuk ke kamar hukuman ini. Sesaat kemudian, ia mengunci pintu. Dibiarkannya aku terpekur sendirian. Aku terisak. Kupandangi sekeliling. Gelap dan pengap. Butuh waktu yang cukup lama hingga kemudian mataku bisa melihat isi kamar hukuman yang tak pernah kuidamkan ini. Sejak kecil, jika melakukan kesalahan fatal, mama selalu menghukumku di sini. Tapi itu sudah tak pernah dilakukannya lagi sampai hari ini.

Sebenarnya apa salahku? Apakah menggemari ballet adalah hal yang benar-benar terlarang? Aku tak mengerti jalan pikiran mama.

***

Secercah cahaya mentari masuk dari celah-celah ventilasi. Aku membuka mataku. Sepertinya sudah pagi. Dan mama belum juga membukakan pintu, kejam sekali. Aku tak menyangka, mama benar-benar tega menghukumku seperti ini.

Aku memandang ke arah cahaya. Inilah petunjuknya, pikirku. Cahaya itu membuatku mampu melihat daun jendela. Aku berjalan mendekati jendela itu. Meski beberapa kali kakiku tersandung barang-barang bekas, aku tak peduli. Ya, hanya satu tujuanku kini. Aku akan melarikan diri!

Sedikit bersusah payah, akhirnya aku berhasil mencapai jendela itu. Kucari cara untuk membuka gerendel jendela yang telah berkarat karena lama tak dibuka. Aku berpikir sejenak, lalu melayangkan pandangan ke segala penjuru, berharap ada yang bisa dimanfaatkan untuk mendobrak jendela. Tapi mataku kemudian menangkap kotak besar di bawah meja. Entah mengapa, kakiku tiba-tiba saja sudah melangkah ke sana.

Aku menggapai kotak itu, lalu membersihkan debu-debu di atasnya. Begitu familiar. Itulah alasan yang membuatku tak ragu untuk membuka tutupnya. Ballet shoes berwarna pink, pointe shoes krem, leotard dan chiffon skirt beragam warna pastel, juga ballet stocking berwarna krem, putih, dan pink. Kepalaku mendadak sakit melihat benda-benda itu. Rasa mual dan keringat dingin makin memperburuk keadaanku. Lalu tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap.

***

Kepalaku rasanya mau pecah. Sesuatu terasa ingin keluar, enatah apa dan bagaimana caranya. Aku pun tak tahu sekarang ada di mana karena sekali pun ingin, mataku seakan tak dapat terbuka. Ada gambaran dan suara-suara berisik dalam pikiranku. Aku melihat diriku yang lebih muda berbalut leotard biru dan ballet shoes pink berdiri di barre. Dengan rambut di-bun, keceriaan tercetak jelas di wajahku. Mama berdiri di hadapanku, tersenyum lebar.

“Lerina, jadilah ballerina mungil kebanggaan mama,” bisiknya.

Lalu gambaran itu menghitam, berganti gambaran lain. Kali ini aku yang sedikit lebih dewasa, mengenakan pointe shoes berwarna krem tampak kelelahan sehabis sesi pointe work. Mama ada di sampingku, setelah menyerahkan botol minum, ia memijit punggung kakiku yang memang terasa pegal.

Belum sempat kucerna semua gambaran itu, pemandangan dalam benakku berubah lagi. Aku berdiri di tengah panggung megah. Memegang ujung chiffon skirt, kuberi salam pada tiga juri di hadapanku, lalu bersiap memulai tarian. Namun tiba-tiba teriakan histeris menggema. Sebelum sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, kurasakan sesuatu dari atas sana menghantam tubuhku. Seketika semuanya menjadi gelap.

“Harusnya mereka memastikan lampu panggug itu telah terpasang dengan baik. Aku akan menuntut penyelenggara kejuaraan ini. Bagaimana mungkin mereka bisa begitu ceroboh?” Suara mama terdengar di sela-sela raungan sirene ambulans dan isak tangis orang di sekelilingku. Lalu semua kembali menghitam.

Rasa mual makin menjadi-jadi. Gambar bergerak itu muncul silih berganti, membuat kepalaku serasa ingin meledak. Lalu seberkas sinar memunculkan gambaran baru. Mama membungkuk di hadapanku. Perlahan-lahan gambar itu makin jelas.

“Kamu sudah sadar, Rin?” tanya mama. Aku mengerjapkan mata, benda-benda di sekitarku sudah tampak jelas. Aku yakin betul, kini aku berada di kamarku sendiri. Sesuatu yang tadi terasa ingin keluar dari kepalaku pun, kini sudah tak ada lagi.

“Kamu gak apa-apa kan, nak?” Mama memelukku. Isak tangisnya tumpah.

***

Pagi mendung, dingin, dan hening. Biasanya pagi-pagi begini mama telah siap dengan seragam kerjanya. Sembari menungguku membenahi peralatan sekolah, mama akan menyiapkan sarapan di meja makan. Tapi pagi ini tak kudapati mama di dapur. Ketika kucari ia di ruang tamu dan ruang keluarga, mama pun tak ada di sana.

“Ma?” Aku membuka pintu kamar mama, lalu berjalan menuju tempat tidur. Mataku terbelalak saat melihat sepatu ballet tergeletak di atas lantai. Sepatu itu milik mama ketika ia masih menjadi ballerina. Aku tahu pasti, sepatu kesayangannya itu adalah pemberian terakhir dari papa.

Aku tertegun memandangi sepatu itu. Seketika, kesejukan menjalari hatiku. Dari kaca jendela kamar mama, kulihat di luar sana hujan tumpah. Tetesan air yang jatuh di kolam membuat bunga teratai bergoyang-goyang, menari dalam hujan yang kian deras.

“Kamu mau menari, Rin?” Tiba-tiba mama muncul di belakangku. Ia mengenakan leotard pink dan stocking dengan warna senada. Di tangan mama, kulihat ada leotard biru milikku. Airmata tiba-tiba turun dari pelupuk mataku. Aku bahagia ketika mama menggenggam tanganku dengan erat.

“Kamu masih mau jadi ballerina seperti mama, kan sayang?” Aku mengangguk, tersenyum. Kuraih leotard dan pointe shoes-ku. Mama juga mengenakan miliknya. Di luar, teratai masih menari-nari dalam iringan hujan. Di sini, ada aku dan mama, menari sebagai dua ballerina. 
***

Friday, 7 June 2013

Janji Sang Bayu

0 comments
Aku menunggumu, seperti biasa. Seperti saat-saat dulu, semasa kita bersama. Ketika angin berhembus menggoyangkan dedaunan di pohon-pohon Jarak. Ketika air pasang di bawah jembatan tempat kita berdiri, tegak. Ketika tanganmu dengan lincah menggerakkan nilon ke kiri dan kanan. Ketika itulah aku akan tersenyum memandangimu dan memandangi layang-layang, bergantian. Langit biru menjadi saksi bisu, betapa aku diam-diam mencintaimu.

“Aku ingin menerbangkan layang-layang sepertimu. Kapan kau akan mengajariku, Bay?”

Kau hanya mengulum senyum tiap kali kulontarkan pertanyaan itu. Sepertinya kau memang tak pernah berniat mengajariku. Entah mengapa.

“Anak perempuan itu main boneka, Nila. Di dalam rumah, bukan di sini. Matahari akan membakar kulitmu. Kalau kulitmu gosong, mana ada lelaki yang mau,” jawabmu jika aku benar-benar memaksa ingin tahu. Kau akan terkekeh melihatku yang bersungut-sungut lantaran mendengar jawaban yang menurutku sangat tidak masuk akal itu.

“Lalu mengapa kau tak pernah mengusirku pulang?”

Aku memang tak pernah ingin menyerah demi menyelami perasaanmu, meskipun aku tahu kau hanya akan menghadiahiku sebongkah senyum lagi sebagai jawaban atas pertanyaan yang selalu sama, nyaris kulontarkan setiap hari.

Tapi tetap saja, tak pernah kudapati jawaban dari bibirmu. Sampai sore. Pun ketika langit mulai jingga, ketika burung-burung mencari jalan pulang, ketika kau mengemasi nilon dan layang-layang sebelum toa masjid mengumandangkan panggilan Maghrib. Ketika itulah aku pun mengemasi cintaku. Kusimpan rapat-rapat dalam hati yang telah penuh sesak olehmu.

***

“Nila….”

Lalu sore itu kau memanggilku dengan nada yang tak biasa. Tak ada layang-layang. Tak ada nilon yang biasa kau pegang. Entah mengapa tiba-tiba kurasakan udara di sekitar kita mengering, menimbulkan perasaan aneh yang membuatku mendadak takut. Takut kehilanganmu.

“Ayuk Ya menguliahkanku di Palembang. Minggu depan aku berangkat.”

Kudengar suaramu menggeletar saat kau ucapkan kalimat itu. Sepotong kalimat yang seketika menghancurkan hatiku.

Tak ada yang mampu kukatakan, kulihat kau pun begitu. Sampai mentari tenggelam sebelum azan Maghrib berkumandang, kita masih saja terdiam. Kau dan aku membisu, memandangi layang-layang lain yang mendarat satu per satu.

“Tunggu aku, Nila. Setamatnya kuliah, aku akan mencarimu,” ucapmu lirih. Kau mengangkat kelingking kananmu tinggi-tinggi di hadapanku.

Aku tak mampu berkata sepatah kata pun karena perasaan yang bergejolak di dadaku rasanya begitu menyesakkan. Hingga bila kulontarkan kata, aku takut akan ada air mata yang turun mengaliri kedua belah pipiku. Dan aku tak mau kau melihat itu.

Aku hanya bisa memaksakan senyum, mengangguk dengan kuat seraya mengaitkan kelingkingku pada kelingkingmu.

“Sampai kapan pun, aku akan menunggumu,” batinku.

Kita menikmati jari kelingking yang masih saja bertautan, cukup lama. Hingga kemudian Maghrib memanggil kita untuk pulang.

***

Setelah kepergianmu ke kota, tiap sore masih kulewati seperti biasa. Menikmati angin sepoi yang memain-mainkan rambut ikalku. Dari atas jembatan, kulihat air pun beriak karena angin yang tadinya sepoi, kadang mendadak berubah kencang. Dedaunan bergesekan, seolah menyenandungkan rinduku padamu yang kian hari kurasa kian berloncatan, keluar dari hatiku yang makin penuh sesak olehmu. Kuharap, angin yang kurasakan ini bisa membawanya sampai kepadamu.

“Nila, ayo pulang!”

Angin tiba-tiba saja mengering ketika Ayuk Ya lagi-lagi memergokiku di sini. Kakak perempuanmu itu entah mengapa selalu saja memandangku iba. Ia akan memasang tampang memelas, memintaku meninggalkan jembatan ini, melarangku menunggumu lagi.

Dan aku selalu menjadi tak tega jika ia sudah begitu. Aku akan pulang bersamanya sambil berjanji dalam hati bahwa besok aku akan kembali lagi, menunggumu di sini.

***

Lantunan Tahlil terdengar begitu nyaring dari sini. Rumah kita yang hanya dipisahkan oleh pohon rambutan, membuat ayat-ayat dari rumahmu itu menyusup masuk ke rumahku. Anehnya, aku merasa dadaku begitu sesak karena itu. Pipiku menjadi hangat, kemudian disusul mataku yang mulai berair. Cepat-cepat kuseka sebelum ada yang melihat.

Aku tak tahu perasaan apa yang tengah melandaku. Kurasakan emosiku mendadak meledak saat kudengar tetangga yang melintasi rumahku menuju rumahmu berbisik-bisik menyebut nama kita. Lalu ketika mata kami bertumbukan, mereka langsung menundukkan kepala sambil mempercepat langkah kakinya menuju rumahmu.

***

Dan sore berikutnya aku kembali lagi. Menunggumu di jembatan tempat kita biasa menerbangkan layang-layang, berdua. Kuingat-ingat saat terakhir kalinya kita bersama. Hari itu adalah hari kepergianmu dari kampung halaman kita.

“Aku ingin jujur,” katamu tiba-tiba. Jantungku berdegub kencang karenanya.

“Aku tak ingin kau menerbangkan layang-layang karena aku senang melirikmu dari sudut mataku. Aku senang melihatmu memperhatikanku, Nila. Karena itu pula aku tak pernah mengusirmu.”

Kau menarik nafas dalam-dalam, kemudian melanjutkan, “Kupikir, kalau kulitmu gosong karena menungguiku main layang-layang, itu akan bagus untukku. Bukankah dengan begitu aku akan jadi satu-satunya lelaki yang menyukaimu?” Kau terkekeh. Semudah itu kau utarakan panjang lebar tentang perasaanmu. Sementara aku mematung, menata hatiku yang makin tak karuan karenamu.

“Nila, tunggu aku. Aku akan kembali untukmu.”

Lirih suaramu terdengar lagi. Mataku nanar, cairan bening perlahan turun tak terbendung.

Kau tahu, Bayu? Aku tak peduli meski semua orang bilang bahwa kepergianmu ke Palembang telah memisahkan kita untuk selamanya. Aku tak peduli meski mereka tak suka melihatku setia menungguimu setiap hari. Aku tak peduli, Bayu. Yang kutahu, di sini kau berjanji bahwa kau akan kembali, mencariku.

“Nila, berhentilah menyiksa dirimu sendiri! Sudah empat puluh hari, kau harus bisa mengikhlaskan kepergiannya!”

Ayuk Ya muncul lagi, mengubah suasana hatiku yang tadinya teduh, menjadi kering kembali.

“Kau harus bisa terima kenyataan, Nila. Kecelakaan kereta waktu itu telah mengambil Bayu, pergi selamanya dari kita!”

Kudengar isak tangis Ayuk Ya di sela suara sumbangnya tentangmu. Aku tak peduli. Aku tak mau percaya pada apa yang diutarakannya.

Yang kupercaya hanya satu, Bayu.

Janjimu.

Dan janji itulah yang setiap hari membuatku berdiri di sini, menunggumu seperti biasa. Seperti saat-saat dulu, semasa kita bersama. Ketika angin berhembus menggoyangkan dedaunan di pohon-pohon Jarak. Ketika air pasang di bawah jembatan tempat kita berdiri, tegak. Ketika tanganmu dengan lincah menggerakkan nilon ke kiri dan kanan. Ketika itulah sesungguhnya aku ingin mengatakan, “Aku mencintaimu, Bayu!”

*** 
Diterbitkan sebagai penulis tamu dalam buku
Sensei Cenat-Cenit, 27 Aksara 2013

Buku solo Chika Chan

Monday, 7 January 2013

Jingga

0 comments

Antologi di Pustaka Inspirasiku
Maret 2012


Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini…

Hujan masih menari-nari. Menyelimuti Jingga dalam sunyi. Menanti Alam membawakan sepotong roti.

Menanti, seperti pelangi setia menunggu hujan reda…

Ini adalah hari keempat sejak pertemuan mereka yang terakhir kali. Waktu itu Jingga menggigil dalam hujan yang mengguyuri pasar dini hari. Air matanya meleleh tanpa henti, mengaliri kedua belah pipi yang nyaris tak pernah dicuci.
Jingga demam tinggi, Alam hanya bisa menyelimutinya dengan kardus bekas yang ia ambil dari tong sampah di pinggir warung nasi.
“Aku hanya punya remah-remah roti untuk kau makan hari ini.” Alam berkata lirih. Wajah Jingga begitu pucat, dingin angin menusuk-nusuk tubuhnya yang kian bergeletar menahan lapar.
“Setidaknya kau harus bertahan sampai pagi nanti. Aku tahu kau kuat, Jingga. Berjanjilah, kau bisa bertahan dan tidak akan mati kelaparan! Bertahanlah sampai hujan reda, besok kita akan melihat pelangi bersama.” Alam meracau tak karuan. Ia merasakan pipinya mulai memanas, air mata luruh perlahan.
“Aku akan membelikanmu roti, Jingga. Asalkan kau diam di sini sampai POL PP pergi!” Alam membisikkan janji di telinga Jingga, membenarkan letak kardus yang menyelimuti gadis kecil itu, kemudian bergegas pergi.
Kegelisahan mengepung Alam sendirian. Penyesalan menggerogoti hatinya yang kian terluka melihat kondisi Jingga. Semua karena kesalahannya.
Alam dan Jingga dibesarkan bersama di Panti Asuhan Pelangi. Mereka dititipkan di sana sejak bayi. Meski tak bertalian darah, mereka hidup layaknya saudara sejati. Sampai kemudian Jingga dilirik sepasang suami istri untuk diadopsi, Alam tak bisa menerima adik seperjuangannya itu pergi. Diam-diam ia menyusun strategi untuk membawa Jingga lari dari panti sehari sebelum pasangan itu menjemput Jingga sebagai anak angkatnya.
Awalnya semua baik-baik saja. Alam dan Jingga merasakan kebebasan yang selama ini mereka inginkan. Tak ada aturan, tak ada ibu dan bapak pemilik panti yang biasanya membatasi ruang gerak mereka. Tak ada hapalan, seperti yang biasa dijejalkan tiap malam, juga tak ada paksaan untuk menyambut tamu panti yang datang memberikan sumbangan.
Mereka tinggal dimana saja, tak mandi kecuali katika hujan, juga menghabiskan sisa celengan untuk membeli makanan, tapi mereka menikmatinya.
Semua menjadi sulit ketika persediaan uang perlahan habis. Untuk tetap makan, Alam terpaksa mengemis atau mengais sampah. Sedangkan Jingga hanya bisa mengekor kemana pun Alam pergi.

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka…

Hujan belum mau berhenti. Sejak Alam terjaring razia POL PP empat hari lalu, Jingga tak makan sedikitpun, ia diusir kesana kemari, hingga menggelandang di pinggir pertokoan. Menggigil, Jingga menanti Alam kembali, membawakannya sepotong roti seperti yang ia janjikan.
“Jingga, bangun! Hujan sudah berhenti!” Suara Alam terdengar sayup-sayup. Jingga ingin membuka mata, ingin melihat Alam secepatnya. Namun mata itu seolah tak mau terbuka.

Sampai hujan memulihkan luka…

“Jingga, lihat! Di langit ada pelangi, ada kamu, Jingga! Aku juga sudah bawa roti sesuai janjiku. Kita pergi dari sini, Jingga!” Suara Alam terdengar panik. Ia mengguncang-guncang tubuh Jingga yang terbujur lemah.
Sekuat tenaga Jingga terus mencoba membuka mata, melawan sakit yang kian menjadi-jadi. Sekali ini saja, Jinggaingin melihat pelangi, melihat Alam membawakannya roti. Sekali ini saja, sebelum Jingga mengabadi dalam tujuh warna pelangi. Sebelum ia mati.

*lirik lagu Efek Rumah Kaca, Desember

*Diterbitkan dalam buku Rembulan Singgah sesaat, Leutika Prio 2012

Judul: Rembulan Singgah Sesaat

ISBN: 978-602-225-526-0
Terbit: Oktober 2012
Halaman : 218, BW : 219, Warna : 0
Harga: Rp. 45.000,00

Deskripsi:
Rembulan Singgah Sesaat, menepis keraguan yang selama ini bergelayut di hati Suhadi. Laki-laki itu dengan setia menanti mantan istrinya yang pergi bekerja menjadi TKW di luar negeri. Setelah menceraikannya, tepat pada hari keberangkatannya, Suhadi berharap bisa kembali rujuk saat Warsih, mantan istrinya pulang dua tahun kemudian.

Setiap malam dipandangnya langit pekat. Berharap rembulan akan singgah di atas Kampung Sukadamai. Singgah di hatinya yang diliputi rasa rindu tiada tara. Ia sangat berharap Warsih akan kembali ke pangkuannya sebagaimana rembulan selalu setia bertengger di cakrawala malam. Sekelam apapun. Tetapi, akankah nasib berpihak kepadanya. Akankah perempuan berwajah rembulan itu kembali singgah di hati Suhadi untuk selamanya? Ataukah Tuhan memiliki rencana lain, yang sama sekali tak pernah diduganya? Sebuah novelet indah karya Kamiluddin Azis, yang akan mempermainkan perasaan Anda saat dan setelah membacanya.

Dalam buku ini juga terdapat serangkaian kisah singkat dan puisi-puisi indah yang disajikan dengan begitu memesona. Kisah penuh makna yang digali dengan sepenuh hati ini dirangkai oleh penulis-penulis yang tergabung dalam grup Pustaka Inspirasi-ku, yakni : Kamiluddin Azis ~ Wirasatriaji ~ Iruka Danishwara W ~ Gagak Sandoro ~ Petra Shandi ~ Poery Permata ~ Roma DP ~ Annisa Ramadona ~ Nimas Kinanthi ~ Vinny Erika Putri ~ Fitria Handayani Meilana Sari ~ Remunggai M ~ Asep Fauzi Sastra ~ Ali Bachtiar ~ Emma Marlinah ~ Harry Gunawan ~ Muhammad Dede Firman ~ Ken A. Rion ~ Fanny YS ~ Prast Respati Zenar ~ Arini Riesha Septiana ~ Eleazar Latif ~ Aliyah Maulidah ~ Atika Nur Sabrina ~ Vysel Arina ~ Elsa Aprilia ~ Junita Susanti ~ Ayesha Syarif ~ Marlyn Christ ~ Rivyana Intan Prabawati ~ Septiani Ananda Putri ~ Aldy Istanzia Wiguna

Selamanya Cinta

0 comments

Antologi di Antologi Es Campur

Juni 2012

di kala hati resah
seribu ragu datang memaksaku


Seperti biasa, diam-diam kuresapi petikan gitarnya dari halaman rumahku. Aku tak tahu persis siapa nama pemuda itu, bagaimana perangai serta kesehariannya, bahkan wajahnya pun hanya mampu kuterka dari suara indah yang mengalun mengiringi sebuah lagu, lagu yang begitu mewakili perasaanku.

rindu semakin menyerang
kalaulah aku dapat membaca pikiranmu
dengan sayap pengharapanmu
ingin terbang jauh


Entah sejak kapan rindu terasa begitu menggebu. Yang kutahu, nyanyian gitar tiap sore itu mendendangkan semangat dalam kehampaan hidupku. Aku merindukan kehadirannya dalam persembunyianku. Meskipun sebenarnya aku tak pernah tahu bagaimana pendapatnya terhadapku. Bagaimana ia melihatku yang tak pernah bisa melihatnya.

biar awanpun gelisah
daun-daun jatuh berguguran
namun cintamu kasih terbit laksana bintang
yang bersinar cerah menerangi jiwaku


Aku terlahir sebagai penyandang tuna netra. Tak ada warna dalam duniaku, semua hanya hitam, kelam. Tak ada hal yang bisa membuatku benar-benar bahagia, atau sebaliknya, aku tak pernah merasakan sedih yang menyiksa. Karena kehampaan menyelimutiku sejak aku dilahirkan.

Kujalani hari-hari biasa, sampai pemuda itu hadir dengan petikan gitarnya. Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tak biasa yang datangnya dari sini, dari dalam hati. Getaran itu kian terasa dari hari ke hari, tiap kali ia meracuni otakku dengan lagu indah itu. Aku menjadi lebih bersemangat ketika terjaga di pagi buta, karena aku tahu ketika senja suara itu akan membuatku bahagia. Aku tak tahu ini apa namanya, mungkinkah ini yang dinamakan cinta?

andaikan ku dapat mengungkapkan
perasaanku hingga membuat kau percaya
akan kuberikan seutuhnya
rasa cintaku selamanya…
selamanya… 


Makin lama kurasa cinta ini makin menyiksa. Ia membuatku terpenjara dalam ketidak berdayaan perasaanku padanya. Kerap kali kurasakan rindu menyayat hatiku yang tak pernah bisa mengungkapkan betapa aku mencintainya.

Hingga sore itu tiba. Aku begitu penasaran menunggunya yang tak kunjung datang. Tak ada petikan gitar, tak ada lantunan suara merdunya. Aku menunggunya hingga senja mulai tenggelam, berharap ia kembali mengisi semangat jiwaku agar mampu bertahan dalam kerasnya kehidupan.

Aku memberanikan diri mendekati kontrakkannya. Dengan susah payah, akhirnya aku bisa melewati rimbun halaman rumah itu. Sepertinya cintalah yang menuntunku ke sana.

Namun tiba-tiba, kudengar langkah kaki datang. Aku bingung, takut kalau-kalau ia memergoki cintaku yang kian membuncah. Buru-buru kucari tempat bersembunyi. Beberapa kali kakiku tersandung, jatuh menyentuh rumput di halaman itu. Aku juga tak peduli ketika tubuhku menabrak pohon-pohon rindang. Yang aku inginkan sekarang hanyalah menghilang.

andaikan ku dapat mengungkapkan
perasaanku hingga membuat kau percaya
akan kuberikan seutuhnya
rasa cintaku
rasa cinta yang tulus dari dasar
lubuk hatiku


Entah kemana larinya keberanian dari cinta yang menuntunku kemari. Kini aku terkulai lemas. Merasakan kebutaanku memenjara cinta yang tadi begitu berkobar. Aku terkungkung dalam ruang hitam, di mana cintaku tak dapat bergerak keluar. Tak dapat samapi pada muaranya. Di sana, di hatinya.

“Aluna?!” Aku merasa tubuhku bergetar hebat ketika ia menyebut namaku. Kurasakan tangan lembutnya membimbingku berdiri, mengeluarkanku dari kelamnya penjara cinta ini.

Tuhan, jalinkanlah cinta
bersama selamanya…


Aku ragu ketika ia menuntunku perlahan. Tapi genggaman tangannya seolah memberiku kepercayaan. Sekali ini saja, aku ingin percaya pada cinta yang kurasakan.

Ia memetik gitarnya, kurasakan aliran cinta kembali memompa semangatku untuk ikut memuntahkan semua rasa yang kupendam sejak lama, sejak cinta itu hadir dan menyapa.

andaikan ku dapat mengungkapkan
perasaanku hingga membuat kau percaya
akan kuberikan seutuhnya
rasa cintaku selamanya…
selamanya…


*Diterbitkan dalam buku Warna Warni Cinta, Ae Publishing 2012

Judul : Warna-Warni Cinta
Penulis : Anisa Ae, Radindra Rahman, dkk
Jumlah Halaman : vi + 162 hlmn
ISBN : 978-602-7748-04-0
Harga : 42.000 (belum ongkir)

CARA PEMESANAN :
Ketik: WWC # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 085732631400
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.

“Ngelamunin apa sih, Bro? Oh, gue tahu, lu lagi ngamatin Cleo, ‘kan? Bener, ‘kan?” tanya temannya sok tahu.
Bujang menganggukkan kepala.
“Gimana caranya ya, nakhlukin hati Cleo? Kok rasanya rintangan makin menanjak. Apa emang gue gak berjodoh sama Cleo?”
“Bahasa lu kayak pujangga aja, Bro. Gue kasih tahu ya, Bro, memikat hati cewek itu ada tekniknya, bukan cuma ngayal doang!”
“Lu tahu tekniknya? Apa-apa? Kasih tahu gue dong!”
Semilir angin seketika menyapa Bujang. Menyibak rambut cepaknya seperti adegan-adegan menegangkan di televisi, seperti mendapatkan sesuatu yang akan mengubah hidupnya. Ya, teknik yang diberikan oleh temannya sudah membawa angin segar tersendiri bagi Bujang. Ibarat kata, seperti membakar semangat hidup Bujang.

Apa sih teknik yang diberikan temannya kepada Bujang? Apakah Bujang bisa mendapatkan hati Cleo? Simak semuanya hanya di buku ini. Tidak hanya kisah cinta Bujang, tapi juga memuat kisah cinta yang lain. Cinta yang berwarna.

Saturday, 1 December 2012

*SEMUA TENTANG DILARANG STOP!*

0 comments
Flash Fiction
"DILARANG STOP!"
Oleh: Annisa Ramadona dan Dian Lesmana Putra

Bapak tergeletak di lantai. Tubuh rentanya bersimbah darah. Ia bukan di kamar tidurnya, entah bagaimana bajingan-bajingan itu menyeret Bapak sampai ke kamar kosong yang tak pernah kami gunakan. Entah ke mana larinya hati nurani mereka. Tega-teganya menghabisi Bapak yang tengah berjuang melawan penyakitnya.

Masih kuingat pagi sebelum kejadian itu. Keadaan Bapak jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setelah sekian lama ia menghabiskan waktu dengan lebih banyak terbaring tanpa daya di ranjang tuanya yang kerap berderit ketika aku ikut duduk untuk menyuapinya makan. Pagi itu ia terlihat sehat, namun matanya yang nanar seolah mengisyaratkan kematian.

“Semua ini Allah yang mengatur, Krom. Kapan kita sehat, kapan kita sakit, dan kapan kita mati,” ucapnya lirih, kemudian menatapku dalam-dalam. Kasih sayangnya makin kental terasa saat kucium tangan keriput yang dulu gagah mencari nafkah.

Sepanjang siang di lampu merah kulewati dengan perasaan tak tenang. Kata-kata Bapak terus teringang. Raut wajah Bapak terus membayang. Hatiku gusar bukan kepalang. Kubiarkan saja sisa koran terhempas ke jalanan. Yang kuinginkan hanya pulang.

Dan kenyataan pahit itulah yang terpampang di hadapanku. Menurut penuturan Mas Tarjo, pedagang rokok di depan rumah sekaligus saksi mata kebiadaban itu, Bapak menjadi pelampiasan amukan preman pesuruh Heru. Bandar narkoba itu mengutus anak buahnya untuk menagih utang pada Dirga. Sahabat yang kutampung beberapa hari lalu.

Ini adalah kali pertama aku menyesali takdir hidupku. Aku menyesal karena bertemu Dirga saat ia mengamen di lampu merah tempo hari. Aku menyesal karena menanyakan kabar dan tempat tinggalnya. Aku menyesal menawarkan ia tempat berteduh yang sama, seatap dengan aku dan Bapak. Dan yang paling kusesali adalah kepercayaanku menitipkan Bapak kepadanya. Yang kini membuat Bapak tak bernyawa, sedangkan Dirga menghilang entah ke mana.

“Krom… Please. Tidak ada gunanya hidup pesimis, kamu harus bangkit!” Adin berusaha menyemangati ketika kuceritakan apa yang terjadi. Kuutarakan semua yang kurasakan. Kukatakan bahwa aku tak ingin lagi melanjutkan kehidupan.

Lampu merah di Jalan Merdeka beberapa bulan yang lalu mempertemukanku dengan Adin. Pandangannya menerawang jauh. Ia mengendarai motor mewahnya seakan tanpa arah. Aku jelas bisa melihat beban berat yang tengah dipikulnya.

“Orangtuaku broken home. Sejak itu aku jadi malas kuliah, bahkan sempat terpikir untuk pergi dari rumah, Krom,” ucapnya tanpa semangat sama sekali. Walaupun baru bertemu, entah mengapa begitu cepat kami merasa dekat. Mungkin karena Adin tak mempermasalahkan perbedaan miskin dan kaya yang begitu nyata terlihat di antara kami berdua.

Dengan penuh rasa optimis, kuminta Adin meneruskan hidupnya. Sebagai orang kaya, ia memiliki modal untuk meraih cita-cita. Masa depan yang cerah sudah menantinya asalkan ia tak berhenti melangkah hanya karena orangtuanya berpisah.

“Daripada mengingat masalah-masalah yang tak ada habisnya, lebih baik sekarang kamu gunakan modal yang ada untuk masa depanmu yang lebih baik,” nasehatku padanya kala itu. Dan kini ia membalik nasehat itu padaku.

“Kamu tahu, Krom? Dulu aku begitu pesimis. Tapi sejak aku bertemu seorang penjual koran di lampu merah, ia mengajarkanku untuk terus optimis. Ia memotivasiku untuk maju. Penjual koran bernama Ikrom itu mampu merubahku 180 derajat. Dan kini aku berharap kamu pun bisa optimis serta menanggapi musibah ini dengan positif, seperti kata-katamu dulu.”

Kalimat demi kalimat Adin menusuk hatiku. Kata-kata itu membangunkanku dari kesedihan berkepanjangan atas kematian Bapak serta meredam dendam pada Dirga. Aku tiba-tiba merasa malu karena sempat menyesali takdir Tuhan.

Bapak, aku telah memutuskan untuk terus melangkah. Aku yakin Tuhan punya rencana lain di ujung jalan itu. Aku tidak akan bisa melupakan perihnya kehilanganmu. Tapi aku tak mau diam meratapi kesedihan. Aku akan bergerak, menorehkan prestasi yang membanggakan. Akan kuganti sakitmu dengan senyuman.

(Dilarang Stop! November 2012, Penerbit: 27 Aksara)

Film Indie KOMASIP-Dilarang STOP!



Kru dan Artis Dilarang Stop!
Penghuni kampus STISIPOL Candradimuka tentu saja tak asing lagi ketika mendengar "DILARANG STOP!". Film indie garapan KOMASIP (Komunitas Mahasiswa Seni dan Ilmu Pengetahuan) ini memang telah beberapa kali diputar dalam beragam kesempatan, meskipun sebenarnya yang tengah beredar saat ini baru sekedar versi trailer-nya saja.

Tahun 2010, Dian Lesmana Putra yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua KOMASIP membawa plot Dilarang Stop! ke hadapanku. Dengan antusias ia membeberkan keinginannya untuk kembali menggarap sebuah film indie (setelah sebelumnya ia dan teman-teman sukses dengan film Pejuang Hati). Melihat semangat yang begitu menggebu itulah akhirnya aku ikut menjerumuskan diri dalam skenario film Dilarang Stop!

Kurang lebih satu minggu lamanya, kami meluangkan waktu untuk berkolaborasi menuangkan ide dan menghentakkan tuts keyboard. Kopi setia menemani Bang Dian, sedangkan aku terkadang tidur di kursi saking tak tahan melawan kantuk. Ya, setiap malam seusai mengantarku dari kampus adalah jadwal rutin merampungkan skenario itu. Kadang pula kami menyisipkan waktu pengerjaannya di sela-sela urusan kuliah dan kerja.

Setelah skenario fix, barulah kami memikirkan judul yang akhirnya jatuh pada DILARANG STOP! Skenario kemudian di bawa untuk dibedah bersama teman-teman KOMASIP lainnya. Untuk casting pemain, Bang Dian menghubungi Kak Harry (Kru TVRI), Mbak Ayi (Kru TVRI), Kak Yuda (Kru Sriwijaya TV), dan Kak Alil (Kru Sriwijaya TV).


Reki dan Kak Fitri diajari oleh Kak Harry dan Kak Alil

Kak Fitri dan Bang Ijal Memerankan Adin dan Lita

Terpilihlah pemeran utama film itu. Reky sebagai Ikrom, Erry sebagai Dirga, dan Inuh sebagai Adin. Hari-hari setelahnya kami lalui dengan latihan demi latihan.

Namun, di tengah keasyikan proses pendalaman karakter itu, terjadilah masalah internal organisasi yang akhirnya memorak-porandakan jadwal yang telah tersusun dengan matang. Film Dilarang Stop! terpaksa mati suri. Mengapa kukatakan mati suri? Karena Aku dan Bang Dian bertekad, DILARANG STOP! tidak akan berhenti sampai di sini.

Setelah tenggelam dalam waktu yang cukup lama, regenerasi anggota akhirnya menggelitik DILARANG STOP! untuk kembali bangkit. Ya, kami kemudian memutuskan untuk membawa skenario itu ke hadapan anggota baru KOMASIP. Melalui casting sederhana, didapatlah Revis sebagai Ikrom, Slamet sebagai Dirga, dan Karta sebagai Adin. Semangat dari anggota baru inilah yang lalu mengibarkan kembali bendera produksi DILARANG STOP! Meskipun dengan pemain, kru, serta perlengkapan seadanya, kami bertekad untuk menggarap film ini dengan sepenuh hati. 

Aku masih ingat, demi film ini PMSB harus tutup jam empat. Aku dan Bang Dian langsung meluncur ke Plaju, ke sebuah rumah panggung yang kami pinjam melalui Revis. Aku, Bang Dian, Revis, Karta, Slamet, Aladin, dan Putra-lah yang men-setting rumah itu hingga menjadi rumah Ikrom. Dengan handycam pinjaman, lighting seadanya (terkadang menggunakan sapu), make up dan wardrobe pribadi, juga kalau terpaksa, kadang piguran kami ambil dari sekitar lokasi. Semua kekurangan itu kami nikmati dengan senang hati.

Rumah Ikrom
Seksi Sibuk
Lightingnya pake gagang sapu ^^
Artisnya merangkap Make Up Artis

Puasa Ramadhan bahkan tidak mengurangi semangat kami dalam menyelesaikan shooting. Di lampu merah Merdeka kami rela berpanas-panas ria untuk take adegan jualan koran dan mengamen. Pengalaman diberi uang setelah menyanyi, dikira Tukang Koran asli, juga diberi Roti oleh pengguna kendaraan roda empat malah makin menyulut semangat kami untuk melawan matahari Ramadhan yang terus menggoda untuk membatalkan puasa.

Shooting di Lampu Merah

Buka Bareng sekalian Shooting Adegan Curhat Ikrom-Adin

Di Benteng Kuto Besak, kami kebut-kebutan take dangan TOA Masjid yang ketika menjelang magrib akan dengan nyaringnya menyuarakan ayat-ayat Alquran. Mengejar waktu berbuka, mogok di jalan, serta kehilangan rombongan juga pernah kami lalui. Semua itu justru mempermanis proses produksi film ini.

Bagiku --bagi kami yang berjerih payah dalam film ini-- "DILARANG STOP!" menempati sebuah posisi penting di hati. Meskipun lagi-lagi masalah internal organisasi memaksa DILARANG STOP! untuk berhenti berproduksi, selalu terlintas keinginan untuk melanjutkan film ini.

Karena itulah kemudian bersama 27 Aksara, film ini dibukukan. Ya, aku dan Bang Dian mengalihkan skenario film ini menjadi sepotong cerita mini. Melalui audisi naskah DILARANG STOP! yang diselenggarakan 27 Aksara, didapatlah 50 cerita yang semuanya bertema DILARANG STOP!

Cover Buku Dilarang STOP!

Jangan Menyerah! Begitulah para penulis buku ini mengisyaratkan pada pembacanya. Begitu banyak keadaan yang terkadang membuat putus asa, menyerah-kalah. Padahal sesungguhnya selalu ada cara untuk bangkit, menyelesaikan masalah.


Jika kita terus berjalan, kita tak akan tenggelam dalam kegelapan. Di ujung jalan pasti ada cahaya yang akan membimbing kita untuk mereguk keberhasilan, mengalahkan keterpurukan. Jangan pesimis, sekeras apa pun kehidupan ini sesungguhnya akan terasa manis jika kita hadapi dengan penuh optimis.

Begitupun aku berharap pada film indie yang tinggal 30 persen lagi penggarapannya ini. Tak ada kata BERHENTI. Suatu saat --meski sekarang aku tak di KOMASIP lagi-- film DILARANG STOP! akan kembali diproduksi. ^^

Bang Dian (Sutradara) & Aku (Astrada) :D

Sinopsis Film
"DILARANG STOP !"

Perjalanan hidup pemuda usia 22 tahun, Ikrom. Ibu sudah meninggal, sedangkan Bapak sakit-sakitan. Ia berasal dari keluarga miskin, namun bercita-cita menjadi wartawan. Ikrom yang selalu optimis, senang memotivasi orang lain. Tapi suatu ketika, ia mendapat musibah yaitu Bapaknya dibunuh oleh segerombolan preman yang salah sangka. Dirga 21 tahun, berteman dengan Heru si Bandar Narkoba yang suka mabuk. Dirga terpengaruh hingga ikut-ikutan memakai narkoba. Saat menumpang tinggal di rumah Ikrom, Dirga yang telah terlilit utang dan menjadi buronan Heru cs ditemukan di sana. Heru cs mengira bahwa Bapak adalah orang yang menyelamatkan dirga dari buron, karenanya langsung mereka habisi. Kejadian itu diketahui oleh ikrom setelah Sang Bapak tidak bernyawa lagi. Sejak itu hidupnya jadi pesimis, namun hal itu tidak berlangsung lama. Setelah bertemu dengan Adin 21 tahun, temannya sendiri, Ikrom curhat pada Adin. Sebagai sahabat, Adin tidak mau melihat Ikrom pesimis. Ia memberi semangat, dukungan dan motivasi agar Ikrom bangkit dari keterpurukan itu. Tanpa permintaan Ikrom, Adin meminta Ikrom agar kuliah demi menggapai cita-citanya. Ikrom tidak bisa menolak tawaran itu. Akhirnya Ikrom benar-benar mencapai cita-citanya tersebut.

Aku dan Ikrom
Pemeran Utama:
  • Ikrom : usia 22 tahun, tinggi 168cm, kulit putih, kalem, lahir dari keluarga miskin, suka memotivasi orang lain, patuh kepada orang tua, bertanggung jawab, murah senyum, bekerja sebagai penjual Koran.
  • Dirga : usia 21 tahun, tinggi 160cm, hitam, muka kriminal, pesimis, bekerja sebagai pengamen.
  • Adin : usia 24 tahun, tinggi 167cm, kulit putih, rambut pendek, pesimis, termotivasi oleh Ikrom, mahasiswa, anak orang kaya.
  • Lita : usia 20 tahun, tinggi 160cm, kulit kuning langsat, adiknya Adin, manja.
  • Bapak : usia 50 tahun, tinggi 160cm, kulit hitam, orangtuanya Ikrom, sakit-sakitan.
 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal