Selasa, 16 Oktober 2012

Sepenggal AKKC



Ulang Tahun Ketua
Oleh: Annisa Ramadona

            Pagi-pagi sekali, sms masuk. Bang Inuh mengingatkan bahwa hari itu Ketua KOMASIP berulang tahun. Ia tengah merencanakan kejutan kecil untuk merayakannya sebelum jadwal bedah film bersama crew TRVI dan Sriwijaya TV dimulai. Masih ada dua belas jam lagi untuk persiapan. Bang Inuh sibuk mengatur rencana dan meng-sms semua anggota.
            “Oke, aku gerakkan semua anggota untuk datang, wajib. Apalagi mengingat jadwal bedah film yang telah direncanakan sejak dua minggu lalu, kurasa rekan-rekan akan datang,” katanya meyakinkanku.
            “Yang jadi masalah sekarang, siapa donatur kue ulang tahunnya? Uang kas pasti digunakan untuk keperluan menyambut tamu TV. Terpaksa kita keluarkan duit sendiri,” sambungnya lagi. Aku mulai mengerti arah pembicaraannya.
            “Duit abang belum cair, Nis. Kalau minta sumbangan sama anggota lain, takutnya barengan datang sama Ketua, tahu sendirilah, jam karet. Nah, gimana kalau pakai uang Anis dulu?”
            Aku tersenyum, kalimat terakhir itu memang telah kuprediksi. Kuingat-ingat lagi sisa uang di kantong celana. Tidak mungkin mencukupi.
            “Oke ya, Nis? Beli kuenya yang besar biar bisa dimakan rame-rame, terus jangan beli di emperan, biasanya kurang enak,” bang Inuh mendesak lagi. Aku tak bisa berkata tidak.
            “Okelah, bang,” sahutku sekenanya.
            Setelah mengakhiri sms pagi itu, aku memutar otak. Kemana harus mencari uang sepagi ini? Honor sebagai fasilitator sebuah provider outbound baru saja kulahap, hanya tersisa untuk jajan sehari ke depan. Tidak mungkin mencukupi jika harus membeli kue ulang tahun besar yang bukan di toko sembarangan.
            Setengah jam mencari ide, akhirnya kuputuskan untuk merayu mama. Aku ingat cerita tentang bonus yang baru saja diterimanya dari dealer motor kemarin sore.
            “Sebagai gantinya, kamu yang beres-beres. Cuma bersihin rumah sama cuci mencuci saja kok, Nis,” mama tersenyum penuh arti. Aku menggangguk setuju.
            Sampai setengah sepuluh pagi, urusan bersih-bersih rumah akhirnya kutuntaskan. Mama memberikan sebagian bonusnya sebagai imbalan. Tanpa membuang-buang waktu, aku pamit ke kampus yang jarak tempuhnya sekitar satu jam jika naik angkot.
            “Bang, ke kampus jam berapa?” aku melayangkan sms pada Ketua, menyelidik gerak-geriknya.
            “Sekitar setengah lima, masih banyak urusan kerja, Nis. Kamu?” Ketua balik bertanya, aku tidak menjawab dengan pasti. Kukatakan saja bahwa aku akan ke kampus jika urusan rumah sudah selesai.
            Aku kemudian mengatur strategi bersama Bang Inuh, Uni, dan Reky di sekretariat KOMASIP. Anggota lain biasanya baru muncul selepas ashar, menjelang waktu perkuliahan kelas reguler akan dimulai.
            “Kita ke PTC, Nis. Di sana ‘kan banyak toko kue bermerk. Kualitas rasanya pasti maknyus,” Uni mengusulkan.
            “Mumpung baru jam satu, kita pergi berempat aja,” Reky menambahi. Aku dan bang Inuh mengangguk sepakat.
            Entah mengapa hari itu kue ulang tahun seolah susuah didapatkan. Setiap toko di area PTC kami mampiri, rata-rata kehabisan stok, kalaupun ada, ukuran kuenya terlalu kecil atau terlalu besar. Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar. Aku dan Uni tetap di dalam, sedangkan Bang Inuh dan Reky ke arah luar.
            “Itu, Nis!” Uni menunjuk ke sebuah atalase di dalam toko kue ternama, setidaknya ada lebih dari tiga cabang toko kue itu di kota Palembang. Aku juga sering menikmatinya kalau sepulang kerja papa sedang berbaik hati membawakan aneka roti merk toko itu. Jadi, aku percaya penampilan dan rasanya pasti istimewa.
            “Pas nih, semua pasti kebagian,” Uni meyakinkan. Setelah menghubungi Bang Inuh ke lokasi untuk minta persetujuan, kue itu akhirnya kami boyong ke kampus.
            Setengah empat sore sebagian anggota sudah berkumpul di sekret. Ada yang sibuk mempersiapkan program bedah film, adapula yang sibuk merancang surprise untuk ketua.
            “Gak seru kalau gak dijahilin, Nis,” Bang Inuh nyeletuk.
            “Iya,kapan lagi kita bisa jahilin ketua kalau gak lagi ulang tahunnya?” Uni menambahi. Aku mengangguk-angguk perlahan.
            Jarum jam telah menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit ketika tergopoh-gopoh Ketua datang sambil menjinjing sebuah cermin besar. Kak Hari dan aku yang sejak tadi sudah mengatur skenario, langsung memasang tampang garang.
            “Jam berapa sekarang, Bung?” nada sinis itu keluar dari bibir Kak Hari sebagai ucapan penyambutan atas kedatangan Ketua yang lumayan terlambat.
            Kak Hari adalah salah satu dari crew TV yang datang karena undangan untuk bedah film. Ia juga merupakan simpatisan pembimbing sekaligus tempat konsultasi Ketua soal urusan film. Sudah pasti, Kak Hari merupakan sosok yang ia segani.
Mengingat Kak Hari nyaris tidak pernah marah-marah seperti ini, Ketua langsung salah tingkah. Buru-buru ia meletakkan cermin yang dengan susah payah ia gotong menuju sekretariat KOMASIP yang letaknya di lantai dua.
“Kalau begini caranya, kita perlu rapat sebentar, sebelum kru lain keburu datang,” Kak Hari memerintahkan semua anggota untuk duduk merapat. Ketua yang belum sempat melepaskan jaket dan tas, terdesak mengikuti intruksi Kak Hari.
“Aku kecewa. Sebagai Ketua, seharusnya kamu komiten dengan waktu. Kamu tahu, berapa lama kamu telat?” Kak Hari menatap tajam pada Ketua yang keringatnya mengucur deras sejak ia datang. Belum sempat Ketua menjawab, Kak Hari telah melontarkan pertanyaan sengit lagi.
“Kamu tahu berapa lama kami menunggu?” nada Kak hari makin meninggi. Ketua baru mau menjawab ketika Kak Hari telah lebih dulu buka suara.
“Kalau gak bisa komitmen, gak usah jadi Ketua!” ucapan Kak Hari yang terakhir membuat Ketua terpancing.
“Sejak awal dipilih sebagai Ketua, sudah kukatakan bahwa aku bekerja. Aku gak mungkin bisa full time bersama rekan-rekan sekalian, tapi aku akan berusaha. Dan hari ini pun, aku sedang berusaha meluangkan waktuku, meskipun sedikit terlambat,” Ketua seakan minta pembelaan. Ia menatap satu per satu anggota, tapi tak satu pun yang membuka suara.
“Kalau rekan-rekan memang sudah tidak bisa menolerir waktuku, aku siap mundur dari jabatan ini,” ucap Ketua akhirnya.
            Bang Inuh memberi kode padaku, ketika Kak Hari mengajukan pertanyaan kepada anggota tentang persetujuan kemunduruan Ketua. Aku tidak fokus lagi dalam ruang yang mulai memanas itu. Ada yang pura-pura membela Ketua, ada pula yang pura-pura menyerangnya. Semua terdengar samar dari balik pintu.
             Bang Inuh meletakkan kue ulang tahun di tanganku, kemudian menyalakan lilin berukir dua puluh dua, usia yang kini diinjak Ketua. Pelan-pelan ia membukakan pintu untukku. Komo bersiap dengan gitarnya.
            “Selamat ulang tahun kami ucapkan...,” lagu itu sontak memenuhi udara. Ketua tampak ternganga.
            “Ampun, aku dikerjain, ya?” Ketua menepuk dahinya. Ia tak bisa lagi berkata-kata ketika semua anggota menyanyikan ‘Selamat Ulang Tahun’ dengan iringan gitar seadanya. Saat lagu hampir berakhir, aku mendekatkan kue ke hadapan Ketua.
            “Tak ada kata lain, kecuali syukur kepada Sang Pencipta. Dengan bertambahnya usia ini, semoga lebih baik lagi dari sebelumnya,” Ketua menggumamkan doa sesaat sebelum meniup lilinnya yang kedua puluh dua.
            Ketua kemudian mulai mengiris kue. Seisi sekret menunggui kue menggiurkan itu. Potongan pertama ia berikan pada Kak Hari, kemudian Bang Inuh dan dan Bang Rizal. Setelah itu baru giliranku dan anggota lainnya.
            Setelah semua kebagian, entah siapa yang memulai, perang kue pun terjadi. Semua memburu ketua dengan kue yang siap menghantam wajahnya. Komo mengoles wajah Ketua dengan paksa, Reky melumuri krim coklat, Bang Inuh dan Bang Rizal kompak melempari tubuh Ketua dengan sisa-sisa kue yang dipegangnya.
            Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika sasaran mulai melebar, kini bukan lagi Ketua, semua anggota yang ‘masih bersih’ harus siap-siap diburu untuk kemudian menerima polesan coklat tanpa bisa mengiba. Balas-membalas, kue ulang tahun itu kini menjadi senjata untuk berbahagia.
            “Buat apa beli kue enak kalau ujung-ujungnya dipake perang-perangan?!” aku histeris, menyadari kue dari toko ternama itu harus berakhir tragis.
            “Lain kali kalau Ketua ulang tahun, kita beli yang murah aja!” aku masih dongkol, tapi tak ada yang menjawab kecuali lemparan coklat yang lagi, lagi, dan lagi memburu seisi sekret dengan senang hati.
            “Semua terlihat begitu indah, tanpa kusangka hal yang mengejutkan itu tiba. Itu adalah hal paling indah bagiku. Thanks for all. Semoga kebahagiaan selalu menaungi hari-hariku dan hari-hari kita semua, amin…”
            Kulirik wajah Ketua setelah ia menuliskan status itu di FB-nya. Kebahagiaan tergambar jelas di sana. Lalu kebahagiaan itu pula yang mendadak membuatku ikut bahagia.
            “Oke, aku ikhlasin kuenya!”
-End-*

(Sepenggal Kisah dari buku Aku, Kamu, Kita, dan Candradimuka)

Sweet Memories: Ulang Tahun Ketua


 

Annisa Ramadona :) Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal